Kunjungan al-Habib Ali bin Abdullah al-Aiydrus (Imam Masjid As-Segaff Tarim, Yaman)

By Ibadurrahman Al Huda

Kunjungan al-Habib Ali bin Abdullah al-Aiydrus (Imam Masjid As-Segaff Tarim, Yaman)

Suasana hari ini (11/09/2018) berbeda dengan biasanya. Pasalnya ketika sholat Dzuhur berjamaah, sekali lagi Pesantren Ilmu al-Quran -bi idznillah- mendapat kunjungan spesial. Beliau adalah al-Habib Ali bin Abdullah al-Aiydrus, selaku imam masjid As-Segaff (salah satu masjid keramat di Tarim karena didirikan langsung oleh Al-Imam Abdurrahman As-Segaff). Selain itu, beliau juga menjadi salah satu diantara tiga orang di Tarim yang Ahli dalam Qiraah Asyroh. Hal itu bisa terbukti dengan adanya kitab Ilmu Qiraat dan beberapa kitab lain yang telah beliau susun.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, maka siang itu beliau diminta untuk menjadi Imam sholat Dzuhur, yang kemudian dilanjutkan dengan Mauidzoh Hasanah di hadapan seluruh santri PIQ Singosari. Berikut ini merupakan ringkasan dari Kalam nasehat beliau yang diterjemahkan langsung oleh Gus Abdullah Murtadlo:

ما اجتمع أربعون من أمتي إلا ومنهم ولي.
“Tidaklah berkumpul 40 orang dari umatku, kecuali di antara mereka ada seorang wali”

Belajar sekaligus menghafal Al-Qur’an adalah sebuah anugerah yang agung, maka haruslah disyukuri dalam bentuk bersungguh-sungguh ketika menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Karena, kedua hal itulah yang akan mendekatkan diri kalian kepada Allah serta Rasul-Nya.

Faedah bagi penghafal al-Quran yaitu bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga bagi orang tuanya ketika di akhirat kelak akan mendapatkan dua kemuliaan berupa mahkota dan pakaian yang nilainya tidak bisa diukur dengan harga bumi dan seisinya.

Sebagaimana dalam nadzom Asy-Syatibi: “Betapa bahagianya dan beruntung orang yang menghafalkan Al-Quran, karena ia akan memberi hadiah kepada orang tuanya di akhirat kelak.”

Kemudian bagaimana balasan untuk si penghafal itu sendiri? Kelak ketika di hari qiyamah ia akan diminta untuk membaca ayat yang dihafal sebagai penentu kedudukan nya di Surga.

Berkata Imam Abdullah Al-Haddad: “Tingkat yang ada di Surga sama dengan jumlah ayat Al-Qur’an.”

Berapakah jumlah ayat dalam Al-Qur’an? Ahli Kufah berkata 6.236 ayat, sedangkan ahli Basrah 6.205 ayat, menurut ahli Makkah ada 6.220 ayat, sedang Ahli Madinah berpendapat ada 6.214 ayat. Wallahu a’lam.

Yang perlu dicari zaman sekarang yaitu ilmu yang mampu membuat hati Nabi senang. Karenanya maka menuntut ilmu itu menjadi lebih baik dari sholat Sunnah 3.000 rakaat, menjenguk 3000 orang sakit dan mengantarkan 3000 jenazah.

Kelak di Mizan akan ditimbang tinta Ulama dan darah Syuhada dan ternyata lebih berat tinta Ulama.

Oleh karena itu, hendaknya kalian senantia menulis dan meringkas apa yang kalian dengar agar menjadi tinta yang ditimbang kelak di Mizan.

Kalian sekarang berada dalam usia emas dalam menuntut ilmu yaitu antara 5-23 tahun untuk menghafal dan belajar. Maka bersungguh-sungguh lah dalam memanfaatkan umur tersebut.

Karena Nabi saw. bersabda: e”Carilah 5 hal sebelum 5: masa muda sebelum tua, hidup sebelum mati, waktu senggang sebelum sibuk, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin.”

بقدر الكد تكتسب المعالي ومن كلب العلى سهر اليالي، ومن طلب العلى بغير كد فإنه طلب المحال.
“Hasil dari sebuah upaya sebanding lurus dengan kerja keras dalam menggapainya. Maka barang siapa yang ingin kemuliaan tanpa ada rintangan, sama dengan halnya ia mencari kemustahilan”

Dan penuntut ilmu serta penghafal Qur’an harus lah mengamalkan apa yang dipelajari, seperti: sholat di awal waktu dalam keadaan berjamaah seraya mendapatkan takbiratul ihram Imam dalam barisan pertama. Juga, dianggap sebuah cacat jika tidak menggunakan siwak yang menjadi ikon para pengikut Sunnah Nabi Saw. Karena dua rakaat dengan siwak lebih baik dari 70 rakaat tanpa siwak.

Selain itu, para santri juga harus senantiasa menjaga sholat Dhuha 2-8 rakaat di pagi hari, dan sholat witir 1-11 rakaat malam harinya, serta menjaga sholat² rawatib yang mengiringi sholat lima waktu.

Juga hendaknya memperhatikan 4 waktu penting setiap harinya, antara lain: 1. Sebelum Maghrib (untuk instrospeksi akan kesalahan hari itu seraya membaca istighfar), 2. Bainal isya’ain (bisa diisi dengan dzikir, membaca Alquran atau sholat sunnah yang pahala nya berupa dua istana yang di antara nya terdapat kebun luas sekira andai seluruh penduduk bumi mengitarinya pastilah akan lebih luas kebun tersebut), 3. Sepertiga malam terakhir (minimal dengan 2 rakaat seraya membaca Alquran), 4. Bada Shubuh sampai terbitnya matahari (ia akan dicatat sama seperti berhaji dan umroh secara sempurna).

Setelah itu, beliau beramah tamah dengan KH. M. Basori Alwi selaku Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran. Di tengah-tengah sejuknya pertemuan antara dua Ahli Qur’an ini, beliau mengajarkan bacaan Qiraat ‘Asyarah pada surat Al-Fatihah kepada Asatidz PIQ.