Milad ke-90 KHM. Basori Alwi Murtadlo
Singosari – Jumat malam (14/4) setelah maghrib terlihat suasana yang berbeda di lorong bawah lantai satu pesantren. Rupanya banyak dari para alumni yang berjubel di sana. Ada apa gerangan? Malam …
Read MoreSingosari – Jumat malam (14/4) setelah maghrib terlihat suasana yang berbeda di lorong bawah lantai satu pesantren. Rupanya banyak dari para alumni yang berjubel di sana.
Ada apa gerangan?
Malam itu adalah malam tasyakkur memperingati Milad pengasuh kami, K.H. Basori Alwi Murtadlo. Jika menurut hitungan masehi usia beliau adalah 90 tahun (K.H. Basori adalah kelahiran 15 April 1927), sadangkan menurut perhitungan hijriyah usia beliau sudah menginjak 93 tahun. Tak terasa usia beliau sudah hampir satu abad.
Setelah isya’ acara dimulai. Aula hijau tempat terselenggaranya acara terlihat sesak dengan jubelan santri dan alumni. Para alumni yang terus berdatangan membuat panitia kaget karena tak mengira bahwa yang datang akan sebanyak itu.
Ketika Kyai tiba, sontak semua hadirin berdiri seraya menggemakan shalawat tala’al badru. Setelah Kyai tiba di kursi beliau, beliau disambut dengan bacaan syi’ir dari seluruh santri yang berisikan lirik ungkapan syukur dan selamat atas kelahiran Kyai. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran yang dibaakan oleh santri junior kelas satu. Sungguh, menikmati suara bacaan al-Quran di tempat di mana al-Quran diajarkan dan di hadapan sang Maestro al-Quran memberikan sensasi yang tidak sanggup diungkapkan.
Setelah pembacaan qiroah selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh perwakilan keluarga Kyai, yakni Gus Kholad Anas, kemudian disusul dengan sambutan dari perwakilan santri sekaligus alumni yang disampaikan oleh Gus Ali.
Setelah sambutan selesai diberikan, tibalah saat pemberian hadiah. Ada banyak hadiah yang diberikan malam itu. Ada empat bingkisan dari pesantren, satu bingkisan dari Ammy Luthfi Basori, dua bingkisan dari santri angkatan 2003 dan satu bingkisan dari kelas eksekutif. Namun pemberian hadiah tidak sampai berhenti di situ, di akhir sesi Gus Murtadlo menyampaikan ada hadiah dari klub literasi. Klub literasi ini beranggotakan santri dan pengurus yang memiliki minat dalam penulisan dan penerbitan, dan Gus Murtadlo merupakan komando klub tersebut. Malam itu ada banyak buku karya klub literasi yang dihadiahkan. Malam itu sekaligus menjadi malam launching penerbitan buku karya klub literasi.
Setelah pemberian hadiah selesai, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Setelah sesi pemotongan selesai Kyai kemudian memberikan mau’idhoh hasanah kepada segenap hadirin. Maudhoh yang diberikan malam itu sejatinya sering disampaikan oleh beliau pada berbagai kesempatan. Namun uniknya para hadirin seakan tak pernah bosan menyimak. Selalu ada hikmah baru yang bisa dipetik dari sana. Kyai Basori menceritakan bagaiaman perjuangan beliau dulu menimba ilmu Al-Quran dan Bahasa Arab, bagaimana penemuan inspirasi beliau sehingga menghasilkan kitab Madarij Durus al-Arobiyyah yang kini melegenda, bagaimana asal mula jargon yang tak pernah lelah beliau bagikan “li kulli syai’in zakaatun wa zakaatul ilmi at’ta’liim”, segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya ilmu adalah mengajar.
Setelah mauidhoh selesai disampaikan, Kyai melanjutkan berdoa sebagai penutup. Di akhir acara para santri dan alumni diberikan hidangan untuk melengkapi acara tasyakkuran malam itu.
Dalam kesempatan umroh, Ustadz Abdul Qodir membawa serta kitab Bil Qolam.
Dalam rangka melanjutkan program pelatihan membaca Al-Quran yang telah dicanangkan oleh Bil Qolam pusat, pada Ahad 12 Februari 2017, kantor cabang Bil Qolam kabupaten Gresik bersama alumni Pesantren Ilmu Al Quran mengadakan rangkaian pelatihan membaca Al-Quran ala PIQ. Namun murobbi arwahina KHM. Basori Alwi selaku founding father Bil Qolam berhalangan hadir dikarenakan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan beliau untuk hadir pada pelatihan ini. Sehingga pada pelatihan kali ini hanya dihadiri oleh Gus Anas Basori selaku Direktur Bil Qolam berikut para tutor dari Bil Qolam pusat, diantaranya Ust. Ahmad Nafi’, Ust. Abdulloh dan Ust. Shohibul Mirbath.
Meski Kyai Basori berhalangan hadir, panitia tetap tidak patah arang untuk tetap menghadirkan sosok beliau di tengah-tengah majlis. Apalagi dengan animo peserta pelatihan yang sangat tinggi akan kehadiran beliau. Dengan seizin beliau, pengurus Bil Qolam Gresik bekerjasama dengan tim TI Pesantren Ilmu Al-Quran menghadirkan sosok murobbi arwahina KHM. Basori Alwi di majelis Bil Qolam Gresik via teleconference sederhana: hanya menggunakan Facebook Messenger plus mic dan LCD proyektor.
Walaupun terkesan sangat sederhana, rupanya hal tersebut tidak menghalangi terjadinya interaksi yang sangat positif antara murobbi arwahina KHM. Basori Alwi dan para peserta pelatihan. Bahkan Kyai Basori bisa memberikan sambutan, doa bahkan mentashih bacaan peserta dengan lancar. Salah satu peserta selepas acara bahkan mengaku girang dengan adanya teleconference tersebut dikarenakan niat beliau mengikuti pelatihan ini selain untuk menerima ilmu membaca Al-Quran juga “ngalap barokah” dari murobbi arwahina KHM. Basori Alwi.
Akhirnya pelatihan Bil Qolam yang pada kesempatan kali ini bertempat di Masjid Agung Gresik bisa berjalan dengan lancar dan sukses.
Selamat kepada seluruh peserta pelatihan. Semoga ilmu yang didapat bisa menjadi berkah dan manfaat.
Satu lagi lembaga pendidikan yang dikelola oleh Pesantren Ilmu Al Quran yang dibawahi oleh struktural Tim Metode Praktis Belajar Al Quran “Bil Qolam” yaitu TPQ Bil Qolam Al-Mabrur. Taman Pendidikan Al Quran Al Mabrur yang dikelola oleh pengurus pusat Tim Bil Qolam memulai pembangunan bangunan fisik TPQ yang berletak di Jl. Ronggowuni Singosari-Malang pada hari Jum’at 10 Februari 2017.
KHM. Basori Alwi, founding father Bil Qolam, meresmikan pembangunan dengan peletakan batu pertama untuk TPQ ini seusai Sholat Jumat. Prosesi peletakan batu pertama ini diawali dengan pembacaan Maulid, sambutan dari pengurus Bil Qolam, kemudian didoakan langsung oleh beliau KHM. Basori Alw.
TPQ Bil Qolam Al Mabrur sedianya ialah Taman Pendidikan Al Quran yang mulai diresmikan sejak tahun 2014. Merintis management serta tata kelola pendidikannya secara mandiri untuk disesuaikan dengan metode asli yang digunakannya yaitu Metode Bil Qolam. Hal ini sangat berhubungan erat lantaran tatkala itu Metode Bil Qolam pun juga baru saja merevisi kembali metode yang notabenenya muncul sejak tahun 90-an tersebut.
Tim pusat yang menginginkan kejelasan tentang management waktu yang digunakan, management pengajaran yang dibutuhkan, dan menegement kelas yang harus disesuaikan menguji cobakan apa yang telah dikonsepkan di TPQ tersebut, walhasil TPQ yang dikelolah ini berhasil mengepakkan sayap selebar-lebarnya hingga memulai untuk membuat bangunan resmi atas nama TPQ Bil Qolam Al-Mabrur.
Hal ini tentu tak lepas dari dukungan semua pihak, kontrol aktif daripada Tim Pengembang Metode Bil Qolam, tehnik pengajaran yang disiplin sesuai schedule pembelajaran oleh para asatidz-asatidzah serta peran penting dari wali santri TPQ Bil Qolam yang selalu mengajak aktif putra-putrinya untuk disiplin mengikuti proses pembelajaran yang ada merupakan suatu kesatuan utuh yang dapat menghasilkan apa yang dicita-citakan oleh semua sehingga TPQ tersebut dapat berkembang statis dan membaik.
Tentunya, doa restu serta dukungannya selalu kami harapkan guna mensukseskan pembangunan ini. Tak mungkin perkembangan ini bisa semakin maju tanpa adanya dukungan dari pihak lain. Dan selalu kita doakan agar pembangunan ini dapat berjalan lancar, membawakan berkah dan manfaat bagi semua pihak dan kelak menjadikan anak-cucu kita merasakan kemanfaatannya.
Dalam rangkaian kegiatan peletakan batu pertama (hajar asasi) pembangunan TPQ Bilqolam “Al-Mabrur”, sebuah nama yang diberikan langsung oleh murabbi arwahina KH.M Basori Alwi, adalah diawali dengan khotmil quran yg terbagi 4 majlis yaitu:
Kemudian break utk melakukan sholat Jumat kemudian prosesi acara peletakan batu 1 dimulai sekitar jam 13.30 yg langsung dibuka oleh murabbi arwahina KHM. Basori Alwi utk batu asasi dan air barakah. Kemudian batu asasi tersebut diterima oleh direktur BQ Gus H.M Anas Basori. Dilanjutkan batu ke 2 oleh perwakilan wali santri dan para dermawan, batu ke 3 oleh ust. Drs. Ali Fikri.
Acara dilanjutkan dengan sambutan singkat atas nama sesepuh Puri Ronggowuni dimana TPQ Bilqolam dibangun, yang juga kebetulan salah satu sahabat putra beliau yaitu Gus H.M Rifat Basori semasa di STM negeri 1 Singosari,yg skrg jadi SMK negeri 1 Singosari, saking senengnya sambutan dari sesepuh tersebut, beliau menyampaikan dan menunjukkan akan kecintaan beliau kepada murabbi arwahina, dengan pesan beliau yg monumental dmn semua yg orang yg pernah ngaji kepada murabbi arwahina pasti hafal yaitu: لكل شيء زكاة وزكاة العلم التعليم, namun beliau menyampaikan artinya saja. Tak hanya itu, bahkan beliau hafal tanggal lahir guru kita. Dengan mantap beliau menyebutkannya dengan keras dan tegas: “tanggal 15 April 1927!”. Rasa syukur itu beliau manfaatkan utk berfoto dengan murabbi arwahina. Karena beliau menjaga betul nasehat orang tuanya, yaitu: “jagalah persahabatan/sambungkan silaturahim teman orang tua kita, yang ternyata murabbi arwahina KHM. Basori Alwi adalah temen dari ayah beliau.
Semangat untuk mengelola dan mengembangkan media PIQ terlihat dari antusias peserta Raker Tim Media PIQ 2017 yang berlangsung di graha Bil Qolam Al Markazy Sidoarjo, Ahad (15/01/2017).
Acara dimulai jam 10.00 pagi dengan sesi pertama, pemaparan Roadmap 2017 Media Dakwah Online PIQ. Materi sesi pertama dipaparkan oleh M. Afiful Hashif, alumni yang sekaligus administrator media online PIQ. Dalam pemaparannya, dia menjelaskan lingkup media online PIQ, mulai dari website induk (www.piqsingosari.com) hingga website Yayasan Pendidikan Ilmu Al Quran (www.yayasanpiq.org). Begitu juga channel YouTube PIQ TV, dan sosmed PIQ. Menurut Konsultan TI di salah satu perusahaan di Surabaya ini, pada tahun 2017, media online PIQ akan mengembangkan sayapnya pada live radio dan video streaming. Sehingga diperlukan SDM yang mumpuni. Afif menuturkan, selama ini kita lemah di eksekusi, maka ini masuk dalam target evaluasi dan pembenahan di tahun ini.
Kemudian sesi kedua adalah pemaparan oleh Gus Abdullah Murtadlo. Beliau banyak memberi pandangan dari sisi estetika dan pengemasan suatu media. Artinya media itu tidak hanya menekankan pada konten, tapi kemasan luarnya juga mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap media tersebut. Beliau juga memberikan referensi media-media islami khususnya media pesantren yang sudah dibuat secara profesional.
Sesi ketiga, pemaparan skema media PIQ oleh ustadz Ulil Abshar. Menurut beliau, unsur media ada tiga, Input (sumber media/bahan), proses (penggalian dari sumber media kemudian diproses sehingga menjadi bahan yang siap dipublikasikan), output (hasil publikasi baik online atau offline). Sumber media PIQ sangat banyak, dari instansi pesantren itu sendiri, Kiai, putra Kiai, para ustadz, santri, dan alumni. Potensi inilah yang perlu digali dan dikelola sehingga menjadi khazanah PIQ.
Setelah ishoma, dilanjutkan dengan penyusunan pekerjaan dan pembagian tugas untuk masing-masing jabatan. Sesi ini dipandu langsung ustadz Afandi, ketua Tata Usaha dan sekretaris umum PIQ. Sesi ini berakhir jam 16.00. Setelah istirahat dan sholat Asar, sesi terakhir dilanjut dengan resume dan penutup.
Setelah sholat Maghrib, peserta melakukan kunjungan ke ustadz Nur Yasin Shirotol Mustaqim, seorang alumni yang juga pejabat Kemenag Jatim, di panti asuhan Qurany Nurul Faizah Surabaya. Dari beliau, tim Media Online PIQ mendapatkan motivasi dan arahan tentang IT khususnya terkait dengan media pesantren. Tak hanya motivasi, tim juga mendapat arahan teknis mengenai live streaming dan pemanfaatan SMS Center untuk platform komunikasi antara pesantren dengan wali santri.
Alhamdulillah, ucapan itulah yang tersirat di lisan seluruh santri dan asatidz di saat melihat Pengasuh berjalan memasuki aula dalam rangka ijtima’ (4/1/17) setelah kepulangan beliau dari menunaikan ibadah umroh bersama rombongan keluarga ndalem. Wajah beliau terlihat ceria, fisik beliau terlihat segar bugar tidak terlihat keletihan sedikitpun.
Acara diawali dengan pembacaan doa oleh Kiai. Kemudian sambutan singkat oleh Gus Murtadlo. Setelah itu tibalah giliran Kiai memberikan petuah beliau kepada para santri sepulang dari menunaikan umroh kali ini.
Dalam petuahnya, Kiai bercerita bahwa peserta umroh kali ini adalah Kiai, Bu Nyai Hj. Qomariyah, Gus Faiz Basori, Ning Ummu Basori, dan delapan cucu beliau yang belum pernah umroh. Dengan demikian maka semua anggota keluarga inti Kiai telah melaksanakan umroh. Perjalanan beliau pada umroh kali ini adalah 13 hari. 2 hari untuk perjalanan, 6 hari di Madinah dan 5 hari di Makkah.
Beliau mengungkapkan syukur karena bisa sering menunaikan shalat di masjid Nabawi yang pahalanya dilipatkan 1000x lipat dibandingkan di masjid lainnya. Beliau senantiasa membaca surat Al-Ikhlas kapanpun dan dimanapun saat berada di haramain. Beliau bertemu dengan alumni-alumni PIQ dan alumni majlis ta’lim masjid Jamik Malang, baik di Makkah maupun Madinah. Salah satunya adalah alumni bernama ust Atho’illah asal Sidoarjo. Ustad Atho’ kini telah tinggal di Jeddah dan menjadi pembimbing Haji dan Umroh. Rupanya Ustad Atho’ ini menggunakan buku tulisan Kiai untuk mengajarkan manasik kepada jamaahnya (dalam koridor madzhab Imam Syafi’i).
Kiai juga bercerita mengenai pengalaman-pengalaman beribadah di sana. Bahwasanya dalam melaksanakan Haji dan Umroh memang sangat sulit jika hanya berpegangan pada 1 madzhab dalam pelaksanaannya. Semisal dalam praktik thowaf. Jika terus menganut madzhab imam Syafi’i, yang menyatakan bahwa persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram adalah membatalkan wudhu, maka thawaf tidak akan bisa dilaksanakan. Untungnya kita diperkenankan berpindah madzhab dalam rangka memudahkan kita dalam beribadah. Nanti ketika kita kembali ke Indonesia, maka kita kembali mengikuti madzhab Imam Syafi’i.
Menurut Kiai, Orang haji yang sedang ihram akan memiliki banyak larangan. Diantaranya orang ihram yang berthawaf haruslah suci dari hadats kecil dan hadats besar. Untuk Hadats kecil mudah ditahan, namun hadats besar sulit ditahan. Semisal perempuan yang sedang haid yang akan melaksanakan thawaf. Maka dia otomatis terlarang masuk ke wilayah Masjidil Haram. Untuk ibadah haji tidak menjadi masalah karena jangka waktunya yang panjang. Yang repot adalah ketika melaksanakan umroh dengan jangka waktu yang terbatas. Maka perempuan ini bisa lepas dari larangan ihram melalui pembayaran dam. Orang umroh atau haji bisa melakukan haji atau umroh bersyarat. Semisal dengan mengatakan (yang kira-kira artinya): “andaikata ada sesuatu yang menghalangiku untuk meneruskan ibadah, maka di tempat itu dan saat itulah aku bertahallul (membatalkan ihram).” Dengan ini maka pelaku umroh telah lepas dari ibadahnya tanpa harus membayar dam.
Beliau juga berkesempatan beribadah di dalam Roudhoh. Beliau diprioritaskan masuk ke dalam ruangan Roudhoh, dikarenakan memakai kursi roda dengan alasan kesehatan. Di Madinah ada Masjid Quba. Di mana shalat 2 rakaat di sana pahalanya sama dengan 1 kali umroh.
Ketika di Makkah, beliau berkesempatan untuk silaturahmi ke pesantren yang diasuh oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki. Alhamdulillah kali ini Syaikh Ahmad mengundang secara khusus seluruh keluarga Kiai beserta keluarga perempuan. Padahal biasanya tidak dibolehkan. Bahkan beliau diundang masuk ke dalam kamar tempat wafatnya Abuya. Beliau juga diberi bingkisan oleh Syaikh Ahmad yang berisi surban, potongan kiswah (kain penutup ka’bah) dan juga minyak wangi.
Jakarta – Jumat, 2 Desember 2016
Pukul 3.30 saya terbangun karena kaki saya tersenggol orang-orang yang berlalu-lalang. Saya duduk, dan ketika membuka mata saya melihat masjid sudah full putih. Tanda kehidupan sudah menggeliat. Semua sumringah, semua membara.
Kami pun siap-siap berwudhu dan melaksanakan hajat secukupnya. Dengan jumlah jamaah yang demikian banyaknya, mandi sudah bukan menjadi prioritas lagi. Seusai sholat Shubuh, kami langsung berjalan kaki menuju Monas. Kami ingin dapat shaf terdepan. Kami memutuskan jalan kaki dari Kwitang. Jaraknya sekitar 1.5km. Mau bilang capek? Malu sama jamaah dari Ciamis. Hehehe..
Di tengah perjalanan, kami bertemu jamaah dari berbagai daerah. Masing-masing dari kami saling tebar salam dan senyum. Persaudaraan muslim kental menyeruak. Di mana-mana kami ditawari makanan dan minuman gratis. Kami sampai sungkan menolak. Kalau kami terima semua, mungkin kami bisa buat kantin kecil seperti di pondok.
Sesampainya di Monas, rupanya di sana sudah padat jamaah. Ada yang datang sendiri, ada yang bersama keluarga, ada yang bersama jamaah. Di berbagai sudut penjuru mata angin telah tersedia toilet dan tempat wudhu.
Rupanya kami salah arah, tempat yang kami jujuk ternyata gerbang khusus akhwat-akhwat. Kami harus berjalan lewat arah lain. Kami pun segera menuju ke sana. Di tengah berjalan kami berhenti sejenak untuk menuntaskan hajat.
Seusai menuntaskan hajat, kami pun masuk lapangan Monas. Ah, kami gagal dapat shaf terdepan. Tapi tak apalah, dari posisi shaf kami, kami masih bisa melihat panggung dengan jelas. Apalagi juga ada pengeras suara tepat di hadapan kami.
Waktu masih menunjukkan pukul 06.00.
Dan acara inti sendiri dimulai pukul 08.00
Pra acara dimulai dengan sambutan dari penyanyi nasyid kembar dari FPI. Kami diajarkan lagu mars Aksi Bela Islam dengan lirik yang menggugah semangat.
Pembawa acara memberikan pengantar mengenai tujuan aksi hari ini. Satu kata yang paling kentara, yakni DAMAI.
Di waktu-waktu ini ada beberapa “kericuhan” yang jenaka. Diantaranya adalah saat pembawa acara melihat banyak jamaah yang menggelar sajadah di atas rumput. Maka MC menghimbau agar pergi dengan kata-kata, “Pak, jangan disitu dong. Nanti bikin senang media dan wartawan. Ntar mereka gak nyorot acara ini, tapi nyorot rumput yang rusak!”
Hadirin yang mendengar ini langsung serentak berdiri berteriak ke arah lapangan rumput.
“Turun, Pak!”
“Ntar di shooting ama si Metro,”
“Metro pergi, Metro pergi, Metro TV tukang bohong!”
Memang di berbagai sudut, kami melihat awak media sudah mengambil posisi nyaman di berbagai spot. Pengamanan juga maksimal. Terlihat beberapa kali kamera drone dan helikopter mengawasi.
Pukul 8 TEPAT, acara pun dimulai. Tidak telat barang semenitpun.
Acara dimulai dengan sambutan (saya lupa siapa yang bertugas) saat ini langit masih mendung. Sesekali gerimis tipis mampir.
08.13 – Opick berdiri dan mengajak jamaah bershalawat. Semua hanyut dalam shalawat. Shalawat seakan menjadi pemicu paling ampuh untuk membakar semangat kami.
08.36 – Kapolri masuk. Yang heran, saat Pak Tito masuk, langit yang awalnya sejuk mendadak panas.
08.37 – pembacaan ayat suci Al-Quran dengan lagu tartil (udara masih panas lembab).
09.00 – Habib Muhammad Al-Haddad membaca Sholawat Ad-Diba’i. Beliau hanya membaca 2 rowi. Suara beliau mungkin tak seindah Muammar Z.A., tapi penghayatannya tiada duanya. Sesekali beliau terisak tak kuat menahan mahabbah. Hadirin hening. Langit tiba-tiba memendung kembali.
09.20 – Kapolri Tito memberikan sambutan. Belum sampai menyelesaikan kata-kata, koor hadirin langsung membahana menyuruh Tito mundur. Ustadz Bachtiar Nasir langsung berdiri. Alih-alih menenangkan, beliau malah mengajak jamaah untuk meneriakkan jargon “Tangkap, tangkap, tangkap si Ahok! Tangkap si Ahok sekarang juga!”
09.35 – Ustadz Arifin Ilham mengajak berdzikir dan bershalawat bersama. Di akhir, beliau berdoa dengan penuh terisak. Kata-kata doa beliau sangat menyentuh sanubari hadirin. Semua larut dalam kekhusyukan. Tak ada yang malu menangis di sini. Yang mengherankan, saat momen ini langit seakan turut menangis dengan turunnya gerimis tipis.
10.05 – Hidayat Nur Wahid memberikan tausiah. Beliau banyak memasukkan unsur historis mengenai perjuangan umat islam dalam membela NKRI. Beliau dengan tegas menampik bahwa aksi 212 ini adalah makar.
10.15 – Syaikh Ali Jabir memimpin hadirin untuk membaca 10 ayat awal dari surat Al-Kahfi. Karena banyak hadirin yang hafal dan ikut membaca, maka suara Al-Kahfi terdengar syahdu di penjuru langit ibukota, Jakarta.
10.20 – Habib Abdurrahman As-Segaf mengajak hadirin membaca doa khotmil Quran singkat (allahummarhamna bil quran…) tiga kali.
10.25 – Ustadz Bachtiar Nasir memberikan orasi yang membakar semangat.
10.30 – Ketika hadirin memanas, maka tibalah aa’ Gym memberikan tausiah. Materi yang disampaikan dengan gaya kalem namun jenaka mampu meredam suasana menjadi lebih tenang. Diantara materi yang beliau sampaikan adalah:
11.07 – K.H. Syaifudin Amsir memberikan tausyiah.
11.14 – K.H. Didin Hafidudin memberikan tausyiah.
11.25 – K.H. Habib Nabil Al-Musawwa memberikan tausyiah. Tausyiah beliau singkat tapi mengena. Poin yang kami ingat adalah saat beliau mengatakan, “kenapa saya bela-belain datang ke sini? Karena nanti pas di alam kubur, terus ditanya malaikat apa kitabmu, dan saya jawab Al-Quran, saya takut ditanya lagi sama malaikat, “terus kamu ke mana pas dulu ayat Allah dilecehkan?”
11.32 – Habib Umar Shahab membacakan doa. Gerimis mulai turun lagi.
11.42 – Adzan sholat jum’ah mulai dikumandangkan. Saat ini gerimis berubah menjadi hujan. Tidak lebat, tapi cukup membuat kami basah kuyup. Yang mengherankan tidak ada dari hadirin yang beranjak dari tempat. Semuanya rela diguyur hujan. Tak peduli lagi soal pakaian. Luluh lantak sudah semua beban. Hujan membaur bersama air mata tangisan.
Habib Riziq lantas bertindak sebagai khatib sholat Jumat. Diantara poin yang kami tangkap adalah:
Selanjutnya shalat Jumat pun dilaksanakan. Hujan masih betah menghujam.
12.30 – Shalat jumat telah usai, Jokowi kemudian berdiri memberikan sambutan. Tapi apa yang terjadi? Hadirin semburat bubar. Tak ada yang memperhatikan. Jokowi terabaikan.
Berangsur-angsur jamaah pulang kembali lewar berbagai arah dengan tertib. Sama sekali tidak ada aksi anarki menonjol. Bahkan aparat TNI dan POLISI diajak berselfi oleh orang-orang.
Rombongan PIQ sendiri memilih istirahat di Kwitang sampai maghrib menjelang. Karena macet tidak bisa diabaikan.
Kami pun sampai rumah sekitar pukul 19.30. Kemudian kami shalat Isya’. Setelahnya kemudian kami makan malam dengan menu ayam bumbu bali dan sayur kangkung, dan akhirnya terlelap dihanyut payah.
—
Ditulis oleh Ustadz Ahmad Syafiqul Umam
Disunting seperlunya oleh M. Afiful Hashif
Salah satu pejuang 10 November 1945 yang masih hidup hingga kini adalah KHM. Basori Alwi Murtadlo, pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) Singosari. Menurut beliau, perjuangan bangsa Indonesia saat itu sangat heroik. Termasuk perjuangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia melawan tentara Inggris yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) atas keputusan dan atas nama blok sekutu.
Sebagai salah satu pelaku sejarah dalam peristiwa tersebut, beliau mengatakan, di masa itu memang semangat juang umat Islam sangat besar. Apalagi setelah adanya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Bahkan, para pemuda Islam merasa bangga ikut perang melawan penjajah (baik Belanda maupun Jepang). “Para pemuda Islam merasa bangga ikut perang,” kata kiai kelahiran Singosari 15 April 1927 ini.
Beliau mengatakan, dirinya saat itu masih berumur sekitar 18 tahun. Beliau merasa terpanggil untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Beliau mengaku tak punya rasa takut sedikitpun saat akan mengikuti jihad melawan tentara Inggris. “Begitu ada Resolusi Jihad, umat Islam kompak, kami tidak takut mati,” kenang Kiai Basori.
Waktu itu, kenang beliau, sebelum pecah pertempuran 10 November (kira-kira tanggal 9 November), beliau berangkat dari Singosari ke Surabaya naik oplet sendirian. “Saya membawa tombak warisan ayah saya (Alwi Murtadlo),” kenang putra pasangan Kiai Alwi Murtadlo dan Nyai Riwati ini dengan nada bersemangat.
Sesampainya di Surabaya, Basori muda bergabung dengan para santri dan umat Islam dari berbagai penjuru di Jawa Timur. Kiai Basori mengatakan, jumlah umat Islam saat bergabung saat itu sangat banyak. “Saya tidak tahu jumlahnya, tapi banyak sekali,” ujar kiai kharismatik ini.
Menurut beliau, saat itu yang terjadi adalah pertempuran yang dari segi persenjataan, tidak seimbang. Karena ribuan umat Islam yang berada di medan perang hanya bersenjatakan pedang, bambu runcing, tombak, celurit dan sejenisnya. Meski ada juga tentara Indonesia yang membawa senapan. Sedangkan tentara Inggris datang dengan persenjataan lengkap dan modern. Tetapi semangat jihad membela agama dan bangsa yang begitu kuat membuat tentara Inggris keder. “Mungkin mereka grosi dihadang begitu banyak orang, ujar Kiai Basori.
Karena persenjataan yang tidak seimbang, banyak sekali mujahid yang gugur di medan tempur. Tetapi itu sama sekali tidak menyurutkan semangat umat Islam untuk mengusir penjajah. Perlawanan pun terus dilakukan. Dari sejumlah literatur, korban dari pejuang Indonesia berkisar 6000-16000 orang yang meninggal. Sedangkan dari tentara inggris sekitar 600-1000 tentara yang mati.
Setelah pertempuran 10 November, Kiai Basori pulang ke Singosari. Saat itu terjadi aksi bumi hangus. Beliau melihat bangunan-bangunan milik Belanda dibakar oleh masyarakat. Bahkan, bangunan di pinggir Jalan Raya Singosari juga banyak yang dibakar. “Nah rumah ayah saya saja yang tidak dibakar, karena dijadikan markas perlawanan. Rumah ayah saya itu kemudian menjadi pondok pesantren ilmu al quran (PIQ) saat ini,” terang ayah dari 6 anak tersebut.
Diceritakan Kiai Basori, ketika di Singosari beliau juga sering melakukan perlawanan kepada Jepang. Salah satu caranya, beliau dan para pemuda menghadang mobil yang dikendarai orang Jepang. Di tengah jalan, beliau mengacungkan tombak kepada mobil yang lewat agar berhenti. Begitu mobil berhenti, maka dilihat siapa pengemudinya dan menggeledah isi mobil. Jika pengemudinya orang Jepang, akan diminta senjatanya. Setelah senjata diberikan, pengemudi bisa melanjutkan perjalanan.
“Biasanya saya melakukan di rel kereta api Singosari itu. Saya bawa tombak,” ujarnya. Dengan cara seperti itulah pejuang Indonesia bisa mendapatkan senjata api.
Dikutip dari Radar Malang 10 November 2016 dengan perubahan seperlunya.
SURAT TERBUKA
“PESANTREN ILMU AL QURAN SINGOSARI MALANG”
KEPADA PRESIDEN RI, IR. JOKO WIDODO TERKAIT PENISTAAN AGAMA
OLEH GUBERNUR DKI
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Salam, Kepada Bapak Presiden, Ir. Joko Widodo.
Mohon maaf sebelumnya, jika kami menyita sedikit waktu Bapak.
Bapak Presiden,
Setelah kami mendengar secara lengkap video Dialog Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan warga Kepulauan Seribu, 27 September 2016, maka kami menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Sdr. Basuki Tjahaja Purnama itu sangat melukai hati seluruh umat Islam, karena ucapannya itu mengandung penistaan dan pelecehan terhadap Al Quran, kitab suci umat Islam.
Khususnya kami para pengasuh, guru dan pengurus Pesantren Ilmu Al Quran Singosari Malang yang setiap hari mengajarkan Al Quran beserta nilai-nilai kebaikan yang tersurat maupun yang tersirat di dalamnya, kepada seluruh anak didik serta masyarakat luas, kami sangat keberatan atas pernyataan Sdr. Basuki Tjahaja Purnama terhadap Surat Al-Maidah 51.
Untuk itu, kami mohon kepada Bapak Presiden, Ir. Joko Widodo agar bersedia memecat secara tidak terhormat Sdr. Basuki Tjahaja Purnama dari jabatan Gubernur DKI, dan memprosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia, atas dugaan adanya penistaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
Menurut kami, sangat tidak pantas dan tidak baik bagi pendidikan generasi penerus bangsa, jika mendapati seorang pelaku penistaan agama dipertahankan menjadi pejabat publik sekelas Gubernur DKI Jakarta yang merupakan Ibu Kota Negara Indonesia, serta jabatan publik di manapun, karena dikhawatirkan berpengaruh negatif bagi akhlak anak didik, terlebih jika mengakibatkan disintegrasi bangsa di tengah masyarakat.
Demikian dan atas perhatian serta kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Malang, 15 Oktober 2016
Tertanda,
Pengasuh: KHM. Basori Alwi
Ketua Umum: KH. Luthfi Basori
Kepala Madrasah: H. Yasin Wasiat
Sekretaris Umum: Achmad Afandi
Singosari – Jumat malam (14/4) setelah maghrib terlihat suasana yang berbeda di lorong bawah lantai satu pesantren. Rupanya banyak dari para alumni yang berjubel di sana. Ada apa gerangan? Malam …
Read MoreDalam kesempatan umroh, Ustadz Abdul Qodir membawa serta kitab Bil Qolam.
Read MoreDalam rangka melanjutkan program pelatihan membaca Al-Quran yang telah dicanangkan oleh Bil Qolam pusat, pada Ahad 12 Februari 2017, kantor cabang Bil Qolam kabupaten Gresik bersama alumni Pesantren Ilmu Al …
Read MoreSatu lagi lembaga pendidikan yang dikelola oleh Pesantren Ilmu Al Quran yang dibawahi oleh struktural Tim Metode Praktis Belajar Al Quran “Bil Qolam” yaitu TPQ Bil Qolam Al-Mabrur. Taman Pendidikan …
Read MoreSemangat untuk mengelola dan mengembangkan media PIQ terlihat dari antusias peserta Raker Tim Media PIQ 2017 yang berlangsung di graha Bil Qolam Al Markazy Sidoarjo, Ahad (15/01/2017). Acara dimulai jam …
Read MoreAlhamdulillah, ucapan itulah yang tersirat di lisan seluruh santri dan asatidz di saat melihat Pengasuh berjalan memasuki aula dalam rangka ijtima’ (4/1/17) setelah kepulangan beliau dari menunaikan ibadah umroh bersama …
Read MoreJakarta – Jumat, 2 Desember 2016 Pukul 3.30 saya terbangun karena kaki saya tersenggol orang-orang yang berlalu-lalang. Saya duduk, dan ketika membuka mata saya melihat masjid sudah full putih. Tanda kehidupan …
Read MoreSalah satu pejuang 10 November 1945 yang masih hidup hingga kini adalah KHM. Basori Alwi Murtadlo, pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) Singosari. Menurut beliau, perjuangan bangsa Indonesia saat itu sangat …
Read MoreSURAT TERBUKA “PESANTREN ILMU AL QURAN SINGOSARI MALANG” KEPADA PRESIDEN RI, IR. JOKO WIDODO TERKAIT PENISTAAN AGAMA OLEH GUBERNUR DKI السلام عليكم و رحمة الله و بركاته Salam, Kepada Bapak …
Read More
Komentar Terbaru