Maulid Nabi Muhammad SAW PIQ – Ribath Al Murtadho


“Sinar Cahaya Rasulullah Menyinari Singosari: Ribuan Umat Hadiri Maulid Akbar Pesantren Ilmu Al Quran dan Ribath Al-Murtadla”

Pada hari Senin, 16 September 2024, bertempat di Pesantren Ilmu Al Quran dan Ribath Al Murtadho, Singosari, Malang, telah dilaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara yang dimulai pukul 07.30 WIB ini dihadiri oleh ribuan umat Islam dari berbagai daerah.
Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Sebagai penceramah utama yakni Habib Umar bin Sholeh Al Hamid (Lumajang) dan Habib bin Abdullah bin Ahmad Al Haddad (Hauthoh, Yaman) menyampaikan tausiyah yang sangat inspiratif mengenai kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW. Tausiyah beliau mampu menggugah hati para hadirin untuk semakin mencintai dan meneladani Rasulullah SAW.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam acara ini antara lain:
• Pembukaan
Yasin dan Tahlil di Ribath
Arak2an dari ribath ke PIQ
• Sholawat bersama
• Habib Umar bin Sholeh Al Hamid (Lumajang) dan Habib bin Abdullah bin Ahmad Al Haddad (Hauthoh, Yaman)
• Doa
• Penutup
Acara ini berjalan dengan lancar dan sukses berkat kerjasama yang baik dari panitia penyelenggara, para santri, dan seluruh pihak yang terlibat. Semoga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dapat memberikan keberkahan bagi kita semua dan semakin mempererat ukhuwah Islamiyah.
Singosari, 16 September 2024

Dewan Pengajar Pesantren Ilmu Al Quran melakukan Bimtek Digitalisisasi Pesantren bersama tim Sekolaah.id

Pesantren Ilmu Al Quran, lembaga pendidikan agama yang berpengaruh di Singosari Malang, menyambut tonggak penting dalam perjalanannya menuju era digital. Rabu, 24 Juli 2024, menjadi saksi dari momentum bersejarah ini saat pesantren tersebut mencoba memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan teknologi modern melalui Bimbingan Teknis Digitalisasi Pesantren.

Dengan kerja sama yang erat antara Pesantren Ilmu Al Quran dan tim sekolaah.id, acara tersebut menjadi panggung bagi perpaduan antara kearifan lokal pesantren dengan inovasi teknologi informasi. Ruang Kelas SMP Pesantren Ilmu Al Quran menjadi saksi dari pertemuan yang mempertemukan para pengajar Pesantren Ilmu Quran yang bertujuan untuk membekali mereka era digital yang mumpuni.

Acara ini merupakan wujud nyata dari Pesantren Ilmu Al Quran dalam mempersiapkan generasi muda yang tangguh, terampil tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam menghadapi tantangan dunia modern yang semakin maju. Melalui bimbingan teknis digitalisasi ini pesantren membuktikan bahwa mereka bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuannya.

Para pesserta disuguhi dengan sesi-sesi pembelajaran yang intensif, mulai dari pengenalan dasar-dasar teknologi informasi hingga penerapan praktis dalam konteks pendidikan di pesantren. Diskusi, tanya jawab, dan sesi praktik langsung menjadi bagian tak terpisahkan dari acara ini, menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan mendidik.

Kehadiran tim sekolaah.id sebagai mitra dalam acara ini juga memberikan nilai tambah yang signifikan. Dengan pengalaman dan keahlian mereka dalam bidang teknologi pendidikan, tim tersebut menjadi penuntun berharga bagi pesantren dalam merangkul era digital tanpa meninggalkan esensi dari pendidikan keagamaan yang menjadi fokus utama pesantren.

Demikianlah, Bimbingan Teknis Digitalisasi Pesantren di Pesantren Ilmu Al Quran Singosari Malang bukan sekadar acara biasa. Ia adalah simbol dari kesungguhan pesantren dalam menyongsong masa depan yang dipenuhi dengan teknologi, tetapi juga penuh dengan kearifan dan nilai-nilai keilmuan yang telah melanglang buana selama generasi. Pesantren Ilmu Al Quran, dengan langkah ini, menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan beriringan, membentuk fondasi pendidikan yang kokoh dan relevan untuk masa depan yang semakin digital.

“PIQ ini adalah rumah anak-anakku semuannya. Pintu PIQ selalu terbuka bagi para alumni yang ingin kembali”

Ini salah satu dawuh Kiai. Seakan-akan Kiai memanggil kita semua untuk kembali ke pondok tercinta kita PIQ. Tidakkah kita kangen dengan Beliau? Mari luangkan waktu untuk hadir pada acara haul ini sebagai bentuk ta’dzim, tabarruk, dan sam’an wa tha’atan untuk murabbi ruhina Syaikh KHM. Basori Alwi.

Haul guru kita KHM. Basori Alwi ke-4 tahun ini akan dilaksanakan pada hari Kamis, 8 Februari 2024 M / 27 Rajab 1445 H. Haul ini bersifat umum bagi muslimin dan muslimat.

Berikut Run Down acara Haul Singosari Ke-4 yang dirilis oleh panitia :

Pra Acara :

  • Pembinaan Qiroah oleh KH. Abdul Hamid, Surabaya (26 Januari 2024,intern)
  • Festival Olahraga PIQ (FORPIQ), 28 Januari 2024 (intern)
  • Lomba Tahfidz Bil Qolam Se-Malang Raya (28 Januari 2024)
  • Gebyar Sholawat bersama Atbaul Makin PIQ (29 Januari 2024)
  • Drama Sejarah Perjuangan Kiai (30 Januari 2024, intern)
  • Khotmil Quran se-Jawa Timur (1 Februari 2024)
  • Lomba Ulumul Quran (2 Februari 2024, intern)
  • Majlis Quran dan Maulid (MQM) Spesial Haul (3 Februari 2024), umum)
  • Jalan Sehat dan Pawai Haul (4 Februari 2024, intern)
  • Khotmil Quran Nasional (4 Februari 2024, umum)
  • Malam Nostalgia dan Ziarah Keluarga (4 Februari 2024, intern)
  • Bedah Karya Kiai (5 Februari 2024, intern)
  • Olimpiade Madarij Antar Pondok Berafiliasi PIQ (6 Februari 2024)
  • Khotmil Quran bin Nadhor wal Hifdzi (7 Februari 2024, intern)
  • Khotam Shohih Bukhori dan Isra’ Mi’raj (7 Februari 2024, umum)

Acara Inti :

  • Ziarah Kubro dan Maulid (8 Februari 2024 jam 05.00 WIB)
  • Acara Utama Haul Singosari ke-4 (8 Februari 2024 jam 08.00 WIB)

Informasi lebih lanjut bisa menghubungi ketua panitia, Ust Yasin Wasiat : https://wa.me/6281334622700

“Kabeh muridku mugo-mugo dadi ahli surgo kabeh”

Kalam sekaligus doa ini adalah ucapan murabbi ruhina KHM. Basori Alwi saat kondisi beliau sakit menjelang kewafatannya. Begitu sedih tapi bercampur bahagia. Sedih karena kita semua kehilangan beliau. Bahagia karena menjelang kewafatannya, beliau masih ingat murid/santrinya. Bahkan tidak hanya ingat saja, melainkan mendoakan untuk kita semua.

Perlu dicatat bahwa haul guru kita KHM. Basori Alwi ke-3 tahun ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 Februari 2023 M / 27 Rajab 1444 H. Sesuai dengan keputusan keluarga syaikhuna, bahwa haul Kiai ditetapkan pada setiap 27 Rajab (bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW). Dan dinamakan dengan “HAUL SINGOSARI”.

Mari kita hadir pada acara haul ini sebagai bentuk ta’dzim, tabarruk, dan sam’an wa tha’atan untuk murabbi ruhina Syaikh KHM. Basori Alwi.

Informasi lebih lanjut bisa menghubungi ketua panitia, Ust Yasin Wasiat : 081334622700

Inspirasi Jejak Kehidupan Alim Rabbani KHM. Basori Alwi

Oleh: M. Abdullah Charis, M.Pd

Tidak berlebihan kiranya pepatah Arab “Isy Kātiban au Mut Maktūban” menjadi judul tulisan ini untuk mengenang jejak kehidupan seorang pendidik sejati KHM. Basori Alwi. Tulisan ini mengajak pembaca untuk mengenal sisi lain dari seorang ulama produktif dalam dunia literasi. Pengenalan ini diharapkan akan menyadarkan kita bahwa ada cara lain untuk membuat “jejak kehidupan” di muka bumi ini.

Ulama dan Tradisi Menulis

Menulis adalah salah satu cara orang untuk menyampaikan ide-ide pemikiran. Ketokohan dan wawasan seseorang dapat dilihat bukan hanya di saat dia berbicara tapi juga di saat menulis. Bahkan manfaat menulis jauh lebih baik dibandingkan hanya memakai kebiasaan orasi. Kelebihan menulis bukan hanya dapat dibaca oleh orang yang hidup sezaman dengan penulis, tapi juga pasca kewafatan penulis, karya-karya dan ide-ide sang tokoh dapat dikenali dengan membaca hasil karya tangannya. Menulis adalah bagian tradisi ilmiah dan ikonnya para cendekiawan. Dari menulis mereka dapat menyampaikan gagasan dan buah pikiran kepada orang lain.

Ulama-ulama terdahulu menjadikan menulis sebagai tradisi. Kitab atau buku-buku yang ditulis para ulama itu masih dapat dibaca hingga kini. Menulis juga menjadi media dakwah untuk menyebarkan kebaikan. Semua ulama yang menjadi arsitek kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Barat yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam.

Dunia pesantren yang selama ini dikesankan agak kurang akrab dengan dunia menulis yang relatif masih belum tumbuh dan berkembang. Dari ribuan atau bahkan mungkin ratusan ribu kiai pesantren, hanya sebagian kecil saja yang menulis buku atau kitab. Demikian juga dengan ratusan ribu atau mungkin jutaan santri, yang mau menekuni dunia menulis juga hanya sebagian kecil saja. Pada kondisi semacam ini, apa yang dilakukan oleh salah satu ulama kharismatik KHM. Basori Alwi telah memberikan warna lain yang mencerahkan dengan kontribusi yang kreatif dan produktif berhasil meneruskan estafet tradisi yang dilakukan oleh para ulama terdahulu dengan berbagai macam karya tulis yang telah beliau hasilkan baik dalam bidang akidah, al-Qur’an, tasawuf, bahasa Arab, dan lain sebagainya.

KHM. Basori Alwi adalah sosok ulama yang komplit, fasih dalam membaca al-Qur’an dan berceramah, serta penulis yang produktif. Beliau banyak menulis buku dan risalah ringkas. Ada sekitar 24 judul (ini versi yang diketahui penulis, red.), baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia.

Dari sekian banyak karya K.H. M. Basori Alwi semakin mempertegas sosok beliau sebagai ulama produktif dan pemikir yang berwawasan luas mencakup berbagai bidang kehidupan umat Islam. Dan secara tidak langsung beliau telah memberikan warisan yang sangat berharga untuk generasi berikutnya.

Buku atau Karya adalah “Warisan” Sejarah 

Akbar Zainudin dalam bukunya “UKTUB; Panduan Lengkap Menulis Buku dalam 180 hari” menyatakan bahwa manfaat utama yang bisa diwariskan dari sebuah buku atau karya adalah ide atau pemikiran. Mengapa ide tentang koperasi yang disuarakan Bung Hatta masih terus bergaung sampai sekarang? Karena Bung Hatta menulis buku. Mengapa pula ide-ide tentang filsafat dan tasawuf al-Ghazali masih terus dipelajari dan berkembang hingga sekarang (padahal beliau sudah wafat berabad-abad yang lalu)? Karena al-Ghazali menulis kitab. Dan juga kalau kita tambahkan mengapa karya KHM. Basori Alwi masih dikaji, diteliti, dan dikembangkan sampai sekarang? Karena KHM. Basori Alwi menulis kitab dan buku.

Hal kedua yang bisa diwariskan dalam buku atau karya adalah tata nilai (value) dan karakter. Lewat sebuah buku atau karya seolah KHM. Basori Alwi bercerita tentang nilai-nilai kehidupan dan karakter seperti apa yang beliau inginkan dari anak cucu, santri, pemimpin, dan masyarakat.

Hal ketiga yang bisa diwariskan dari sebuah buku atau kitab adalah pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan dan keterampilan jika ditularkan di dalam kelas, sangat terbatas bagi orang-orang untuk memilikinya. Tetapi jika disebarkan lewat tulisan, maka dampaknya akan jauh lebih dahsyat. Bahkan dengan teknologi internet yang sangat maju, ilmu pengetahuan dan keterampilan itu bisa disebarkan kepada setiap orang di pelosok dunia, kapan pun dan dimana pun mereka berada.

KHM. Basori Alwi  telah menentukan faktor yang beliau jadikan sebagai pijakan dasar untuk menulis yaitu orientasi ke-akhiratan, artinya kegiatan menulis yang bernilai ibadah. Tatkala hal ini telah terpenuhi maka aktivitas menulis akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri yang bahkan akan membuat penulisnya semakin termotivasi untuk menulis.

Dari sekian banyak alasan seseorang menulis buku atau karya ilmiah, menurut hemat saya bahwa di antara motivasi KHM. Basori Alwi dalam menulis atau berkarya adalah menyebarkan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat. Mengajar orang di dalam kelas hanya terbatas manfaatnya kepada yang hadir di dalam kelas. Ketika ilmu dan pengetahuan tersebut ada dalam bentuk buku, penyebarannya bisa lebih luas.

Berbagi ilmu pengetahuan bisa menjadi motivasi paling hebat bagi penulis. Menyebarkan ilmu pengetahuan adalah menyebarkan kebaikan yang akan menjadi pahala yang terus mengalir. Menulis dengan mengharap ridha Allah dan pahala akan memberi energi yang sangat besar, karena tulisan seseorang adalah amal kebajikan bagi orang tersebut.

Motivasi lain yang saya amati dari sosok KHM. Basori Alwi adalah bahwa menulis bagi beliau adalah jalan dakwah. Sebagaimana motivasi menyebarkan ilmu pengetahuan, bagi sebagian orang, menulis adalah salah satu jalan menyebarkan ajaran agama. Dengan lingkup penyebaran yang lebih luas, penyebaran agama tidak hanya terbatas bagi orang-orang yang hadir di pengajian-pengajian ataupun masjid, tetapi juga menyebar ke seluruh masyarakat. Ada nuansa spiritual yang luar biasa mendalam saat menulis dijadikan sebagai jalan dakwah. Kekuatan spiritual akan menimbulkan energi berlebih untuk menyalurkan dakwah lewat buku yang ditulis.

Apa yang KHM. Basori Alwi tuliskan akan menjadi amal kebaikan. Semakin banyak orang mengamalkan, pahala kebaikannya akan terus bertambah, dan kebaikan itu akan terus mengalir saat beliau sudah meninggal dunia sekalipun. Buku atau karya menjadi amal jariah beliau, kebaikan yang pahalanya terus mengalir, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

Apabila manusia meninggal dunia maka terputus darinya amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim)

Memadukan Budaya Membaca dan Menulis

Membaca dan menulis bagaikan saudara kembar yang tak dapat dipisahkan. Atau, kalau boleh dibayangkan kegiatan membaca dan menulis ini bagaikan sepasang suami-istri yang saling melengkapi dan mendukung dalam bekerja sebagai motor sebuah keluarga. Membaca dan menulis bagaikan dua sisi mata uang. Satu dan lainnya saling menunjang peran dan fungsi masing-masing. Adalah kekeliruan yang sangat besar pendapat orang yang menganggap membaca dan menulis membuang-buang waktu. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berperadaban.

Membaca tidak hanya menelusuri deretan teks, tetapi membuka juga pandora pengetahuan. Semakin luas pengetahuan seseorang semakin terbuka wawasan dan kreativitasnya. Membaca idealnya menjadi tradisi semua profesi, karena profesi apapun sesungguhnya akan dapat berkembang dengan pesat manakala diikuti dengan membangun tradisi membaca secara baik pula. Bagi seorang penulis, misalnya, membaca jelas merupakan sebuah keharusan.

Sosok KHM. Basori Alwi adalah “role model” yang dapat dilihat oleh masyarakat luas –terutama oleh para santri beliau- tentang penyelenggaraan baca-tulis yang memberdayakan (membuat seseorang berkembang secara dahsyat hari demi hari). KHM. Basori Alwi dengan sempurna berhasil mengawinkan kegiatan membaca yang benar-benar terpola dengan kemampuan menulis (writing skill) sehingga lahirlah karya yang mumpuni.

Kesibukan KHM. Basori Alwi yang tinggi bukan alasan untuk tidak membaca, karena dengan rajin membaca maka akan membuat ide-ide di otak terus tumbuh dan berkembang. Dengan semakin banyak membaca maka modal untuk menulis juga semakin besar. Gugusan ide dan pemikiran akan muncul sebagai bahan menulis. Untuk mendukung upaya tersebut, beliau meletakkan kitab atau buku di tempat yang mudah dijangkau sehingga ketika ada kesempatan akan mudah untuk membaca.

Bagaimana menulisnya? Beliau melakukannya nyaris sama dengan membaca, yakni setiap ada kesempatan beliau melakukannya, bisa di rumah dan bahkan saat berada di dalam mobil. Kreativitas dalam membaca dan menulis itulah yang kemudian mengantarkan KHM. Basori Alwi menjadi salah satu kiai penulis produktif Indonesia yang sangat diperhitungkan.

Aktualisasi Potensi Diri

Menulis adalah keterampilan yang merupakan hasil latihan panjang. Melihat jumlah karya KHM. Basori Alwi yang disebutkan di atas (bahkan mungkin bisa lebih) seolah menegaskan akan hasil sebuah proses keterampilan yang panjang tersebut.

Bakat atau potensi seseorang memang berbeda dengan yang lain. Ada orang yang potensinya terbesarnya pada fisik, ada orang yang kemampuan bahasanya lebih tinggi, ada juga orang dengan kemampuan analisis bagus, sementara di sisi lain ada juga yang punya kemampuan menghafal yang luar biasa. Namun, potensi hanyalah tinggal potensi jika kita tidak memaksimalkannya dengan baik. K.H. M. Basori Alwi adalah sosok yang mampu memadukan dan meramu dengan baik potensi yang dimiliki dengan usaha yang maksimal.

KHM. Basori Alwi seolah menegaskan bahwa kita semua bisa menjadi penulis, apa pun profesi kita. Jangan berpikir karena kita bekerja di luar yang biasa menulis (akademisi, wartawan), lalu kita tidak bisa menulis. Justru karena kita lebih menguasai apa yang kita geluti akan lebih mudah untuk menulis.

Sebagai contoh, dengan pengalaman beliau bertahun-tahun mengajar al-Qur’an dan ilmu tajwid, ternyata bisa menjadi bahan tulisan yang baik dan bermanfaat bagi pembaca dan peserta didik, sehingga lahirlah karya beliau yang berjudul “Mabādi’ Ilm al-Tajwīd (Pokok-Pokok Ilmu Tajwid)” yang dilengkapi dengan “Qāmūs Miftāh al-Hudā fī Ma’rifat al-Waqf wa al-Ibtidā (Kamus Miftahul Huda untuk Mengetahui Waqaf dan Ibtida’)”. Karya KHM. Basori Alwi ini bisa dikategorikan best-seller (laris manis), dan hal ini bisa dibuktikan sampai dengan Juni 2009 sudah memasuki cetakan yang ke-28 (sementara sekarang sudah memasuki tahun 2022 yang tentunya jumlah yang sudah tercetak bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu eksemplar).

Sementara dalam pengalaman mengajar bahasa Arab yang juga bertahun-tahun, KHM. Basori Alwi mampu menuangkannya dalam sebuah karya yang monumental dengan judul “Madārij al-Durūs al-Arabiyah” (Jalan ke Bahasa Arab) yang terdiri dari 4 jilid. Bahkan kitab bahasa Arab ini bisa dikategorikan best-seller juga.

Akhirnya, jika kita merasa sudah cukup menyiapkan “harta benda” untuk anak cucu kita, saatnya menulis buku untuk membuat “warisan intelektual” yang lebih abadi. Jangan hanya takjub dengan orang lain saat menuliskan sejarah mereka, sekarang saatnya kita menuliskan sejarah besar hidup kita sendiri seperti apa yang telah dicontohkan oleh mahaguru mulia kita KHM. Basori Alwi.

*M. Abdullah Charis, santri PIQ 1997-2009, yang saat ini menjadi dosen bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ditulis dalam rangka Haul ke-2 KHM. Basori Alwi pada 28 Februari 2022.

Sebuah Kenangan Hikmah Khodim Kiai

Mataku pelan terbuka. Sambil berusaha mengumpulkan kesadaran aku tengok siapa yang membangunkanku. Ah, rupanya Kyai. Kulihat beliau sedang duduk di atas ranjangnya. Beliau tersenyum sambil melihatku. Senyuman yang serta merta memberiku berton-ton kekuatan untuk bangun. Aku berdiri, langsung kupapah Kyai menuju kamar mandi. Pelan!. Hening!.

Itulah aktifitas malamku selama ini. Sudah lama aku diberi amanah untuk berkhdimat di ndalem (rumah Kyai). Aku bersyukur sekali mendapat kesempatan khidmat langsung kepada Kyai. Aku biasa menemani beliau “tindakan” (bepergian), menyiapkan segala keperluan beliau, dan juga menemani beliau “sare” (tidur) di kamar. Pukul 00.30 sampai 01.00 dini hari. Itulah jam di mana Kyai membangunkanku untuk memapah beliau ke kamar mandi dan menyiapkan segala keperluan qiyamul lail beliau. Malu rasanya. Aku yang masih muda ini justru lelap kalau tertidur. Sedangkan Kyai, angka usia beliau rupanya berbanding lurus dengan semangat beliau dalam beribadah. Memang pernah sesekali aku yang bangun duluan, tapi amat jarang. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Ah, Kyai… Aku jadi malu sendiri…

Tak lama kemudian, Kyai keluar dari kamar mandi. Dengan sigap kupapah beliau lagi dan kubantu beliau memakai “seragam” ibadah. Kyai selalu suka memakai baju dan kopiah berwarna putih. Aku lantas menyusul berwudhu dan ikut sholat di belakang beliau. Kami sholat sendiri-sendiri. Tenggelam dalam ibadah di tengah keheningan malam.

Aku sudah dapat beberapa rakaat tahajud dan witir. Yah, cukup lelah karena kantuk menerjang-nerjang. Tapi kulihat Kyai masih khusyuk dalam ibadahnya. Aku sudah hafal. Beberapa rakaat tahajud. Kadang 4 rakaat, kadang 6, kadang 8. Lantas disambung dengan witir. Terkadang 3 rakaat, kadang 5 rakaat. Dan tak cukup di situ. Kyai lantas melanjutkan dengan sholat tasbih. Dalam sujud terakhir shalat tasbih beliau, itulah waktu yang paling membuatku resah pada awalnya. Beliau selalu lama dalam bermunajaat saat itu. Seringkali kulihat arlojiku, biasanya sekitar 1 jam Kyai melakukan sujud terakhir ini. Entah, apa yang beliau panjatkan. Lucunya, aku dulu sempat ketakutan saat belum paham kebiasaan beliau. Dulu aku pernah menepuk kaki beliau, khawatir terjadi apa-apa karena Kyai diam total. Kyai lantas mengeraskan doanya. Sebagai isyarah bahwa tidak terjadi apa-apa. Isyarah bahwa beliau ingin dibiarkan dalam kenikmatan ibadah di hadapan Sang Rabb.

Setelah bangun dari sujud, Kyai lantas menengadahkan tangan. Berdoa kembali. Kali ini sepertinya Kyai tidak mau menahan-nahan lagi. Kusaksikan air mata itu tumpah. Abah kyai merintih terisak. Rintihan yang keluar dari seorang hamba yang dadanya sesak merindukan Rabb-nya.

Ketika Kyai usai, kutengok sudah pukul 03.00 jelang Subuh. Kyai lantas minta diapapah menuju ranjang. Beliau lantas tidur kembali sejenak. Beliau berpesan agar dibangunkan ketika adzan Subuh berkumandang. Yang lucunya, malah aku lagi yang dibangunkan oleh Kyai.

Oh iya, tak jarang juga Bu Nyai sendiri datang dari kamar sebelah untuk membangunkan Kyai untuk berjamaah Subuh. Sedikit banyak aku juga hafal kebiasaan Bu Nyai. Setiap habis Isya, ketika Abah Kyai ada di “ndalem”, Bu Nyai selalu menemani Kyai makan malam dan bercengkerama di ruang TV. Tak lama, tak pernah lebih dari pukul 20.30 Bu Nyai lantas masuk ke kamar untuk istirahat. Jam 12.00 biasanya Bu Nyai sudah bangun dan terjaga dalam ibadah hingga Subuh.

Ketika kusaksikan Bu Nyai membangunkan Kyai untuk Shalat Subuh, hatiku mengharu biru. Itu hanyalah secuplik bentuk rasa cinta yang terus dipupuk hingga tua. Saling mencinta, saling menjaga hingga tua. Ah, indah sekali kisah cinta mereka berdua.

Cak Fawaid (begitulah dia dipanggil) saat melayani Kyai di setiap aktifitas beliau

Itulah aktifitas ibadah malam Kyai yang aku sendiri bersaksi, tak pernah beliau tinggalkan kecuali dalam keadaan “gerah” (sakit) yang benar-benar membuat beliau harus beristirahat. Kalau kita pikir kegiatan-kegiatan Kyai yang padat itu mengalahkan semangat Kyai untuk putus dari istiqomah beliau. Kita salah!.

Pernah saat itu beliau “kundur” (pulang) dari acara Nuzulul Quran di masjid Ampel Surabaya. Dalam perjalanan pulang, Kyai tidur. Saat sampai di rumah, biasanya Kyai akan istirahat barang 15-20 menit untuk sejenak “meluruskan punggung”. Biasanya Kyai sambil muthola’ah. Setelah itu aktifitas ibadah malam pun beliau laksanakan. Tetap sama, tetap khusyu’, tetap merintih.

Aku saksinya!.

* Ditulis oleh A. Syafiq berdasarkan penuturan Cak Fawaid, khodim Kyai semenjak tahun 2013 hingga Kyai wafat.

Oleh : Habib Muhammad bin Anies Shahab

Bismillahirohmanirrohim.  Alhamdulillahirobbil alamin. Hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafi mazidah. Allahumma sholli wa sallim ala sayyidina Muhammadin fil awwalin wal akhirin.

Amma ba’du, alfaqir Muhammad bin Anies bin Shahab menyampaikan kekaguman saya kepada almarhum al-‘alim al-‘allamah ad-Da’i ilallah fi qoulihi wa fi’lihi, KH. Basori Alwi rohimahullahu rohmatal abror. Beliau sosok Kyai yang memberikan petunjuk kepada para asatidz dan Kyai serta para Dai mubaligh Ustadz pengajar Alquran yang lain. Sosok yang memberi contoh bagaimana menjadi seorang pengajar yang insya Allah dibanggakan oleh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. Rasul bersabda “khoirukum Man ta’allamal qur’aana wa allamahu” (Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya). Beliau benar-benar tahu apa yang disampaikan Rasul SAW berasal dari Allah karena sifat Nabi Muhammad “Laa yanthiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyun yuha”. Sehingga dalam hal ini kita lihat yang menyaksikan kehidupan sosok seorang KHM. Basori Alwi, beliau dihabiskan hidupnya untuk Alquran, mengajar Alquran. Mengajarkan untuk orang-orang yang sudah tua atau juga membelajarkan kepada anak-anak muda di Pesantren Ilmu Al Quran Singosari. Sehingga entah berapa ribu manusia yang telah mendapat manfaat dari beliau, termasuk saya sendiri.

Saya belajar bahasa Arab diawali dari kitab beliau yang berjilid-jilid (Kitab Madarij Ad Durus Al Arabiyyah, Red.). Semuanya adalah kemudahan bagi kami, baik dalam mempelajari struktur bahasa Arab atau menghafalkan mufrodat yang selalu dicatatkan di belakang buku.

Beliau sekarang sudah kembali ke Rahmatullah dan insya Allah menempati roudhoh min riyadil jannah. Akan tetapi kita harus ingat bahwa beliau telah wafat, tapi lihatlah seakan-akan dalam beramal beliau tidak wafat. Inilah yang dimaksudkan panjang umur. Bukan karena 90 tahun lebih dari usia beliau. Tapi panjang umur adalah ketika sudah tidak lagi berada di atas dunia tapi manfaat masih tersebar di atas bumi untuk murid-muridnya. Tidak hanya di Indonesia, kita tahu banyak juga yang menjadi imam di negara-negara lain. Sehingga cukup contoh bagi kita seorang Kyai Basori Alwi untuk bisa ditiru di mana beliau tidak ikut masalah kepemerintahan ke politik dan lain sebagainya. Beliau fokus hanya kepada Alquran dan umat Islam. Mengajak umat untuk menjadi orang lebih dekat kepada Rasulullah SAW. Beliau insyaallah dekat dengan Rasul SAW di dunia dan insya Allah akan menjadi lebih dekat di akhirat.

Mari para pengajar Alquran, para Dai, para mubaligh tirulah beliau. Ikuti jalan beliau. Fokus dalam agama saja. Insya Allah kita akan menjadi orang yang sukses. Barakallah fiikum. Jazakumullah Khoiron katsiro kepada semua keluarga besar KHM. Basori Alwi dan juga keluarga besar Pondok Pesantren Ilmu Al Quran, Bil Qalam dan semua yang ada sangkut-pautnya dengan Kyai Basori Alwi. Bangga bisa menjadi salah satu keluarga besar antum semua. Doakan saya juga, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber : Voice Note Habib Muhammad bin Anis Shahab

Oleh : Prof. Dr. H. M. Ishom, M. Ag.

Murobby KHM. Basori Alwi bagi saya adalah orang tua dan sekaligus sang Guru  “murobby” yang sangat berkesan terhadap perjalanan akademik dan ruhani saya dalam hidup dan kehidupan. Saya sebagai keturunan Madura oleh orang tua saya selalu diingatkan bahwa guru yang mengajari sejak awal, mulai yang paling dasar apalagi tentang ilmu agama harus benar-benar dihormati. Karena hal itu sebagai “guru tolang” artinya guru yang menumbuhkan sejak awal dasar-dasar ilmu agama. Mulai dasar baca Alquran yang benar, baca kitab kuning (kitab salaf yang tidak berharokat, red.), pengetahuan fikih ibadah paling awal dan dasar-dasar akidah aswaja yang kokoh.

Beliau adalah seorang pendidik yang bijak, tawadhu’ dan cerdas. Komitmen dan konsistensinya dalam ibadah dan mengajar sangat luar biasa. Hingga saat ini saya masih kesulitan untuk meneladaninya. KHM. Basori Alwi merupakan sang Guru yang kokoh dalam prinsip, metodologi dan karakter. Saya benar-benar terkesan saat di awal saya belajar menjadi “guru kecil”. Beliau dengan telaten membimbing secara metodologi dan konten dengan sabar. Bahkan dengan ketawadhu’annya beliau memanggil saya juga dengan “ustadz”. Padahal belum maqom saya untuk mendapatkan sebutan kehormatan itu. Saya benar-benar tersanjung  dan sekaligus mungkin doa beliau untuk saya. Setiap hari beliau selalu mensupervisi saya dalam mengajar, mengelola kelas dan membimbing para santri kecil (yunior, red.). Sehingga dengan tanpa sadar saya akhirnya juga belajar atau learning by doing di bawah bimbingan beliau.

Terakhir, di saat beliau sudah usia lanjut. Dengan kesehatan beliau yang sudah menurun. Beliau sering keluar masuk rumah sakit. Sedang saya sudah menjadi alumni dari pesantren PIQ,  silaturrahim saya masih tetap terjalin dalam momen-momen tertentu. Misalnya di hari-hari besar Islam atau ziarah-ziarah pribadi saya ke beliau. Saya lihat beliau dengan usia yang sudah tua, beliau sangat luar biasa dalam istiqomahnya mengajar, membimbing para santri mulai sebelum subuh sampai malam habis isya’ dengan serangkaian pembelajaran, sholat berjamaah, tadarrus Alquran, kajian kitab kuning dan mendendangkan sholawat dengan aneka jenis lagu yang indah. Hal ini tidak lain karena sejak muda beliau adalah seorang Qori’ internasional dengan wajah tampan, gagah dan mempesona.

Ust. M. Isom (sebelah kiri Kiyai Basori)

Di sela-sela ziarah saya ke beliau, saya selalu diingatkan dengan maqolah beliau yang sangat terkenal bagi para santrinya yaitu “likulli sayaain zakat wa zakatul ilmu at taklim”. (Segala sesuatu itu ada zakatnya. Dan zakatnya ilmu adalah mengajar). Dari situ saya benar-benar tersentak dan malu. Karena selama ini saya ternyata belum bisa meneladani beliau dalam mengajar secara istiqomah dan berkarakter dalam konsistensi keilmuan. Amanah beliau itu selalu diulang-ulang di saat saya berziarah ke beliau. Termasuk di saat beliau sudah sering sakit dan akhirnya beliau pulang ke hadirat Ilahi Robbi. Semoga rahmat dan ridho Allah SWT selalu menaungi beliau hingga nanti bertemu dengan sang penciptanya. Dan semoga kita para santrinya diberi hidayah dan taufiq oleh Allah SWT dalam meneruskan perjuangannya dan terus berusaha meneladaninya, terutama dalam mengajar walaupun dengan sedikit ilmu yang ada. Lahul fatihah…..Amin….

* M. Isom, santri PIQ 1982-1993. Saat ini menjabat sebagai Direktur KSKK Madrasah Ditjen Pendis Kemenag RI. Ditulis dalam rangka Haul ke-2 KHM. Basori Alwi pada 28 Februari 2022.

“Masyaallah almarhum Kyai Basori Alwi, almaghfurlah Kyai Basori ini luar biasa. Termasuk orang-orang yang salaf yang tawadlu’, ilmunya masyaallah. Dulu beliau nyantri sama abah saya juga (Habib Alwi Alaydrus, red.), masyaallah luar biasa. Satu kebiasaan beliau yang saya ingat sampai sekarang, waktu abah saya masih hidup ketika beliau (Kyai Basori) selesai khutbah, beliau sebelum pulang ke rumahnya, pasti ke Tanjung, ke rumah abah, menunggu abah selesai khutbah terus silaturahim. Dan itu berlanjut sampai abah saya meninggalpun beliau tetap datang ke Tanjung ke rumah dan duduk saja di situ. Duduk kadang-kadang ditemani kakak saya (Habib Abdullah bin Alwi Alaydrus, red.). Kadang-kadang kakak saya pas ke luar kota nggak bisa nemui, (duduk) sendirian, sampai akhir-akhir umurnya. Dan itulah ciri-ciri ulama-ulama yang mukhlis. Orang-orang zaman dahulu yang betul-betul ikhlas, yang luar biasa. Manfaat ilmunya dhohir batin dan bisa mengayomi umat.

Sumber: akun instagram beliau @asadullahalaydrus

Oleh: Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd.

Dalam sejarah banyak dijelaskan bahwa para kiai berusaha menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat, karena pesantren itu sendiri sebenarnya didirikan dengan melibatkan masyarakat terutama masyarakat sekitar, sehingga Kiai harus betul-betul menjadi ”Khodim” untuk bisa melayani masyarakat yang memang sejak awal terlibat. Hubungan Kiai Basori Alwi dengan masyarakat terutama masyarakat di kabupaten Malang terutama masyarakat Singosari di mana PIQ berdiri di kota santri ini, seperti sebuah bangunan yang tidak bisa berdiri tegak jika tidak ada penyangganya (songgo). Bangunan tanpa penyanggah tentunya tidak bisa berdiri. Beberapa warga masyarakat Singosari menyebut Kiai Basori Alwi sebagai “songgoe Singosari”, karena Kiai Basori Alwi selalu menjawab segala masalah sosial keagamaan.

Masyarakat bagi diri Kiai Basori Alwi sebenarnya sebuah “institusi besar” yang harus diberikan materi pelajaran yang cocok bagi masyarakat. Pelajaran yang sesuai bagi masyarakat adalah persoalan-persoalan furu’iyyah dan tasawuf. Persoalan-persoalan furu’iyyah ditulis oleh Kiai Basori Alwi berupa persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan keseharian masyarakat muslim seperti tata cara tahlil, bagaimana caranya berkurban yang baik dan persoalan-persoalan lainnya. Karya seperti itu ada pada karya Kiai Basori Alwi.

Perlu diketahui bahwa Kiai Basori tampaknya juga mengembangkan intelekualisme para santrinya dengan menerjemahkan kitab-kitab yang nantinya akan dipakai sebagai konsumsi masyarakat secara umum, seperti kitab al-Nasaih al-Diniyyah wa al-Wasayah al-Imaniyyah yang membahas tentang “Kekuasaan”, juga kitab Imarat al-Masajid yang diterjemahkan dari Tafsir Ayat al-Ahkam milik Syekh Ali al-Sabuni. Dalam mukadimah kitab itu Kiai Basori Alwi menuliskan sebagai berikut:

”Terjemahan ini adalah hasil karya para santri dari pengajian rutin yang diberikan pengasuh dengan metode Cara Belajar Siswa Aktif. Di samping didiskusikan dengan latihan berbahasa Arab juga ditugaskan kepada masing-masing kelompok untuk menerjemahkannya sebagai sumbangan PIQ kepada masyarakat.”

Dari penjelasan dalam kitab tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan dari Kiai Basori Alwi untuk mengembangkan intelektual para santrinya dengan memperhatikan pada kebutuhan masyarakat yang menjadi problem keseharian masyarakat dan harus dijawab oleh Kiai dengan perspektif shari’at Islam secara mendalam.

Ada dua tahapan bagaimana kiai mengajarkan materi pelajarannya kepada masyarakat yang pertama, mereka mengutus para santrinya untuk mengajarkan sebuah materi kepada masyarakat, misalnya Kiai Basori seringkali mengutus para santrinya untuk mengajar di Panti Asuhan Darussalam Singosari, atau tempat lainnya seperti majelis ta’lim. Materi-materi yang diajarkan biasanya kitab-kitab yang sudah masyhur. Yang kedua kiai sendiri yang turun tangan mengajar materi pelajarannya kepada masyarakat. Materi pelajarannya terkadang tulisan kiai sendiri yang berisi rangkuman dari kitab-kitab terdahulu. Biasanya berisi tentang cara-cara praktis orang-orang Islam dalam beribadah. Misalnya karya Kiai Basori tentang “Miqot Udara Haji Indonesia, al-Sadaqah wa al-Tahlil, Dalil-Dalil Hukum Islam I (bersesuci), Dalil-Dalil Hukum Islam (Salat) dan lain-lain. Selain itu materi-materi pelajaran yang diajarkan oleh kiai adalah tasawuf (moral). Materi tasawuf seringkali diamalkan melalui kegiatan-kegiatan tarekat, istighastah. Dan tampaknya dua materi inilah yang lebih digandrungi masyarakat. Hal ini sangat wajar karena secara filosofi materi tasawuf sebenarnya menunjukkan kasih sayang Tuhan (rahman-rahim Allah). Sedangkan materi fiqh disenangi karena masyarakat bisa memperbaiki ibadahnya secara benar.

Ketulusan Kiai Basori Alwi dalam melayani masyarakat inilah yang akhirnya beliau menjadi ulama’ kharismatik. Loyalitas masyarakat semakin lama semakin besar dan menjadikan Pesantren Ilmu al-Qur’an menjadi pesantren besar diantara pesantren yang ada di Kabupaten Malang.

*Abdul Malik Karim Amrullah, santri PIQ 1996-2000. Saat ini menjabat sebagai Ketua LP Ma’arif NU Kab Malang (2022-2026). Ditulis dalam rangka Haul ke-2 KHM. Basori Alwi pada 28 Februari 2022.

By Ulil Abshar

Qiyamul Lail Bersama Kyai

Sebuah Kenangan Hikmah Khodim Kiai Mataku pelan terbuka. Sambil berusaha mengumpulkan kesadaran aku tengok siapa yang membangunkanku. Ah, rupanya Kyai. Kulihat beliau sedang duduk di atas ranjangnya. Beliau tersenyum sambil …

Read More