BILQOLAM berkibar di Yayasan Pendidikan Ta’miriyah Surabaya

Sinergi adalah kata kunci. Kolaborasi adalah solusi. Karenanya, Senin (22/7/19), Gus H.M. Anas Basori selaku Direktur Pusat Metode Praktis Belajar Al Quran BILQOLAM Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ) Singosari Malang -yang diasuh oleh KH.M. Basori Alwi berkunjung dan sekaligus sebagai Guru Besar Al Quran Metode Bilqolam- berkonsolidasi ke Yayasan Pendidikan Surabaya dalam rangka membangun sinergi untuk berkolaborasi.

Yayasan Pendikan Ta’miriyah Surabaya memiliki unit-unit pendidikan meliput : Kelompol Belajar (KB), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan jumlah peserta didik sekitar 950 siswa/siswi.

Dalam pertemuan ini merupakan yg kesekian kalinya, setelah beberapa pertemuan sebelumnya yg telah dilakukan berupa pembinaan guru.

Pertemuan kali ini ada pertemuan antara Direktur Bilqolam Pusat PIQ Singosari Malang bersama ketua Yayasan Pendidikan Ta’miriyah, Kepala KB, Kepala SD, Kepala SMP, Kepala SMA beserta ketua bidang Al Quran masing-masing.

Selanjutnya, mulai bulan Juli 2019 ini, kitab Bilqolam PIQ resmi menjadi bahan ajar pembelajaran Al Quran di lingkungan Yayasan Pendidikan Ta’miriyah Surabaya.

Allahummarhamnaa bil Quran.
Semoga selajutnya lebih maju & sukses. Aamiin.

Surabaya, 22 Juli 2019

Dari kiri KH.M. Basori Alwi , Ustadz Abdullah Murtadlo dan Habib Umar Bin Zein bin Ibrahim bin Smith ketika mengisi muhadhoroh bersama Santri Pesantren Ilmu Al Quran

Malam ini, Ahad, 21 Juli 2019, untuk yang kesekian kalinya Pesantren Ilmu Al Quran(PIQ) kedatangan tamu mulia. Untuk kali ini, beliau adalah ahli fiqih yang berasal dari salah satu tanah haram, yakni Madinah. Nama lengkap beliau adalah Al Habib Umar bin Zain bin Ibrahim bin Smith. Beliau adalah putra mahkota dari Al Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, yang merupakan seorang Mufti di Kota Madinah. Tujuan datangnya beliau ke PIQ adalah untuk temu kangen dengan KH. M. Basori Alwi Murtadlo. Dan seperti tamu-tamu mulia yang sebelumnya, beliau juga mengharap barokah pengasuh PIQ, KH. M. Basori Alwi Murtadlo.

                Beliau datang dengan rombongan dan di antara mereka adalah penerjemah yang bernama Al Habib Haidar Mauladdawilah. Kedatangan beliau disambut oleh santri-santri PIQ dengan iringan sholawat marhaban. Kemudian, beliau menyampaikan nasihat-nasihat untuk para santri. Di awal muhadoroh, beliau mengatakan bahwasannya harusnya para santri bersyukur karena masih termasuk ke dalam golongan orang-orang mukmin dan karena masih bisa belajar ilmu Al Quran dan masih berkesempatan menjadi ahli Quran. Maka dari itu beliau menghimbau agar kita selalu membaca Al Quran dan mengamalkannya. Dan beliau juga menyampaikan bahwasannya umat muslim disebut sebagai Al Ummah Al Quraniyah. Beliau menunjukkan ketawadhuan beliau dengan menukil kalam dari Al Habib Alwi Al Haddad yang berbunyi, “Kita sesama umat Islam hendaknya saling memberikan nasihat satu sama lain”.

                Beliau juga mengatakan bahwasannya tidak ada seorang pun, bahkan mufassir sekalipun yang mampu menafsirkan seluruh makna yang terkandung di dalam Al Quran. Karena mereka menggunakan akal, sedang akal manusia adalah terbatas. Jangankan per ayatnya, per huruf dari Al Quran memiliki banyak makna. Seperti yang telah difirmankan oleh Allah di dalam Al Quran yang artinya, “ Sesungguhnya kami tidak memberi kalian ilmu kecuali sedikit”. Akan tetapi Allah memudahkannya dengan Nabi Muhammad SAW. Beliau mengatakan bahwasannya andaikata Nabi Muhammad tidak pernah mengucapkan Al Quran, maka seluruh umat tidak akan mampu mengucapkannya.

                Beliau berkata bahwasannya santri-santri PIQ beruntung bisa duduk di hadapan para ulama’ dan memiliki pengasuh yang ahli Quran dan sanadnya tersambung hingga Rosulullah SAW. Dan seyogyanya ketika ada ulama’, janganlah hanya memandangnya saja, akan tetapi memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. Beliau berpesan, sebagai santri seharusnya menjaga adab kepada gurunya serta menjaga hati agar tidak suudzon kepada gurunya dan agar menjadi ahli khidmad. Beliau merumuskan bahwa santri yang memiliki adab, ilmu, dan ahli khidmad sebagai orang yang beruntung. Sedangkan santri yang memiliki ilmu, tapi tak punya adab disebut santri yang kurang beruntung.

                Sebagai seorang santri, seyogyanya kita bersusah payah terlebih dahulu. Karena santri yang khusyu’ dan khidmad, ia akan menjadi ulama dan merasa takut kepada Allah. Beliau menukil syair dari Imam Syafi’i yang artinya, “Ingatlah kau tak akan memperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara, aku akan menjelaskan kepadamu dengan jelas. Memperhatikan ilmu, semangat dalam belajar, bersungguh-sungguh, ada bekal, petunjuk guru, dan masa yang lama”.

                Beliau menutup muhadoroh beliau dengan meminta doa kepada KH. M. Basori Alwi Murtadlo. Akan tetapi sebelum itu beliau meminta salah seorang dari rombongan beliau untuk membacakan sebuah qosidah. Kemudian setelah pembacaan qosidah dan doa, beliau dipersilahkan untuk jamuan khusus bersama KH. M. Basori Alwi Murtadlo di kediaman beliau.

Oleh: Abdullah Murtadho
(Ketua Persatuan Pelajar Ribath Alawiyah Hadramaut Yaman)

Para ulama di Nusantara sejak dulu menganjurkan memperbanyak bersedekah di bulan Shafar untuk menolak balak. Sedekah tersebut oleh masyarakat kita ditradisikan dalam bentuk bubur safar. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penolakan bala. Lebih-lebih Rabu terakhir dalam setiap bulan dianggap sebagai hari terjadinya sial berdasarkan hadits berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي. (الإمام الحافظ جلال الدين السيوطي، الجامع الصغير في أحاديث البشير النذير، ١/٤، والحافظ أحمد بن الصديق الغماري، المداوي لعلل الجامع الصغير وشرحي المناوي، ١/۲٣).

Nabi saw bersabda: “Rabu terakhir setiap bulan adalah hari sial terus”.

Selain itu juga sebagai upaya menyelisihi orang yang menganggap sial Bulan Shafar. Sebab Rasulullah saw menyatakan tidak ada kesialan di bulan Shafar.

عن أبي هريرة قال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا عدوى ولا صفر ولا هامة

Dari Abi Hurairah r.a sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: tidak ada penyakit menular; Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar; Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang. ”

Maka berdasarkan hal ini, justru di bulan Shafar ini kaum muslimin melakukan banyak kegiatan, utamanya ketaatan-ketaatan seperti bersedekah atau berkumpul bersama di suatu tempat untuk berdzikir bersama-sama, mengadakan pengajian bahkan sholat sunnah yang terkadang disebut sebagai shalat rabu wekasan. Ini semua dilakukan guna menyelisihi orang-orang yang takut melakukan apapun, baik keluar rumah atau kegiatan lainnya hanya karena khawatir akan mendapatkan kesialan dalam kegiatan mereka.

Terkait dengan hadits diatas, Al Hafizh Ibn Rajab Al Hanbali, ulama rujukan salafi dan murid Syaikh Ibn Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan kalimat “walaa shafar” sebagai berikut:

أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَسْتَشْئِمُوْنَ بِصَفَر وَيَقُوْلُوْنَ: إِنَّهُ شَهْرٌ مَشْئُوْمٌ، فَأَبْطَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَلِكَ، وَهَذَا حَكَاهُ أَبُوْ دَاوُودَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ الْمَكْحُوْلِيِّ عَمَّنْ سَمِعَهُ يَقُوْلُ ذَلِكَ، وَلَعَلَّ هَذَا الْقَوْلَ أَشْبَهُ اْلأَقْوَالِ، وَ كَثِيْرٌ مِنَ الْجُهَّالِ يَتَشَاءَمُ بِصَفَر، وَ رُبَّمَا يَنْهَى عَنِ السَّفَرِ فِيْهِ، وَالتَّشَاؤُمُ بِصَفَر أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَسْتَشْئِمُوْنَ بِصَفَر وَيَقُوْلُوْنَ: إِنَّهُ شَهْرٌ مَشْئُوْمٌ، فَأَبْطَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَلِكَ، وَهَذَا حَكَاهُ أَبُوْ دَاوُودَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ الْمَكْحُوْلِيِّ عَمَّنْ سَمِعَهُ يَقُوْلُ ذَلِكَ، وَلَعَلَّ هَذَا الْقَوْلَ أَشْبَهُ اْلأَقْوَالِ، وَ كَثِيْرٌ مِنَ الْجُهَّالِ يَتَشَاءَمُ بِصَفَر، وَ رُبَّمَا يَنْهَى عَنِ السَّفَرِ فِيْهِ، وَالتَّشَاؤُمُ بِصَفَر هو من جنس الطيرة المنهي عنه.

“Yang dimaksud dengan bahwasannya orang-orang jahiliyah konon mengaitkan kesialan dengan bulan Safar. Mereka mengatakan sesungguhnya Safar adalah bulan yang dianggap sial. Lantas Nabi saw membatalkan hal tersebut. Ini dikisahkan oleh Abu Daud dari Muhammad bin Rasyid al Makhuliy dari orang yang beliau dengar mengatakan hal tersebut dan barangkali ucapan ini adalah ucapan yang paling menyerupai. Dan banyak orang jahil menganggap sial pada bulan Safar dan tak jarang melarang berpergian pada bulan itu. Ini merupakan thiyarah yang dilarang.”

Pada kitab yang lain beliau juga menjelaskan, yang mana penjelasan beliau ini menjadi hujjah bagi pelaku tradisi bubur safar dan tradisi yang tidak keluar syariat lainnya seputar bulan Shafar. Beliau mengatakan:

وَالْبَحْثُ عَنْ أَسْبَابِ الشَّرِّ مِنَ النَّظَرِ فِي النُّجُوْمِ وَنَحْوِهَا مِنَ الطِّيَرَةِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا، وَالْبَاحِثُوْنَ عَنْ ذَلِكَ غَالِبًا لَا يَشْتَغِلُوْنَ بِمَا يَدْفَعُ الْبَلَاءَ مِنَ الطَّاعَاتِ، بَلْ يَأْمُرُوْنَ بِلُزُوْمِ الْمَنْزِلِ وَتَرْكِ الْحَرَكَةِ، وَهَذَا لاَ يَمْنَعُ نُفُوْذَ الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْتَغِلُ

بِالْمَعَاصِيْ، وَهَذَا مِمَّا يُقَوِّيْ وُقُوْعَ الْبَلاَءِ وَنُفُوْذَهُ، وَالَّذِيْ جَاءَتْ بِهِ الشَّرِيْعَةُ هُوَ تَرْكُ الْبَحْثِ عَنْ ذَلِكَ وَاْلإِعْرَاضُ عَنْهُ وَاْلإِشْتِغَالُ بِمَا يَدْفَعُ الْبَلاَءَ مِنَ الدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالصَّدَقَةِ وَتَحْقِيْقِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاْلإِيْمَانِ بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ.

(الإمام الحافظ الحجة زين الدين ابن رجب الحنبلي، لطائف المعارف، ص/١٤٣).

“Mencari sebab-sebab keburukan berupa melihat kepada bintang-bintang (ahli nujum) dan semisalnya merupakan thiyarah yang dilarang. Dan mereka yang sibuk mencari kaitan hal tersebut biasanya tidak menyibukkan dirinya dengan ketaatan yang justru bisa menolak bala. Bahkan mereka memerintahkan agar tetap di rumah saja dan meninggalkan aktivitas. Padahal ini tidak mampu mencegah berlakunya qadha dan qadar. Sebagian mereka ada pula yang menyibukkan diri dengan maksiat-maksiat. Padahal ini justru memicu turunnya bala. Sedangkan yang dibawa (diperintah syariat) adalah tidak mencari sebab musababnya terkait bintang dan semisalnya akan tetapi justru menyibukkan diri dengan hal-hal yang dapat mencegah turunnya bala berupa dzikir, sedekah, penguatan tawakkal kepada Allah dan iman kepada qadha serta qadar”

Maka dengan demikian jelaslah sudah, bahwa apa yang dilakukan oleh mayoritas muslimin di Indonesia ini adalah termasuk ketaatan yang dianjurkan oleh syariat.

Masjid Maqbalul Amal, desa Rogonoto-Singosari, Malang, malam itu meriah akan gemuruh lantunan Quran dan Shalawat. Kali ini memang masjid tersebut digunakan sebagai lokasi acara Majelis Quran wal Maulid (MQM) yang diasuh oleh K.H. Basori Alwi yang juga pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ).

Acara ini merupakan kali keempat acara MQM diadakan. Malam-malam Sabtu sebelumnya acara tersebut dihelat di kompleks Yayasan Ilmu Al-Quran (YPIQ). Sebelumnya panitia sempat khawatir jamaah yang ikut tidak sebanyak ketika acara diselenggarakan di YPIQ, namun ternyata animo masyarakat tidak surut, bahkan meningkat. Tak kurang dari 500 jamaah yang hadir, baik laki-laki maupun perempuan. Dari jajaran keluarga ndalem sendiri yang hadir adalah K.H. Basori Alwi sendiri dan putra-cucu beliau, yakni Gus Faiz Basori, Gus Abdullah Murtadlo dan Gus Miqdad.

Seperti biasa, setelah isya’ acara dibuka dengan talqin Al-Fatihah dan Yasin. Acara ini dimaksudkan untuk mensyiarkan cara baca surat Yasin dengan tartil yang baik. Hal ini penting mengingat surat Yasin termasuk surat yang paling sering dibaca dalam berbagai acara.

Setelah talqin selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Habsyi yang dipimpin oleh munsyid senior PIQ, yakni Ust Nu’aim dari Surabaya, Ust Abdullah Faqothi dari Lawang dan Ust Yasin Wasiat asal Malang. Semua jamaah yang hadir turut larut dalam khidmat shalawat. Terlebih saat Mahallul Qiyam. Suara shalawat menggema ke mana-mana.

Setelah pembacaan Maulid Habsyi usai, acara dilanjutkan dengan pembacaan kitab Risalah Ahlusunnah wal Jamaah karya K.H. Hasyim Asyari. Kali ini pembacaan kitab disampaikan oleh Gus Abdullah Murtadlo. Pada bab ini beliau menyampaikan mengenai bab Bid’ah.

Di penghujung acara, Kyai Basori menutup acara dengan doa. Pukul 22.00 acara selesai. Para jamaah pulang dengan tertib.

Mari kita doakan agar Majelis Quran wal Maulid yang merupakan cita-cita Kyai Basori dapat berlangsung istiqomah. Amin.

Senyum bahagia dan kepuasan yang dialami oleh tim jurnalis PIQ, Insan Media Group, setelah berhasil meraih juara II dalam lomba Mading (Majalah Dinding) 3D dalam kompetisi kejurnalisan bertajuk “Commed 2018” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya.

Kegiatan yang bertajuk “The Word that I Know” sangat cocok dengan keadaan dunia saat ini, yang sering kita sebut jaman milenial.

Menurut penuturan tim Insan Media Grup, mereka mengikuti lomba ini bertujuan untuk mengukur kemampuan mereka dalam membuat mading 3D karena mereka lebih sering membuat mading 2D daripada mading 3D. Meski berkompetisi dengan SMA/K se-Malang Raya, mereka tetap optimis akan mendapat nomor juara.

Abi, salah satu anggota tim Insan Media Grup menuturkan, “Mading kami terinspirasi dalam sebuat quotes yang kami temukan di website pinterest.com, yang berbunyi ‘semua yang ada di dunia ini tersembunyi dalam buku’. Karena buku adalah gudang ilmu, dan dengan buku akan terjadi sebuah peradaban dunia. Maka cintailah buku agar kita lebih mengetahui segalanya. Karena buku juga terdiri dari 2 komponen yaitu penulis dan pembaca. Sehingga kami mangkat tema literasi.”

Setiap tim diberi waktu sebanyak 150 menit untuk menyelesaikan mading 3D mereka. Meski demikian, setiap tim diperbolehkan untuk mengerjakan sebagian madingnya di rumah masing-masing.

Dalam kompetisi ini terdapat 3 lomba kejurnalisan. Di antaranya, lomba mading tiga dimensi, jurnalis/reporter, dan fotografi jurnalis yang ketiganya dilaksanakan di Gedung C FISIP UB. Sehari sebelum lomba dimulai, para peserta mendapatkan diklat jurnalisme dan fotografi yang diadakan di Gedung B FISIP UB.

Sifat tercela adalah perbuatan yang tidak disenangi semua orang. Salah satunya contoh sifat tercela adalah mengejek. Mengejek tidak harus kepada manusia juga, bisa juga kepada hewan, tumbuhan bahkan kepada seluruh makhluk hidup. Hanya saja mereka tidak bisa menampakkan diir kalau sedang bersedih. Adapun mengejek makanan itu tidak diperbolehkan dalam islam, karena menyebabkan sakit hati seseorang yang memberi makanan tersebut. Begitu juga makanan itu sendiri, akan menangis sesb telah kita hina.

Seperti sabda Nabi SAW: Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu berkata : “Nabi SAW tidak pernah mencela makanan sediktpun. Jika beliau mau, beliau makan, dan jika tidak suka, beliau meninggalkan.” (HR. Al Bukhory : 5409, Muslim: 2064, dan Abu Dawud 3763. Berkata Asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih).

Perlu kalian ketahui makanan itu juga mempunyai perasaan. Semisal kita makan dengan porsi banyak namun kita tetap lapar, itu salah satu tanda kita makan namun makanan tersebut tidak mau mengggap kita kenyang. Adapun penyebabnya adalah karena kita tidak membaca doa sebelum makan. Berbeda halnya jika kita hendak makan dengan membaca doa, meski sedikit namun terasa kenyang, karena kita makan tidak diganggu oleh syatan dan membawa berkah.

Hendaknya kita memuji dan bersyukur atas nikmat Allah berupa makanan tersebut, karena dengan kita makan kita dapat lebih semangat dalam beribadah, mencari ilmu dan melakukan hal yang terpuji agar diridhoi oleh Allah SWT.

Pagi ini, 23 September 2018, Pesantren Ilmu Al-Quran mengirim beberapa santri sebagai delegasi dalam rangka turut memeriahkan acara “Gebyar Muharram 1440 H” yang diadakan oleh Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) wilayah Kecamatan Singosari dan sekitarnya di Masjid Hizbullah Singosari.

Adapun cabang yang dilombakan pada tahun ini terbagi menjadi 3 macam, antara lain:

  • Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) golongan anak-anak dan remaja.
  • Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) golongan anak-anak dan remaja.
  • Musabaqoh Khottil Qur’an (MKQ) untuk umum.

Sekalipun masih tingkat Kecamatan, seluruh peserta nampak bersungguh-sungguh ketika tampil di atas panggung. Tak terkecuali kafilah dari PIQ Singosari. Sebut saja M. Alif Amirullah namanya. Sudah seminggu yang lalu dia mempersiapkan matang-matang hafalannya untuk event yang cukup bergengsi di Kota Santri ini.

Kembali ke topik inti, PIQ sendiri telah mendelegasikan kurang lebih 20 santri sebagai partisipan yang tersebar rata di masing-masing cabang lomba.

Janganlah berharap menjadi yang terbaik, tapi cukup berikanlah yang terbaik.

Demikian motto salah satu peserta perwakilan PIQ ketika menutup perbincangan bersama penulis siang tadi.

Suasana hari ini (11/09/2018) berbeda dengan biasanya. Pasalnya ketika sholat Dzuhur berjamaah, sekali lagi Pesantren Ilmu al-Quran -bi idznillah- mendapat kunjungan spesial. Beliau adalah al-Habib Ali bin Abdullah al-Aiydrus, selaku imam masjid As-Segaff (salah satu masjid keramat di Tarim karena didirikan langsung oleh Al-Imam Abdurrahman As-Segaff). Selain itu, beliau juga menjadi salah satu diantara tiga orang di Tarim yang Ahli dalam Qiraah Asyroh. Hal itu bisa terbukti dengan adanya kitab Ilmu Qiraat dan beberapa kitab lain yang telah beliau susun.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, maka siang itu beliau diminta untuk menjadi Imam sholat Dzuhur, yang kemudian dilanjutkan dengan Mauidzoh Hasanah di hadapan seluruh santri PIQ Singosari. Berikut ini merupakan ringkasan dari Kalam nasehat beliau yang diterjemahkan langsung oleh Gus Abdullah Murtadlo:

ما اجتمع أربعون من أمتي إلا ومنهم ولي.
“Tidaklah berkumpul 40 orang dari umatku, kecuali di antara mereka ada seorang wali”

Belajar sekaligus menghafal Al-Qur’an adalah sebuah anugerah yang agung, maka haruslah disyukuri dalam bentuk bersungguh-sungguh ketika menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Karena, kedua hal itulah yang akan mendekatkan diri kalian kepada Allah serta Rasul-Nya.

Faedah bagi penghafal al-Quran yaitu bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga bagi orang tuanya ketika di akhirat kelak akan mendapatkan dua kemuliaan berupa mahkota dan pakaian yang nilainya tidak bisa diukur dengan harga bumi dan seisinya.

Sebagaimana dalam nadzom Asy-Syatibi: “Betapa bahagianya dan beruntung orang yang menghafalkan Al-Quran, karena ia akan memberi hadiah kepada orang tuanya di akhirat kelak.”

Kemudian bagaimana balasan untuk si penghafal itu sendiri? Kelak ketika di hari qiyamah ia akan diminta untuk membaca ayat yang dihafal sebagai penentu kedudukan nya di Surga.

Berkata Imam Abdullah Al-Haddad: “Tingkat yang ada di Surga sama dengan jumlah ayat Al-Qur’an.”

Berapakah jumlah ayat dalam Al-Qur’an? Ahli Kufah berkata 6.236 ayat, sedangkan ahli Basrah 6.205 ayat, menurut ahli Makkah ada 6.220 ayat, sedang Ahli Madinah berpendapat ada 6.214 ayat. Wallahu a’lam.

Yang perlu dicari zaman sekarang yaitu ilmu yang mampu membuat hati Nabi senang. Karenanya maka menuntut ilmu itu menjadi lebih baik dari sholat Sunnah 3.000 rakaat, menjenguk 3000 orang sakit dan mengantarkan 3000 jenazah.

Kelak di Mizan akan ditimbang tinta Ulama dan darah Syuhada dan ternyata lebih berat tinta Ulama.

Oleh karena itu, hendaknya kalian senantia menulis dan meringkas apa yang kalian dengar agar menjadi tinta yang ditimbang kelak di Mizan.

Kalian sekarang berada dalam usia emas dalam menuntut ilmu yaitu antara 5-23 tahun untuk menghafal dan belajar. Maka bersungguh-sungguh lah dalam memanfaatkan umur tersebut.

Karena Nabi saw. bersabda: e”Carilah 5 hal sebelum 5: masa muda sebelum tua, hidup sebelum mati, waktu senggang sebelum sibuk, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin.”

بقدر الكد تكتسب المعالي ومن كلب العلى سهر اليالي، ومن طلب العلى بغير كد فإنه طلب المحال.
“Hasil dari sebuah upaya sebanding lurus dengan kerja keras dalam menggapainya. Maka barang siapa yang ingin kemuliaan tanpa ada rintangan, sama dengan halnya ia mencari kemustahilan”

Dan penuntut ilmu serta penghafal Qur’an harus lah mengamalkan apa yang dipelajari, seperti: sholat di awal waktu dalam keadaan berjamaah seraya mendapatkan takbiratul ihram Imam dalam barisan pertama. Juga, dianggap sebuah cacat jika tidak menggunakan siwak yang menjadi ikon para pengikut Sunnah Nabi Saw. Karena dua rakaat dengan siwak lebih baik dari 70 rakaat tanpa siwak.

Selain itu, para santri juga harus senantiasa menjaga sholat Dhuha 2-8 rakaat di pagi hari, dan sholat witir 1-11 rakaat malam harinya, serta menjaga sholat² rawatib yang mengiringi sholat lima waktu.

Juga hendaknya memperhatikan 4 waktu penting setiap harinya, antara lain: 1. Sebelum Maghrib (untuk instrospeksi akan kesalahan hari itu seraya membaca istighfar), 2. Bainal isya’ain (bisa diisi dengan dzikir, membaca Alquran atau sholat sunnah yang pahala nya berupa dua istana yang di antara nya terdapat kebun luas sekira andai seluruh penduduk bumi mengitarinya pastilah akan lebih luas kebun tersebut), 3. Sepertiga malam terakhir (minimal dengan 2 rakaat seraya membaca Alquran), 4. Bada Shubuh sampai terbitnya matahari (ia akan dicatat sama seperti berhaji dan umroh secara sempurna).

Setelah itu, beliau beramah tamah dengan KH. M. Basori Alwi selaku Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran. Di tengah-tengah sejuknya pertemuan antara dua Ahli Qur’an ini, beliau mengajarkan bacaan Qiraat ‘Asyarah pada surat Al-Fatihah kepada Asatidz PIQ.

Hampir genap sepuluh tahun tepatnya pada tahun 2009 yang lalu, beliau As-Syaikh Dr. Muhammad bin Aly Ba’atiyah berkunjung ke Pesantren Ilmu Al-Quran Singosari dalam rangka safari dakwah perdana beliau di Indonesia. Sebagai rektor Universitas Imam Syafi’I Mukalla, Hadramaut, Yaman tentu kunjungan seperti ini bukanlah momentum biasa. Oleh karena itu, seluruh santri memanfaatkan kesempatan langka ini dengan menyimak langsung nasehat yang beliau sampaikan terkait akan pentingnya menuntut ilmu di zaman sekarang. Hal itu terbukti setelah berselang satu tahun, kurang lebih 15 santri PIQ yang melanjutkan studi ke Universitas yang diasuh beliau sampai detik ini.

Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, maka hari ini pada tanggal 13 Agustus 2018, sekali lagi PIQ mendapat kesempatan berharga sama dengan sepuluh tahun silam. Hanya saja, disebabkan padatnya jadwal safari dakwah beliau hari itu maka para santri tidak dapat bertatap muka bersama beliau secara langsung.

Setelah sholat Isya’, beliau bersama beberapa Ulama’ yang mendampingi langsung diarahkan ke Studio PIQ guna bertemu dengan Pengasuh PIQ yaitu KH. M. Basori Alwi.

Seusai berjabat tangan seraya bertegur sapa, beliau sempat menyampaikan beberapa nasehat kepada hadirin yang memadati tempat itu.

Di akhir pertemuan, beliau meminta kepada Kyai untuk mentashih bacaan surat Al-Fatihah sebagai syarat untuk mendapatkan sanad Al-Quran yang dimiliki oleh Kyai.

Doa penuh khidmat dan ta’dzim secara bergantian pun menjadi penutup perjumpaan dua Ulama berwibawa ini.

Singosari, 9 Juli 2018 – Setelah prosesi penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa yang beliau terima dari Universitas Negeri Malang usai siang itu, safari ilmiah pun berlanjut. Kali ini perjalanan bertolak ke arah Utara Kota Malang, tepatnya di Pesantren Ilmu Al-Quran Singosari.

Dengan didampingi oleh dua guru besar dari Timur Tengah juga beberapa dosen Sastra Arab dari UM, Dr. Abdullah bin Saleh bin Sulaiman Al-Washmi pun mulai memasuki Aula Utama dengan tabuhan rebana serta alunan shalawat yang menyambut akan kehadirannya.

Tak berselang lama, setelah bersalaman dengan KH. M. Basori Alwi (Pengasuh PIQ) dan beberapa putra beliau yang turut hadir saat itu, acara pun dimulai.

Dimulai dengan pembukaan surat Al-Fatihah oleh Pengasuh, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh salah seorang Asatidz.

Setelah itu merupakan acara Demo Publik Al-Quran, dimana ada empat santri perwakilan Program Tahfidz PIQ yang maju kemudian mendapat pertanyaan untuk melanjutkan ayat yang dibacakan langsung oleh Dr. Abdullah bin Saleh Al-Washmi. Ayat-ayat pun dibacakan dengan penuh khidmat dan khusyu’.

Sampailah pada acara utama, yaitu Kuliah Tamu yang disampaikan oleh Dr. Abdullah bin Saleh bin Sulaiman Al-Washmi yang notabenenya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pusat Raja Abdullah bin Abdulaziz dalam bidang Bahasa Arab tingkat Internasional dari Arab Saudi dengan alih bahasa oleh Al-Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc. dari Malang.

Seusai pemaparan ilmiah beliau terkait keutamaan membaca dan menghafal serta mengamalkan Al-Quran, acara pun dilanjutkan dengan pemberian Cinderamata istimewa untuk KH. M. Basori Alwi yang tergolong sebagai salah satu Ulama berpengaruh dalam penyebaran Bahasa Arab di Indonesia. Dalam momentum kala itu, beliau banyak menyanjung KH. M. Basori Alwi karena bukan hanya tingkat Regional saja, bahkan dari kalangan cendekiawan tingkat Mancanegara pun sudah banyak mendengar sepak terjang Kyai yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Al-Quran dan Bahasa Arab sampai detik ini. Beliau juga berpesan kepada seluruh santri untuk senantiasa mendoakan dan menghormati Kyai yang juga dikenal humoris ini.

Sungguh momentum langka ketika Sang Khodimul Quran bersanding dengan beliau Sang Penggigih Bahasa, laksana dua mata koin tak terpisah, saling melekat keduanya.