Asal Muasal MTQ, 5 Qari’ Muda di Masjid Ampel dan Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh NU

Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengungkap cikal bakal perhelatan MTQ yang kini menjadi kegiatan rutin sekaligus budaya bangsa Indonesia.  “Pada mulanya, kegiatan ini diinisiasi para qari di Masjid Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1950-an. Majelis pembacaan Qur’an dengan seni suara itu dimaksudkan sebagai upaya penjiwaan terhadap Qur’an di sanubari umat Islam agar mereka menjadi manusia yang lebih berbudaya,” kata Menteri Lukman aaat upacara pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Nasional (MTQN) ke-26 di Islamic Centre, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (30/7) malam, diberitakan oleh NU Online.

Hal tersebut, lanjutnya, merupakan tradisi yang dilakukan Wali Songo dalam berdakwah. Karena melihat animo masyarakat yang tinggi, salah satu qori penggagas majelis itu, yakni Kiai Bashori Alwi, menyampaikan kepada pemerintah tentang lomba baca Al-Qur’an tersebut.

“Presiden Soekarno lalu menyambut usulan tersebut dengan menggelar musabaqah internasional pada saat Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Itulah MTQ pertama kali dan langsung bertaraf internasional. Setelah itu, Bung Karno menugaskan 11 orang qori Indonesia bermuhibah ke beberapa negara sahabat,” ungkapnya.

Menteri Lukman menambahkan, setelah merasakan manfaat yang begitu besar dari syiar melalui Al-Qur’an, pemerintah lantas melembagakan MTQN sebagai kegiatan resmi yang digelar secara bergiliran di berbagai daerah. Pada 1968, MTQN pertama digelar di Makassar, Sulawesi Selatan.

Disebutkan didalam situs resmi Jam`iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Nahdlatul Ulama bahwa Jam’iyyatul Qurra` Wal Huffazh Nahdlatul Ulama merupakan cikal bakal terwujudnya Mussabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional yang saat ini menjadi kegiatan rutin Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional berdasarkan SKB Menteri Agama RI dan Menteri Dalam Negeri No. 19-1977/151-1977, yang diawali dari MTQ antar Pondok Pesantren se-Indonesia dalam rangka Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) di Bandung tahun 1964. Kemudian diangkat menjadi kegiatan MTQ Nasional Resmi Departemen Agama RI sejak tahun 1968 hingga sekarang.

Ya, JQH NU adalah cibal bakal daripada MTQ itu sendiri.  Siapa para Qari yang dikatakan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tersebut?.

Tidak banyak yang tahu jika asal usul MTQ itu bermula dari lima orang pemuda yang hobi melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di Masjid Ampel Surabaya. Kelima pemuda itu adalah :

  1. M. Basori Alwi Murtadlo (Lahir 15 April 1927)
  2. Abdullah Alwi Murtadlo (alm.)
  3. Abdullah Muhammad (alm.)
  4. Mujri Dahlan (alm.)
  5. Ali Muhammad (alm.)

Mereka berlima secara rutin mengumandangkan tarhim menjelang subuh di Masjid Ampel di tahun 1950-an. Kemudian secara bergantian melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an hingga waktu shalat subuh datang. Mulanya mereka berlima hanya berlatih keahlian tilawah sekaligus memperkenalkan bacaan tartil yang baik dan benar. Namun kegiatan tersebut mengundang perhatian banyak orang. Jamaah Masjid Ampel lalu meminta ada kegiatan khusus bagi para penikmat lagu Qur’an. Akhirnya kelima pemuda itu membentuk acara rutin setiap malam Jumat yang bertajuk “Lailatul Qiro’ah” atau Malam Baca Al-Qur’an.

Dalam kegiatan Lailatul Qiro’ah yang dimulai sesudah sholat Isya’ tersebut, KH. M. Basori Alwi Murtadlo (yang saat itu lebih dikenal dengan nama Ustadz Basori) dan kawan-kawan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan lagu-lagu tilawah kepada para jamaah Masjid Ampel. Kebetulan setiap malam Jumat, Masjid Ampel memang diziarahi oleh ratusan sampai ribuan jamaah. Sehingga acara Lailatul Qiro’ah tersebut dipadati oleh banyak peserta.

Melihat peserta makin membludak, Ustadz Basori mengubah nama acara tersebut menjadi “Majlisul Qurro’ (Perkumpulan Para Pembaca Al-Qur’an)”. Di majelis itu kelima pemuda tadi mengajarkan lagu-lagu qiroah dan melahirkan qori-qori muda potensial. Para qori itu kemudian menularkan hasil belajarnya kepada qori lain. Sehingga semakin luaslah jaringan para qori ini.

Kecenderungan ini memunculkan ide untuk menghimpun para qori (pembaca) dan huffadz (penghafal) Al-Qur’an dalam satu forum. Beberapa Qori dan huffadz terkemuka diundang, diantaranya Kyai Tubagus Mansur Makmun dan Kyai Roji’in dari Jakarta.

Pada pertemuan pertama di sebuah langgar yang terletak di wilayah Kebalen, Malang, disepakati untuk mengubah nama Majlisul Qurro’ menjadi “JAM’IYYATUL QURRA’ WAL HUFFADZ” (Perkumpulan Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an) atau disingkat “JQH”.

Perkumpulan JQH ini berkembang pesat, dan kemudian berafiliasi dengan NU Wilayah Jawa Timur. Kemudian secara resmi pengurus JQH menghadap Ketua Umum PBNU di Jakarta (saat itu diketuai oleh KH. Idham Chalid). Keberadaan JQH ini disambut hangat. Dua tahun berjalan, JQH melebarkan sayapnya ke berbagai daerah.

Pada suatu saat, di tahun 1954, guru ngaji Ustadz Basori yang bernama KH Abdul Karim (Gresik), seorang ulama ahli Qur’an yang kondang dengan kefasihan dan suara emasnya, diundang Menteri Agama (KH Wahid Hasyim) untuk membaca Al-Qur’an di Istana Negara.

Memanfaatkan kesempatan tersebut, KH Abdul Karim melaporkan kepada Menteri Agama tentang perkumpulan tilawah (JQH) yang cukup besar di Jawa Timur yang berpusat di Masjid Ampel. Laporan tersebut diterima dengan senang hati. Apalagi Indonesia sedang sibuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang akan digelar di Bandung.

Tak lama berselang, Ustadz Basori Alwi diundang ke Jakarta untuk menemui KH Ahmad Syaikhu, ketua Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA). Ternyata Ustadz Basori Alwi dilibatkan dalam kepanitiaan KAA tersebut. Saat KAA berlangsung, Ustadz Basori Alwi memperoleh kesempatan tampil sebagai salah satu qori mewakili Indonesia.

Pada saat itulah Ustadz Basori Alwi mengutarakan ide penyelenggaraan semacam Lomba Membaca Al_Qur’an Bertaraf Internasional . KH Ahmad Saikhu melihat ide tersebut orisinal dan sangat bagus. Ketika KIAA berlangsung, KH Amad Saikhu menyampaikan usulan Ustadz Basori Alwi tersebut kepada peserta konggres yang berasal dari berbagai negara. Sebagian besar peserta konggres yang memang berasal dari negara Muslim langsung menyatakan persetujuannya. Sebagai tindak lanjut, Ustadz Basori Alwi dan seorang sahabatnya Abdul Mujib Ridwan, ditugasi menyusun program pelaksanaannya.

Akhirnya digelarlah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Internasional yang pertama di Bandung pada tahun 1965, bersamaan dengan dilangsungkannya Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA).

Belasan negara berpartisipasi dalam lomba membaca Al-Qur’an yang baru pertama kali diadakan itu. Disebut pertama kali, karena memang saat itu belum pernah ada lomba serupa, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dan sejak saat itulah Ustadz Basori Alwi, salah seorang dari lima sekawan yang bersuara emas dari Masjid Ampel, kesohor di panggung dunia.

Menjelang peristiwa tersebut, Ustadz Basori Alwi ditugasi sebagai delegasi Indonesia dalam Misi Kebudayaan untuk berangkat ke Pakistan. Salah satu keberagamanan kebudayaan nasional yang diperkenalkan adalah seni tilawah.

Setelah hajatan MTQ Internasional dilaksanakan, Ustadz Basori Alwi dipanggil lagi ke Jakarta, kali ini bersama dua orang rekan qori, yaitu Ustadz Abdul Aziz Muslim dan Ustadz Fuad Zen.

Tiga serangkai ini ditugaskan bermuhibah ke sebelas negara, yaitu Arab Saudi, India, Pakistan, Irak, Iran, Syiria, Lebanon, Mesir, Tunisia, Aljazair, dan Libya. Tugas tersebut dinamakan Misi Al-Qur’an. Di negara-negara tujuan, ketiga qori itu secara bergantian melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

Selama empat bulan, tiga serangkai berkeliling dunia. Mereka menghadiri acara terkait Misi Al-Qur’an di kedutaan, istana kerajaan, masjid, hingga lembaga pendidikan di negara tujuan. Bermula dari menara Masjid Ampel, kini telah banyak qori Indonesia yang terkenal ke seantero dunia.

Enam belas qori senior yang kompeten di bidang seni baca Al-Qur’an di Indonesia (yang tercantum dalam buku: Perkembangan Seni Baca Al-Qur’an dan Qiraat Tujuh di Indonesia) adalah :

  • KH M. Basori Alwi Murtadlo (Jawa Timur)
  • KH Abu Bakar (NTB)
  • KH Azra’i (Medan)
  • KH Abdul Aziz Muslim (Jawa Tengah)
  • KH Damanhuri (Jawa Timur)
  • KH Zakariya Nawawi (Lampung)
  • KH Dlomroh Arzyadi (Sumatera Barat)
  • Ustadz Abdul Muthalib (Banjarmasin)
  • KH Said As-Sirri (Jakarta)
  • KH Mukhtar Luthfi (Jakarta)
  • Ustadz Abdul Halim (Palu)
  • Ustadz Hambali Lathif (Jakarta)
  • Ustadz Drs H Yusuf Aziz (Bengkulu)
  • Ustadz Kasyful Anwar (Jambi)
  • Ustadz Fauzi (Pontianak)
  • Ustadz HA Syahid (Jawa Barat)

Selain nama-nama tersebut, masih banyak sebenarnya qori Indonesia yang mumpuni di bidang qira’ah bil-ghina. Diantaranya adalah qori asal Surabaya yang pernah berguru kepada KHM Basori Alwi, yaitu Ustadz Ahmad Fuad dan Ustadz Drs Abdul Hamid, yang keduanya pernah menjuarai MTQ tingkat nasional dan tingkat ASEAN.

Saat ini, KHM Basori Alwi Murtadlo adalah satu-satunya pendiri Jam’iyyatul Qurraa’ Wal Huffadz (JQH), sekaligus pencetus Musabaqah Tilawatil Qur’an yang masih hidup.

Sumber: http://nubalikpapan.id/asal-muasal-mtq-5-qari-muda-di-masjid-ampel-dan-jamiyyatul-qurra-wal-huffazh-nu/

Tasyakkur agustusan yang kita rayakan setiap tahunnya sejatinya merupakan bentuk melaksanakan perintah Allah swt. Yang kita lakukan saat ini, secara global terdiri dari dua hal, tasyakkur itu sendiri alias bersyukur kepada Allah ta’ala atas nikmat yang Allah berikan kepada kita, dalam hal ini adalah kemerdekaan dan sekaligus juga merupakan sebuah refleksi sejarah. Mengenai bersyukur, banyak termaktub dalam firman Allah ta’ala, diantaranya adalah “la in syakartum laazidannakum”, jika kalian bersyukur, maka Kami tambahkan (nikmat) untuk kalian. Adapun refleksi sejarah, Allah pun memerintahkan hal itu dalam firman-Nya “wal tandzur nafsun ma qaddamat li ghad”, perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu. Semoga apa yang kita lakukan ini berbuah ridha dari Allah ta’ala.

Berbicara tentang sejarah proklamasi, adalah sebuah kekeliruan besar apabila kita berkilas balik hanya sebatas sampai Bung Karno dan Bung Hatta saja. Sebab kenyataannya proklamasi beliau berdua itu hanya puncaknya saja. Adapun jalan menuju puncak itu tentu berlika-liku, sangat panjang dan berlandaskan darah keringat perjuangan orang banyak. Dalam konteks indonesia, tidak terbantahkan lagi semua itu berkat peran ulama. Perjuangan ini dimulai sejak zaman walisongo bahkan sejak para ulama dan da’i yang lebih dulu hidup jauh sebelum beliau-beliau.

Barangkali jika dianalogikan, ibarat sepakbola, jika bapak Proklamasi kita Bung Karno dan Bung Hatta adalah striker yang mengeksekusi, maka para ulamalah yang menjadi playmaker yang mengolah dan menyiapkan bola hingga sampai pada titik yang memungkinkan untuk dieksekusi oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Maka dari titik inilah saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk melihat perjalanan sejarah bangsa ini.

Saudaraku, banyak sekali prasasti atau jejak peran ulama yang bisa kita napak tilasi dan sekaligus menjadi bukti nyata dominasi peran mereka dalam perjuangan dan kemerdekaan bangsa ini. Di dalam perjalanan bangsa ini, para ulama melalui masjid dan pesantrennya, dengan akhlaq dan kebijaksanannya telah membangun sebuah karakter yang luar biasa. Karakter yang terwujud pada generasi santri. Dari sini, kelak pengaruh lanjutannya adalah bangkitnya kekuatan politik yang melahirkan sekitar empat puluh kekuasaan politik Islam atau kesultanan di seluruh Nusantara Indonesia. Salah satu diantaranya, kesultanan Banten dengan Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah sebagai muassisnya. Selain Banten, beliau juga membangun kekuatan politik Islam di Cirebon dan Jayakarta. Bahkan dikisahkan pula bahwa Sultan Babullah dari Kesultanan Ternate adalah keturunan beliau.

Baik, berikut ini adalah beberapa fakta dan realita sejarah yang merupakan bukti keberhasilan perjuangan para ulama’:

  1. Jakarta sebagai bukti konkrit. Berasal dari nama Jayakarta yang dibakukan oleh Sunan Gunung Jati bersama Fatahillah. Jayakarta yang berarti “kemenangan paripurna” merupakan terjemah dari “fathan mubina” yang diambil dari  AlQuran Surah 48:1 “Inna fatahna laka fathan mubina”. Hal ini sebagai perlambang syukur kepada Allah atas kemenangan dan keberhasilan menggagalkan usaha penjajahan kerajaan katolik Portugis di Sunda Kelapa. Penjajahan ini sebagai wujud implementasi testamen imperialisme Paus Alexander VI dalam perjanjian Tordesilas 1494 M.
  2. Istilah Indonesia itu sendiri. Yang pertama kali memelopori istilah Indonesia adalah Dr. Soekiman Wirjosandjojo saat merubah nama Indische Vereniging menjadi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1925 di Belanda dan juga merubah nama majalah Hindia Poetera menjadi Indonesia Merdeka. Siapakah sosok beliau? Dari golongan manakah beliau? Ternyata beliau adalah sosok yang aktif dalam pimpinan partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Islam Indonesia dan Partai Masyumi.
  3. Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa resmi bangsa ini. Realita sejarah mengatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan hasil transformasi dari bahasa Melayu pasar yang digunakan di lingkup pasar khususnya oleh para pedagang muslim nusantara maupun Arab dan juga selain mereka pada umumnya. Sekali lagi, yang saya garis bawahi adalah bahasa kita ini berasal dari bahasa Melayu pasar, bukan dari sansekerta atau dari bahasa peninggalan Hindu Budha yang lain. Bahasa Melayu ini ditulis dengan huruf Arab Melayu. Pada perkembangannya, bahasa ini menjadi bahasa ilmu di pesantren-pesantren yang dikenal dengan istilah bahasa jawi atau pego. Dan juga menjadi bahasa diplomatik di kalangan pemegang kekuasaan. Tentu tersebarnya bahasa Indonesia ini merupakan bukti konkrit perjuangan dakwah dan peran serta para ulama’ dalam membangun identitas dan karakter bangsa ini.
  4. Dan yang paling mewakili harapan serta cita-cita bangsa ini adalah Sang Saka Merah Putih. Ketahuilah! Merah putih adalah bendera Rasulullah saw sebagaimana yang diangkat oleh Imam Muslim dalam kitab Al Fitan jilid X halaman 340 dari Hamisy Qasthalani.Beliau saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menunjukkan kepadaku dunia. Maka aku melihat seluruh penjuru timur dan barat. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku kelak akan mencapai apa yang ditunjukkan padaku. Dan Allah menganugerahkan padaku dua perbendaharaan, merah dan putih.”Maka dari itu, para ulama’ dari berbagai generasi dan zaman berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih dan menjadikannya sebagai identitas bangsa Indonesia. Dengan kebijaksanaannya, pengenalan ini mereka upayakan dengan pendekatan budaya. Mereka jadikan warna merah dan putih sebagai simbol sakral di setiap sendi peristiwa hidup bangsa Indonesia. Misalnya:
    • Pada setiap awal pidato atau tulisan dipopulerkan istilah sekapur sirih dan seulas pinang. Ini adalah simbol, kapur dan sirih jika tercampur maka akan menghasilkan warna merah. Sedang buah pinang jika dibelah, bagian dalamnya akan menyuratkan warna putih.
    • Adat penyajian bubur merah putih di setiap tasyakkuran dan peristiwa-peristiwa penting.
    • Ketiga, konon setiap membangun rumah, diatas suhunannya dikibarkanlah sang Merah Putih. Begitu pula di masjid-masjid jami’ pada tiap hari Jum’at.
    • Dan lain sebagainya.

    Rupanya merah putih yang telah membudaya ini berhasil bersemayam di dalam spirit dan cita-cita bangsa ini bahkan telah menjadikan pemerintah kolonial belanda tidak sanggup melarangnya dan memisahkannya dari bangsa Indonesia.

    Teks Proklamasi kemerdekaan. Puncak prasasti perjuangan dan bukti andilnya para Ulama terhadap proklamasi Indonesia adalah teks proklamasi itu sendiri yang berbunyi “atas berkat rahmat Allah yang Maha Pengasih lagi maha penyayang”. Ini merupakan terjemah siratan bahkan suratan dari hadits Rasulullah yang bersabda “ (Ramadhan itu) (sepuluh hari) awalnya adalah Rahmat “. Bukankah 17 agustus 1945 bertepatan dengan hari jumat legi tanggal 9 ramadhan 1364 H , dan hari kesembilan Ramadhan tentu masuk kedalam Rahmat Allah swt sebagaimana hadits tadi.

Maka dari sini mari kita melesat jauh ke belakang. Kita berefleksi. Kita khidmatkan. Bagaimana Allah dengan indahnya menganugerahkan kepada kita komposisi proklamasi terbaik. Allah kumpulkan seluruh elemen sakral umat Islam pada saat itu, pada hari yang paling sakral (Jum’at), pada bulan yang paling sakral (Ramadhan), dan dengan bendera yang paling sakral, panji Rasulullah sang saka merah putih. Dan jangan lupa, kitalah satu-satunya negara terjajah di Asia Tenggara yang meproklamirkan kemerdekaan menggunakan bahasa kita sendiri, bahasa Indonesia. Bahasanya para pedagang muslim. Bahasa pendidikannya Pesantren. Bahasanya para pemegang kekuasaan politik Islam dan para sultan. Bukan bahasa sansekerta apalagi bahasanya bangsa penjajah.

Akhirnya, lubuk hatiku yang paling dalam mengucap: “Selamat ulang tahun negaraku tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga para ulama’ senantiasa mengawalmu dan kau tetap istiqomah mendengarkan petuah-petuah mereka.”


Abdullah Murtadho, menyambut adzan Ashar, 16 Agustus 2016

pengurus-baru

Rabu, 14 Januari 2015. Ba’da Isya’ semua warga PIQ berduyun-duyun menuju PIQ 2. Pengajian libur. Hari itu pengurus punya gawe besar. Yakni pelaporan pengurus periode 2013-2015 serta pelantikan pengurus baru periode 2015-2017.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00 dengan pra-acara pembacaan Maulid Simtud Dhuror yang dipimpin langsung oleh ketua umum, Ammy Luthfi Basori, dengan didampingi oleh jajaran asatidz yang tampak berkumpul di sebelah selatan panggung. Setelah pembacaan yang berlangsung dengan khidmat, maka MC mulai membuka acara. Kali ini santri bernama Adlan yang dipercaya sebagai pemimpin acara.

Setelah dibuka dengan pembacaan Al-Fatihah,

Aceng Sholahuddin didapuk menjadi Qori’. Suaranya yang merdu membuat suasana aula menjadi hening meresapi kalam-kalam ilahi. Acara dilanjutkan dengan laporan-laporan dari pengurus lama. Penyampai pertama adalah Ust. Abdul Ghofur, S.Pdi selaku kepala madrasah yang menyampaikan laporan bidang pendidikan. Yang kedua adalah Ust. Shohibul Mirbath, S.Psi dari bidang Non-Pendidikan. Dan yang terakhir adalah Ust. Abul Faiz, S.T dari bidang ke-TUan. Di sini para ketua menyampaian hasil kegiatan, pencapaian-pencapaian serta pesan dan kesan saat menjabat menjadi pentolan pengurus. Di sini para ketua sekaligus menyatakan secara resmi akhir kepengurusan pada periode mereka.

Seusai tahap ini, acara memasuki sesi pelantikan pengurus baru yang dimulai dengan pembacaan nama-nama pengurus baru beserta seluruh koordinator serta anggota-anggota yang dibawahinya. Setelah itu seluruh pengurus dan koordinator kemudian foto bersama di atas panggung bersama ketua umum, Ammy Luthfi Basori.

Selanjutnya acara memasuki babak akhir, yakni penyampaian motivasi dan nasehat. Pembicara pertama adalah Gus Buyung Murtadho yang baru saja pulang dari Yaman. Di sini beliau memotivasi para hadirin untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad dengan cara mencintai para ulama, ilmu dan berusaha melestarikan warisan para ulama’. Diantara warisan tersebut adalah lembaga pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama. Oleh karenanya, khidmat menjadi pengurus melayani pesantren merupakan kepanjangan dari bentuk cinta kepada nabi Muhammad SAW.

Pembicara yang kedua adalah Ammy Luthfi Basori. Pada kesempatan ini Ammy memotivasi semangat khidmat para santri melalui cerita pengalaman beliau saat berkhidmat kepada Guru beliau, yakni Abuya Sayyid Alwi Al-Maliki saat mesantren di Makkah. Beliau bercerita bahwa selama 8 tahun mondok, porsi waktu belajar beliau tergolong sedikit. Namun hal ini bukan tanpa sebab. Karena beliau ditunjuk oleh Abuya untuk khidmat kepada beliau sebagai Khodim pengurus minuman para tamu. Selanjutnya Ammi juga pernah menjadi pengurus bagian dapur. Dan beberapa lama sebelum beliau pulang ke tanah air, Ammy menjadi Khodim pembuat kopi untuk Abuya. Ammy juga dikenal sebagai Katib (penulis) keterangan-keterangan dari Abuya yang tidak jarang nantinya menjadi sebuah buku. Contohnya adalah kitab Mafahim yang dipelajari di PIQ, merupakan hasil urun tenaga ammy dalam proses penulisannya. Ammy sempat merasa waktu belajarnya kurang maksimal. Namun beliau termotivasi dengan perkataan: Qoddimul Khidmat ala Ta’allum.

Subhanallah, saat beliau pulang ke tanah air perkataan-perkataan serta keterangan-keterangan mengajar dari Abuya saat Ammy mendampingi beliau, terpatri betul di benak Ammy. Sehingga beliau dengan mudahnya menyampaikan kembali apa yang dulu disampaikan Abuya.

Seusai bercerita, Ammy kemudian menutup dengan pembacaan do’a. Memasuki paska acara adalah kegiatan ramah tamah oleh seluruh pengurus dan koordinator.

Maka semoga apa yang disampaikan Gus Buyung dan Ammy Luthfi dapat menggelorakan semangat para pengurus pada khususnya dan seluruh santri pada umumnya untuk berkhidmat ke almameter tercinta, Pesantren Ilmu Al-Qur’an. Hari itu babak baru telah dimulai. Mari kita tunggu inovasi-inovasi terbaru dari para Ahlul Khidmat. (Syafiq)

PIQ terlihat lengang. Maklum saat itu pesantren telah memasuki masa libur sejak 2 hari sebelumnya. Namun pagi itu terlihat sedikit keramaian di lantai bawah PIQ 1. Mereka adalah santri-santri yang rela mengorbankan waktu liburan mereka karena ditunjuk pesantren sebagai delegasi peserta lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten Malang. Setelah bersiap-siap dan sarapan di warung sebelah pesantren, para peserta dengan di dampingi beberapa asatidz pendamping berangkat menuju Turen, lokasi perlombaan, dengan mengendarai mobil Kijang pesantren.

Sesampainya di sana, peserta di haruskan melakukan registrasi dan pengambilan nomor. Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya para peserta mulai berangkat menuju lokasi lomba masing-masing yang cukup jauh. Berhubung sistem penilaian yang berbeda, maka ada beberapa cabang lomba yang baru selesai saat malam. Sambil menunggu lomba selesai, para peserta dan pendamping beristirahat di rumah salah satu santri yang kebetulan berdekatan dengan lokasi perlombaan, yakni Fikri Haikal.

Pada jam 21.00 tepat semua lomba telah usai, namun nama-nama pemenang baru akan diumumkan pada pukul 22.00. Delegasi PIQ memutuskan untuk langsung pulang dan melihat hasil pengumuman lewat website.

Alhamdulillah, setelah 2 hari menunggu tibalah pengumuman. Rupanya perjuangan teman-teman santri tidak sia-sia. Banyak dari mereka yang meraih kemenangan. Mereka adalah M. Rijal Murtadlo, M. Afif Mujahidin, M. Mushoddiq (juara 3 MFQ), M. Imron Zamzami (juara 1 tilawah 5 juz), M. Syauqi Irfan (juara 3 tilawah 1 juz dan juara 1 tartil), M. Izzul Chaq (juara 1 khot) dan A. Fathoni (juara 3 khot). Dengan demikian hampir separuh dari peserta yang dikirim berhasil menang. Total ada 6 piala yang berhasil mereka sumbangkan untuk pesantren.

Selanjutnya pada 11 Januari 2015 lalu, PIQ kembali mengirimkan 3 putra terbaiknya untuk mengikuti lomba dalam rangka maulid di pesantren AN-Nur Bululawang. Pada perlombaan tingkat Jawa Timur ini, PIQ berhasil memboyong 2 piala. Yakni juara 2 lomba kaligrafi atas nama A. Fathoni dan juara 3 lomba olimpiade bahasa arab atas nama M. Lutfi. (syafiq)

Bubar dari kelas Al-Quran dan tafsir, semua asatidz dan santri mendadak diarahkan berkumpul di aula hijau. Rupanya Romo Kyai Basori berinisiatif mengadakan muwajjahah bersama para santri. Ini merupakan hari ketiga sejak Kyai sampai di tanah air sepulang dari melaksanakan ibadah umrah. Para asatidz dan santri yang sudah kangen dengan Kyai, langsung berkumpul secara teratur dan mendengarkan dawuh Romo Kyai dengan antusias.

Kyai Basori membuka acara dengan memberikan doa untuk seluruh hadirin. Selanjutnya Kyai menyampaikan keterangan-keterangan yang berkenaan dengan keutamaan-keutamaan tanah haramain dan umrah. Berikut rangkuman Dawuh Romo Kyai Basori dalam acara muwajjahah:

  1. Hukum umroh pertama kali bagi yang mampu adalah wajib. Mampu di sini mencakup kecukupan harta bagi dirinya dan keluarga yang ditinggal serta memungkinkannya akomodasi (jalan dan kendaraan) untuk menuju ke sana.
  2. Hukum umroh kedua kali adalah sunnah. Jika pada kesempatan kedua ini orang tersebut berniat umroh untuk dirinya sendiri maka dia mendapatkan pahala satu kali umroh. Namun apabila dia berniat untuk mengumrohkan orang lain yang telat wafat, maka si mayit akan mendapatkan pahala satu kali umroh. Sedangkan pelaksana umroh mendapatkan tujuh kali lipat pahala umroh. Bahkan jika si mayit berasal dari keluarganya sendiri, pelaksana umroh akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat.
  3. Di Makkah semua amal akan dilipatgandakan sebanyak 100.000 kali. Sedangkan di madinha, amal akan dilipatgandakan 1000 kali. Hal ini tidak hanya untuk amal kebaikan, namun juga berlaku untuk amal buruk. Oleh karena itu umat muslim harus menjaga diri, niat dan amal ketika berada di sana.
  4. Di Makkah tidak ada pelarangan waktu shalat. Artinya waktu ba’da subuh dan asar yang sejatinya tidak boleh digunakan untuk shalat, di Makkah diperbolehkan. Sehingga para jamaah dapat senantiasa beribadah di sana.
  5. Niat buruk baru akan dicatat sebagai amal keburukan ketika sudah dikerjakan. Namun di Makkah niat buruk sudah berhak dicatat oleh Allah sebagai amal keburukan.
  6. Melihat ka’bah satu kali akan mendapatkan pahala sepuluh kali kebaikan.
  7. Salah satu masjid istimewa di tanah suci adalah Masjid Quba’. Nabi bersabda bahwasanya barang siapa yang shalat satu kali di masjid ini maka ia akan mendapatkan pahala satu kali umroh. (syafiq)

Tampak suasana yang berbeda di dalam pesantren. Pada hari normal biasanya teman-teman santri biasanya masuk ke kelas, namun malam itu semua santri dari kelas 1 sampai kelas 6 tampak memenuhi aula hijau. Tampak juga santri Ribath memenuhi salah satu sudut aula. Hal ini dikarenakan PIQ akan kedatangan tamu penting dari Yaman. Beliau adalah Habib Abdul Qodir Al-Idrus yang menjabat sebagai dekan Fakultas Syariah di Universitas Al-Ahqof dengan didampingi oleh Habib Zain bin Yahya.

Sekitar pukul 20.00, akhirnya tamu yang ditunggu-tunggu datang. Kedua Habib tadi datang dengan diiringi beberapa pendamping lain dari Indonesia. Tampak juga di sana Al-Ustadz Faris Khoirul Anam yang merupakan alumni PIQ sekaligus alumni Universitas Al-Ahqof.

Kunjungan Habib Abdul Qodir dan Habib Zain ke PIQ merupakan salah satu dari rangkaian kunjungan beliau ke beberapa pesantren di Indonesia. Beliau berdua awalnya hanya berkeinginan untuk sowan ke K.H. Basori Alwi, namun atas permintaan khusus dari Kyai akhirnya beliau berdua mau memberikan waktu untuk bermuwajjahah dengan seluruh santri.

Pada kesempatan kali ini Habib Abdul Qodir dan Habib Zain memberikan banyak petuah secara bergantian dalam bahasa arab yang kemudian diterjemahkan langsung dengan fasih oleh Ustad Faris. Diantara petuah beliau adalah memberikan motivasi kepada seluruh santri agar terus semangat belajar mengenai ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Pada bulan Muharram biasanya banyak instansi islam yang mengadakan lomba-lomba bertema islam. Banyak pesantren dan sekolah-sekolah yang kemudian berpartisipasi guna menyemarakkan perayaan Muharram. PIQ tidak mau ketinggalan. Putra-putra terbaiknya banyak yang berpartisipasi dalam lomba tersebut.

Alhamdulillah, PIQ mampu berkompetensi sehingga mampu meraih banyak piala. Yang pertama datangnya dari event lomba yang diadakan oleh yayasan Al-Ma’arif tingkat rayon se-Singosari. Pada kesempatan ini, Khanabi Alwy yang bersekolah di MTs Al-Ma’arif 02 berhasil meraih juara 1 lomba pidato bahasa Indonesia. Sedangkan Muhammad, dari sekolah yang sama, meraih juara 2 lomba pidato bahasa arab. Kedua murid tadi kemudian diikutkan kembali pada Lomba Yayasan Al-Ma’arif tingkat Kabupaten dan lagi-lagi berhasil mendulang piala. Muhammad meraih juara 2 lomba pidato bahasa arab. Sedangkan Khanabi Alwy harus puas mendapatkan posisi juara harapan dua untuk lomba pidato bahasa Indonesia.

Santri-santri PIQ yang bersekolah di MTs Al-Ma’arif 01 tidak mau kalah. M. Izzul Haq yang berasal dari Gresik berhasil mendapatkan juara 1 lomba kaligrafi se-Kabupaten Malang. Ditambah lagi suara merdu M. Irvan Syauqi berhasil menempatkan dia pada juara II lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an pada even Aksioma yayasan Al-Ma’arif tingkat rayon se-Singosari.

Pada tingkat yang lebih tinggi, dua piala nasional berhasil diraih sekaligus di Bulan Muharram ini. Yang pertama datang dari M. Lutfi, santri asal Surabaya. Kepiawaiannya dalam mengarang berbahasa arab berjudul “Bahasa Arab Sebagai Pembentuk Karakter Bangsa” membuat dia meraih juara 1 pada lomba insya’ tingkat Nasional yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN), Malang. Selain itu, M. Lutfi juga mendapatkan juara 2 dalam lomba MTQ cabang Hifdzul Qur’an tingkat SLTA se-Jawa Timur.

Piala nasional kedua diraih oleh salah satu staf pengajar PIQ atas nama Ahmad Syafiqul Umam yang berasal dari Sidoarjo. Tulisannya berjudul “Peran Ekonomi Syariah Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015” mampu mengalahkan 120 artikel dari berbagai penjuru daerah. Setelah masuk 6 besar dan diundang untuk mempresentasikan artikelnya di Pesantren Sidogiri, tempat berlangsungnya lomba, akhirnya ia berhasil meraih juara 2 tingkat nasional untuk kategori umum.

Kabar gembira datang juga dari lomba cabang atletik atas nama Dodik Alifian. Pada lomba yang diadakan Yayasan Al-Ma’arif tingkat rayon, ia berhasil meraih 2 piala sekaligus. Yakni pada lomba Lari 100 meter (juara 2) dan Lomba lompat jauh (juara 3).

Semoga peraihan lomba-lomba tadi dapat memompa semangat santri-santri tadi untuk meningkatkan prestasi mereka. Dan juga memotivasi santri-santri yang lain agar tidak mau kalah dan berusaha menorehkan prestasi untuk dapat membanggakan almameter PIQ. Amien Yaa Robbal Alamiin.

Prosesi acara perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ), Singosari Malang berlangsung sangat meriah. Pada sabtu 3 januari 2015 sekitar pukul 06.30 tampak para santri berduyun-duyun berangkat ke pesantren Ribath al-Murtadlo di jalan Tumapel gang 3 yang juga merupakan kediaman K.H.M. Luthfi Basori, putra dari K.H. Basori Alwi, pengasuh PIQ.

Acara maulid ini juga diikuti oleh para santri dari pesantren lain yang ada di Singosari, diantaranya pesantren Hidayatul Qu’ran, asuhan Ustadz Ali Fikri yang merupakan alumni PIQ, beberapa alumni, warga sekitar dan juga para Habaib.

Perayaan maulid Nabi ini dimulai sekitar pukul 08.30 dengan pembacaan tahlil yang di pimpin oleh para Habaib. Seluruh santri dan para hadirin lainnya tampak begitu khidmat mengikuti pembacaan tahlil ini. Setelah itu acara dilanjutkan dengan mengarak para habaib dari pesantren Ribath menuju PIQ kampus 2. Arak-arakan berlangsung sangat meriah. Lantunan sholawat seakan memecah suasana pagi kota Singosari yang diselimuti mendung.

Barisan peserta arak-arakan memenuhi ruas jalan Tumapel dan membentang sepanjang kurang lebih 50 m. Dalam iringan arak-arakan ini terdapat beberapa kelompok yang memiliki tugasnya masing-masing. Diantaranya para penabuh terbang yang dibawakan oleh tim Atbaul Makin dan beberapa vokalis yang di pimpin oleh Ust. H. Yasin Wasiat, Ust. Ihsan, Ust. Mukhlisin, dan beberapa santri lain sebagai backing vocal, mereka bertugas melantunkan sholawat selama arak-arakan berlangsung. Yang unik dalam prosesi ini para penerbang dan vokalis ini bejalan mundur sepanjang jalan yang dilalui oleh peserta arak-arakan. Namun hal ini ternyata tidak membuat mereka kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Dengan lihainya kedua tim ini menyatu padukan tabuhan terbangan dan lantunan sholawat, ditambah dengan konsentrasi yang tinggi karena mereka harus berjalan mundur.

Arak-arakan menjadi tambah ramai ketika para warga di sepanjang jalan Tumapel beramai-ramai untuk menyaksikan arak-arakan ini. Terlihat pula beberapa warga yang berusaha mengabadikan momen ini dengan merekam dan mengambil foto walaupun hanya menggunakan kamera telefon ganggam. Antusias para warga terhadap acara ini juga tampak begitu tinggi, mereka mengajak anak- anak mereka untuk menyaksikan arak-arakan ini. Semuanya tampak ikut bersholawat kepada baginda nabi Muhammad SAW.

Di sisi lain terdapat pula tim yang bertugas mengibarkan bendera berukuran besar yang bertuliskan lafadz Allah SWT dan Muhammad SAW di sekeliling barisan arak-arakan, juga bendara-bendera kecil yang berwarna-warni. Hal ini menambah kemeriahan dalam arak-arakan ini.

Sejenak sempat terjadi kemacetan kecil di jalan raya utama singosari ketika iringan arak-arakan menyeberang dari jalan Tumapel menuju kampus 2 PIQ. Setelah rombongan arak-arakan menyabrang barisan dapan memecah menjadi dua untuk memberikan jalan kepada para Habaib untuk masuk ke aula utama yang baru kemudian diikuti oleh para tamu dan para santri.

Di dalam aula ternyata telah terdapat pula beberapa santri yang tergabung dalam tim sholawat Syafaatul Qur’an yang dipimpin oleh Ust. Sholihin. Mereka bertugas menyambut para habaib dan rombongan arak-arakan dengan melantunkan qosidah-qosidah.

Setelah semuanya menempati aula utama, acara dilanjutkan dengan pembacaan maulid Simtud Duror yang juga dipimpin oleh pera Habaib. Pembacaan maulid sempat terhenti sejenak ketika pengasuh PIQ, K.H.M. Basori Alwi hadir di tengah majelis. Demi menghormati kehadiran beliau, para Habaib menyempatkan bersama-sama untuk membacakan surat al-Fatihah khusus untuk beliau agar diberi kesembuhan dan kesehatan. Kemudian pembacaan maulid di lanjutkan kembali. Seluruh hadirin mengikuti pembacaan maulid ini dengan penuh khusyuk, terutama ketika Mahallul Qiyam. Gemuruh sholawat menjadikan suasana semakin khidmat. Suara Habaib dan seluruh hadirin bergema memuji Rasulullah dengan diiringi tabuhan terbang yang rancak.

Seusai pembacaan Simtud Duror acara dilanjutkan dengan sambutan singkat oleh K.H.M. Luthfi Basori yang kemudian dilanjutkan dengan acara inti yakni Mauidloh Hasanah oleh habib Hamid Naquib bin Syaikh Abu Bakar dari Jakarta. Beliau menyampaikan kisah-kisah Rasulullah SAW dengan lugas. Seluruh hadirin-pun menyemak apa yang disampaikan oleh beliau dengan penuh khidmat. Setelah sekitar satu jam beliau memberikan Mau’idoh, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a yang dibacakan oleh K.H.M. Basori Alwi.

Sebagai penutup acara, seluruh hadirin disuguhkan dengan jamuan makan siang. Para habaib khususnya dan tamu-tamu undangan dipersilahkan terlabih dahulu untuk pindah ke kampus 1 yang berada di sebelah utara. Sedangkan para santri dan alumni tetap berada di aula utama PIQ 2 untuk melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan. (firman)

By Abdullah Murtadlo

Refleksi Sejarah Kemerdekaan

Tasyakkur agustusan yang kita rayakan setiap tahunnya sejatinya merupakan bentuk melaksanakan perintah Allah swt. Yang kita lakukan saat ini, secara global terdiri dari dua hal, tasyakkur itu sendiri alias bersyukur …

Read More
By Ahmad Syafiq

Oleh-oleh dari Tanah Suci

Bubar dari kelas Al-Quran dan tafsir, semua asatidz dan santri mendadak diarahkan berkumpul di aula hijau. Rupanya Romo Kyai Basori berinisiatif mengadakan muwajjahah bersama para santri. Ini merupakan hari ketiga …

Read More
 
By Ahmad Syafiq

Mendulang Kemenangan di Bulan Muharram

Pada bulan Muharram biasanya banyak instansi islam yang mengadakan lomba-lomba bertema islam. Banyak pesantren dan sekolah-sekolah yang kemudian berpartisipasi guna menyemarakkan perayaan Muharram. PIQ tidak mau ketinggalan. Putra-putra terbaiknya banyak …

Read More
By M. Afiful Hashif

Kemegahan Maulid Nabi 2015

Prosesi acara perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ), Singosari Malang berlangsung sangat meriah. Pada sabtu 3 januari 2015 sekitar pukul 06.30 tampak para santri berduyun-duyun berangkat …

Read More