Ujian Seleksi Calon Santri Baru 2018 – Gelombang I
Home
Diumumkan kepada seluruh calon santri baru Pesantren Ilmu Al-Quran Singosari bahwa Ujian Seleksi Calon Santri Baru akan dilaksanakan sebagaimana berikut:
Tempat Aula PIQ Kampus II (Jl. Raya 123 Singosari, Malang)
Peserta ujian dengan nomor urut 001-150 (kwitansi pendaftaran nomor urut 03151-03300)
Materi ujian:
Baca Al-Quran
Bahasa Arab
Psikotes
Masing-masing peserta diharap membawa:
Alat tulis (pulpen, pensil, correction pen, penghapus, papan alas ujian) sendiri.
Kwitansi (untuk ditukarkan dengan kartu ujian)
Demikian pengumuman ujian seleksi calon santri baru PIQ untuk gelombang pertama. Adapun informasi mengenai gelombang berikutnya akan diumumkan menyusul.
Ketika kita membangun sebuah tempat sholat baru, baik itu berupa musholla di rumah ataupun masjid di kampung, maka kita harus menentukan arah kiblat. Di Indonesia, untuk menghadap ke arah Ka’bah di Masjidil Haram, tidak cukup sekadar menghadap ke barat. Dari Indonesia, untuk menghadap ke arah Ka’bah kita harus sedikit mengarah ke barat laut.
Ada beberapa cara untuk menentukan arah kiblat. Cara yang paling umum digunakan sejak lama adalah dengan memanfaatkan momen melintasnya matahari tepat di atas Ka’bah. Namun untuk menggunakan cara ini, kita harus menunggu momentum yang tidak pasti dan hanya terjadi beberapa kali dalam setahun. Cara lainnya adalah dengan menggunakan aplikasi berbasis kompas di smartphone kita. Namun, cara kedua ini seringkali tidak dapat dipastikan akurasinya.
Cara lainnya yang cukup mudah digunakan adalah dengan menggunakan toolGoogle Earth. Cukup dengan komputer/laptop dan akses internet, kita dapat menggunakan Google Earth untuk menarik garis dari Ka’bah ke tempat tinggal kita untuk mengetahui arah kiblat dari tempat tinggal kita.
Dalam tulisan kali ini, kami akan berbagi cara menggunakan Google Earth untuk mengetahui arah kiblat kita.
Di panel pencarian kiri atas, ketikkan “Makkah” lalu klik Telusuri.
Zoom-in dengan menggunakan mouse scroll hingga kita menemukan Masjidil Haram & Ka’bah.
Klik menu [Perangkat] → [Penggaris]
Klik pada gambar Ka’bah
Cari lokasi tempat kita di Google Earth
Kembali ke panel pencarian kiri atas, ketikkan nama tempat kita. Di sini saya cari “Pesantren Ilmu Al Quran”.
Zoom-in dengan menggunakan mouse scroll hingga menemukan tempat kita.
Klik pada gambar bangunan tempat kita.
Sampai di sini kita selesai menarik sebuah garis antara Ka’bah dengan tempat kita. Dengan melihat garis ini kita dapat menentukan arah kiblat dengan mudah saat kita akan melaksanakan sholat.
Gambar ini bisa kita simpan sehingga dapat digunakan sebagai referensi saat kita memperbaiki arah kiblat di tempat sholat, musholla atau masjid kita. Cara menyimpannya dengan klik tombol [Simpan Gambar] di toolbar bagian atas Google Earth.
Sekian, semoga bermanfaat. 🙂
Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) yang terletak di Singosari kabupaten Malang (± 10 km utara kota malang) merupakan lembaga pendidikan kepesantrenan semi salaf yang didirikan oleh KH. M. Basori Alwi Murtadlo pada tanggal 1 Mei 1978. Sesuai dengan namanya, PIQ mempunyai spesialisasi dan prioritas pembelajaran pada Al-Quran. Hal ini erat kaitannya dengan figur KH. M. Basori Alwi sebagai seorang intelektual Al-Quran yang notabenenya juga sebagai pendiri Jam’iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH), suatu lembaga yang banyak melahirkan cendekiawan Al-Quran di Indonesia. Hal itu juga tak lepas dari faktor demografi masyarakat Singosari yang rata-rata pesantrennya bernuansakan Al-Quran.
Sebagai pesantren yang lebih berkonsentrasi pada bidang Al-Quran, dengan metode pembelajarannya yang disebut dengan “Metode Jibril”, PIQ sering dijadikan objek comparative study dan juga tempat penelitian oleh kalangan pesantren, universitas, dan lembaga-lembaga kajian lainnya.
Namun, termasuk hal disayangkan dalam masa perkembangan yang cukup lama sekitar 40 tahun sejak berdirinya itu, ternyata PIQ masih belum mampu menelurkan embrio para penghafal Al-Quran layaknya pesantren di sekitarnya. Salah satu faktor keniscayaan itu adalah masih belum tersedianya wadah yang mampu memberi fasilitas pada santri penghafal Al-Quran dengan baik.
Hal itu terbukti pada era-90 an dalam sejarah PIQ, ternyata pernah didirikan komunitas “kecil” para penghafal Al-Quran. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Selang beberapa bulan, layaknya debu terhempas angin, komunitas itu pun hilang.
Masih dengan semangat yang sama, PIQ mencoba merealisasikan mimpinya. Setelah beberapa tahun berlalu, berdiri lagi sebuah perhimpunan santri penghafal Al-Quran. Kali ini masih bisa bertahan lama. Namun sebagaimana pendahulunya, perhimpunan ini juga berakhiran sama.
Mengingat masa lalu kian lama menjadi benalu membuat PIQ sedikit berputus asa. Hal itu membuat animo tersendiri bagi civitas academica PIQ Singosari, bahwa “menghafal Al-Quran di PIQ hanyalah sebuah keniscayaan”. Meskipun bukan demikian yang diharapkan.
Sampai pada akhirnya tepat delapan tahun yang lalu pada tahun 2010, entah kenapa tiba-tiba keinginan untuk mewujudkan cita-cita PIQ itu bersemi kembali. Dengan tekad bulat dan semangat yang lebih kuat dari sebelumnya, maka secara resmi berdirilah sebuah program khusus menghafal Al-Quran. Dengan hanya beranggotakan 5 santri, tentu bukan termasuk angka yang besar jika dibandingkan dengan jumlah santri yang mencapai ±300 santri saat itu.
Sempat terbesit sebuah keraguan, mungkin nasib program ini akan sama dengan “kakak tertua”nya. Namun siapa sangka, bahwa program inilah yang kelak menjadi cikal bakal embrio lahirnya santri penghafal Al-Quran PIQ di kemudian hari. Sama halnya dengan bayi yang baru lahir, maka sejatinya program ini masih dalam masa-masa pertumbuhan awal. Sehingga sangat perlu mendapatkan “asupan gizi” untuk membantu proses pertumbuhannya.
Sebagai penutup, dengan ucapan syukur kepada Allah Ta’ala sampai sekarang ada sekitar ±58 santri yang mengikuti program ini. Selain itu, untuk merealisasikan keinginan Bu Nyai Hj. Qomariyah, maka pagi ini dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim secara resmi KH. M. Basori Alwi memulai peletakan batu pertama Pesantren Tahfidz PIQ yang terletak di jalan Tumapel tepatnya di Zawiyah (tanah keluarga berdampingan dengan PP. Salafiyah).
Semoga mendapatkan kemudahan dan keberkahan, bermanfaat sampai akhir zaman. Aamiin.
Kyai Abdul Hamid
Suatu hari, Kyai Basori muda sedang tenang dalam perjalanan menuju pesanten Salafiyah asuhan K.H. Abdul Hamid, Pasuruan. Meskipun terlihat tenang, namun pikiran beliau gegap gempita. Pikirannya melayang menuju sepetak tanah di Singosari. Tanah itu rencananya akan beliau bangun pondok. Tanah itu tidak luas, hanya 300 meter persegi, namun cukup strategis karena terletak di pusat desa.
Tujuan keberangkatan Kiai Basori ke sana adalah untuk memohon barokah doa kepada Kiai Hamid, agar pesantren yang akan dibangun mendapatkan pondasi tak kasat mata yang kuat dari Kiai Hamid.
Sesampainya di sana, Kiai Hamid telah menunggu di bawah pohon mangga dekat ndalem beliau. Kiai Hamid yang memang terkenal kasyaf, tiba-tiba bertanya saat Kiai Bashori telah ada di hadapan beliau:
Pinten hektar pondoke, Ya Syaikh? (Berapa hektar pondoknya, wahai Syaikh?)
Saat itu Kiai Bashori terhenyak. Banyak keheranan bernada ketakjuban yang berkecamuk dalam pikiran beliau.
Dari mana Kiai Hamid tahu maksud kedatangannya?
Apa makna panggilan Syaikh dari beliau?
Mengapa beliau menanyakan berapa hektar? Padahal tanah yang tersedia tak sampai sekian luasnya?
Dengan tersipu Kiai Bashori menjawab, “Namung tigangatus meter, Kiai.”
Kiai Hamid lantas mengajak Kiai Bashori untuk berdoa bersama. Kiai Hamid memimpin doa:
Lantas Kiai Hamid masuk ke dalam ndalem beliau. Kiai Bashori muda menduga bahwa Kiai Hamid akan kembali keluar. Kiai Bashori lantas duduk di masjid dan menunggu.
Rupanya Kiai Hamid tak kunjung keluar. Salah seorang santri pondok lantas menghampiri Kiai Bashori dan memberitahu bahwa seperti itulah kebiasaan Kiai Hamid. Dan biasanya hal itu sudah cukup.
Dengan hati lega Kiai Bashori pulang dengan hati membuncah. Entah berapa banyak biaya yang akan dihabiskan untuk membangun pesantren. Entah darimana uang itu muncul. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan. Entah tantangan apa yang menghadang. Semua itu seakan menjadi batu kerikil kecil yang mudah diterjang dengan semangat dan doa yang dibekalkan oleh Kiai Hamid.
Dan…
Beberapa tahun kemudian…
Berdirilah PESANTREN ILMU AL-QURAN (PIQ) yang sekarang.
Pesantren dengan fokus pengajaran Al-Quran.
Pesantren yang tiap tahun harus menolak banyak santri karena kapasitas tempat yang terbatas.
Pesantren yang membuat sedih para pengurus saat Ramadhan tiba, karena melihat wajah sedih puluhan pendaftar kegiatan Ramadhan harus pulang dengan tangan kosong karena kuota memang sudah penuh (perlu diketahui, kuota Pesantern Ramadhan tahun 2017 langsung terpenuhi dalam jangka waktu kurang dari 1 jam).
Dan…
Kini, dalam setiap kesempatan. Kiai Bashori tak pernah bosan menceritakan mengenai kisah beliau yang meminta doa kepada Kiai Hamid.
Saat bercerita, rona bahagia, ketakjuban, keharuan, selalu terdengar jelas dalam tiap katanya.
Betapa doa yang dulu tak sanggup beliau pahami, sekarang penafsirannya terkuak dengan skenario menakjubkan dan penuh kejutan tak terduga.
Nyatanya,
Ribuan santri tlah beliau lahirkan dengan keilmuan yang mumpuni lantas dibawa pulang dan disebarkan di kampung halaman masing-masing.
Nyatanya,
Kitab tajwid susunan beliau tlah diajarkan di Amerika Serikat oleh seorang alumni.
Nyatanya,
Buku manasik haji karya beliau tlah digunakan banyak jamaah haji dalam usaha mereka meraih haji mabrur.
Nyatanya,
Sudah ada 2 ulama; Australia yang talaqqi Al-Quran dan mengambil sanad kepada beliau untuk diajarakan di disebarkan di negara asal (yang terbaru adalah Syeikh Wissam Sa’ad, seorang penyair dan pendakwah asal Australia yang juga kepala yayasan pendidikan islam dengan murid lebih dari 2000).
Nyatanya,
Bil Qolam (metode ajar baca Al-Quran untuk pemula ala PIQ) tlah dipakai di berbagai pelosok nusantara, bahkan hingga tembus ke Malaysia dan Thailand (dalam proses).
Inikah makna doa dari Kiai Hamid?
Rupanya “hektar” yang dimaksud adalah keberkahan ini…
Dan sekarang, siapa yang tak setuju jika gelar Syaikh disematkan pada Kiai Bashori Alwi?
Subhanallah,
Inilah realitanya..
Kita semua menjadi saksi akan adanya skenario maha indah gubahan Sang Maha Sutradara, Allah Subhanahu Wa ta’ala.
Kita semua menjadi saksi bahwa impian akan menjadi suatu niscaya jika ia tak lelah diraih.
Mari kita renungkan,
Ternyata di balik sebuah impian,
Selalu menyimpan kisah perjuangan berjilid-jilid,
Selalu tersemat hikmah tak terkalkulasi,
Selalu mengandung asa yang tak lelah dibarakan,
Selalu teruntai ribuan doa dalam ribuan sujud malam dan tengadahan tangan.
Yah, seperti kata orang,
Semua butuh waktu,
Semua butuh proses,
Semua butuh perjuangan,
Semua butuh harapan,
Semua butuh doa,
Namun…
Percayalah…
Semua kan indah pada waktunya.
Semoga kita semua diberikan berkah dari Kiai Hamid dan bisa belajar dari perjuangan Kiai Bashori Alwi.
Sudi kiranya, kau berikan sejenak waktumu untuk bertawassul pada beliau berdua..
Al-Fatihah..
Sebagaimana lazimnya, Haflah Akhir Sanah diadakan untuk menandai berakhirnya tahun pelajaran Madrasah Diniyah di pesantren. Hal yang patut disyukuri bahwa secara umum program belajar-mengajar dan bimbingan santri berjalan relatif lancar.
Lepas dari itu, berbagai keberhasilan yang mengembirakan dan prestasi membanggakan berhasil diraih santri selama rentang 1 tahun pelajaran ini. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari peran aktif dan dukungan baik moral ataupun material wali santri yang ikut berjalan bersama mengawal kami mengemban amanah membimbing dan mengarahkan santri sesuai yang kita cita-citakan bersama.
Haflah Akhir Sanah Tahun Pelajaran 2016-2017 ini mengusung acara inti berupa Dialog Aswaja dengan narasumber KH. M. Syafi’i Lubis, mengingat perlunya membentengi santri dan wali santri dari bahaya paham-paham yang menyimpang dari Ahlus Sunah wal Jamaah. Selain acara dialog, terdapat pula prosesi wisuda sebagaimana biasanya yakni Wisuda Kelulusan Madrasah Diniyah dan Wisuda Kelulusan Pembelajaran Al Quran.
Tahun Pelajaran 2016-2017 terdapat 33 santri yang berhasil menyelesaikan Pendidikan Madrasah Diniyah dan dinyatakan lulus, sedangkan jumlah santri yang berhasil lulus pada Ujian Final Al Quran dan menjadi wisudawan Al Quran berjumlah 58 santri.
Selasa, 21 November 2017, PIQ kedatangan tamu agung. Beliau adalah Prof. Dr. Abdullah Bin Muhammad Baharun, rektor besar Universitas Al-Ahqof Yaman. Dalam kunjungan beliau kali ini beliau memberikan mauidhoh yang sangat menohok berkenaan dengan realita santri di Indonesia. Berikut poin-poin yang dapat kami rangkum.
Santri di indonesia mayor di dalam jumlah namun minor dari segi harokah (pergerakan). Padahala di sisi lain musuh islam berupa gerakan pemikiran dan akrobasi politis sudah sangat lincah.
Interpretasi penulis: benar adanya yang disampaikan Habib Baharun. Indonesia dijubeli oleh pesantren dengan jumlah santri ribuan. Namun mayoritas santri seakan-akan melempem dalam implementasi ilmunya ke masyarakat. Nyatanya berapa perandingan santri yang telah nyaman duduk manis dalam kehidupannya dengan meresapi ilmu agama yang diperoleh untuk dipakai sendiri. Atau minimal untuk keluarga kecilnya. Kita tidak bisa berharap ideal bahwa seluruh masyarakat muslim akan mau mempelajari ilmu agama mendalam dan mengenal parasit pergerakan dan pemikiran dalam islam. Maka tugas kita sebagai santri adalah menjadi agent of change di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat.
Musuh islam telah bermanuver dengan strategi pemikiran dan pergerakan.
Interpretasi penulis: musuh islam (liberal, sekuler, aliran pemikiran sesat) telah begitu lihainya menebarkan prinsipnya. Dulu mungkin hal ini kentara namun musuh islam telah berinovasi dalam strategi sehingga membuat pergerakan mereka begitu halus. Santri mungkin takkan sulit menghindar berbekal ilmu yang didapat. Namun ingat kita punya masyarakat awam yang tentu tak semua melek akan hal ini.
Doa tanpa usaha adalah sia-sia.
Interpretasi penulis: banyak kaum muslim dan santri khususnya terlalu mengandalkan aspek batin berupa doa. Berapa banyak doa terlantun atau kita memohon doa kepada tokoh-tokoh yang kita yakini ke-barokahan dan ke-mustajabannya namun tidak diiringi usaha dhohir.
Jika ingin menilik teladan dalam hal ini mari kita berkaca pada sosok Rasulullah SAW. Tak ada umat muslim yang ragu bahwa beliau adalah sosok yang doanya takkan tertolak. Bahkan nama beliau dalam sajak shalawat kita jadikan andalan untuk menopang doa agar bisa sampai pada hadirat Allah. Tapi apakah Rasulullah hanya memangku tangan dan melipat kaki dalam berjuang menegakkan syiar islam untuk terus kemudian tenggelam dalam doa?
Tidak! Mari kita kaji bersama bagaimana Rasulullah yang tak pernah lelah bergerak dan berdakwah dengan usaha berdarah-darah hingga islam tegap kokoh seperti sekarang.
Maka sekali lagi, santri adalah The Agent of Change. Peran santri tidak main-main dalam membawa perubahan besar ke dalam masyarakat. Sekecil apapun peran kita, jangan pernah lengah dalam mengambil kesempatan. Kita adalah ksatria Allah dan Rasulullah.
Jika Soekarno mengatakan, “Berikan aku 10 pemuda maka aku akan bangun Indonesia.”, maka layaklah jika islam memiliki jargon serupa. “Berikan islam 10 santri, maka akan terbangunlah Indonesia yang islami.”
Akhir kata, ada 2 jenis pohon di dunia ini. Satu berdiri menjulang menantang angkasa. Dan yang satu tumbuh melebar dan hilang di tengah belantara hutan. Namun manakah yang bermanfaat bagi makhluk lainnya?
Yang menjulang angkuh hingga tampak di mata dunia atau yang melebar dengan sahaja untuk dapat dijadikan tempat bernaung makhluk lainnya?
Jika ada yang mengatakan mengapa kita tidak menjadi pohon yang menjulang dan rindang melebar?
Maka saya tantang dia untuk segera bergerak mewujudkan idealismenya.
Ingat kembali pesan Rasulullah:
Manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini PIQ kembali membuka program Santri Ramadhan (Sanram). Yakni program bagi santri non-reguler yang ingin mengaji Al-Quran selama 1 bulan penuh ala PIQ dengan ujian kepada Pengasuh, KHM. Basori Alwi, sebagai endingnya. Santri yang lulus akan mendapatkan ijazah dan sanad Alquran dari pengasuh.
Namun ada yang berbeda pada program Sanram tahun ini. Melihat tren animo masyarakat untuk mengikuti kegiatan Sanram yang terus meningkat tiap tahunnya, maka pengurus memutuskan untuk menerapkan tes seleksi masuk bagi calon santri. Hal ini bertujuan untuk menyaring calon santri terbaik untuk bisa belajar.
Sejak 1 Sya’ban pendaftaran telah dibuka. Total calon santri yang mendaftar adalah 290 orang. Panitia kemudian memberikan 3 opsi hari dan tanggal yang bisa dipilih santri untuk mengikuti tes. Santri yang berasal dari kawasan Jawa Timur harus datang ke pesantren untuk mengikuti tes secara langsung. Sedangkan yang berasal dari luar Jatim bisa melakukan ujian via video call.
Dari ujian masuk, calon peserta dengan hasil ujian peringkat 1-150 dinyatakan lulus dan berhak mengikuti kegiatan Sanram di kampus utama. Sedangkan peserta dengan urutan nilai 151-210 berhak mengikuti kegiatan Sanram di 2 pesantren cabang.
Sejak tanggal 25 Sya’ban seluruh peserta Sanram telah masuk dan kegiatan telah berjalan sebagaimana mestinya. 150 peserta sanram yang berada di kampus utama terbagi menjadi 6 kelas dengan klasifikasi kelas berdasarkan urutan nilai dan kemampuan. Sedangkan 60 santri di pesantren cabang dikumpulkan menjadi 1 kelas.
(Oleh KH. Luthfi Basori)
Allah SWT berfirman tentang kebersihan dan kesucian, yang artinya, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”(QS. At-Taubah: 108)
Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk membersihkan pakaiannya, sebagaimana dalam ayat yang artinya, “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 4)
Maksudnya, sucikanlah pakaianmu dari segala bentuk najis, karena kesucian pakaian, badan, dan tempat termasuk salah satu syarat sahnya shalat.
Bukan hanya di dalam shalat, maka kebersihan dan kesucian diri itu juga disunnahkan bagi setiap orang saat beraktifitas sehari-hari.
Dalam ajaran Islam ada dua kesucian yang harus dijaga, yaitu kesucian lahir dan kesucian batin. Kesucian lahir adalah menjaga diri dari hal-hal yang hukumnya najis secara dhahir, seperti menjaga pakaiannya dari terkena barang najis semisal darah, air kencing, tinja, air liur anjing dan sebagainya. Atau menjaga diri dari makanan dan minuman yang najis dan yang diharamkan, seperti mengkonsumsi daging babi, bangkai, arak, dan sebagainya.
Sedangkan menjaga diri dari sesuatu yang kotor, sekalipun tidak najis, adalah sangat dianjurkan dalam agama Islam. Najis dan kotor itu dua hal yang berbeda. Ada barang yang tampaknya bersih, tapi najis. Misalnya membuat roti namun dicampuri enzim babi. Sekalipun rotinya bersih secara dhahir, namun hukumnya adalah najis dan haram dimakan.
Ada juga sesuatu yang tampak kotor, namun hukumnya tetap suci. Misalnya jika ada orang memproduksi batu bata secara manual dari tanah liat yang suci dicampur air. Tentunya kaki dan tangan orang tersebut akan berlumuran lumpur yang tampak kotor, namun hukumnya tetap suci.
Adapun kewajiban yang lain adalah menjaga kesucian batin. Rasulullah SAW berabda, “Ketahuilah bahwa dalam badan seseorang ada segumpal darah, jika ia baik, maka akan baiklah seluruh jasadnya, namun jika buruk, maka seluruh jasadnya akan menjadi buruk, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sikap dan sifat hati seseorang itu menjadi penilaian bagi Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Sy. Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk lahiriah kamu dan harta kamu, tetapi Dia hanya melihat hati dan perbuatanmu.” (HR. Muslim).
Seseorang yang tampak beramal kebaikan dalam dunia kasat mata, maka belum tentu amal yang tampak secara dhahir itu akan mendapat pahala dari Allah SAW, bahkan adakalanya akan membawa petaka bagi dirinya, misalnya ada seseorang yang secara dhahir ikut menyumbang pembangunan masjid, namun ternyata ia berniat untuk kesombongan.
Seperti juga jika orang yang korupsi secara sembunyi-sembunyi, namun ia menampakkan kedermawanan ikut membangun masjid, maka amalnya itu justru akan menyengsarakan dirinya kelak di akhirat.
Di antara ajaran Islam adalah kewajiban menjaga kesucian diri dari penyakit dan kotoran hati seperti:
Takabbur itu artinya sombong dan merendahkan orang lain.
Riya’ yaitu memperlihatkan suatu amal shaleh kepada orang lain.
Ujub adalah sikap mengagumi diri sendiri, karena merasa lebih dari yang lain.
Sum’ah adalah membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi -kepada orang lain-, agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.
Hasud adalah merasa iri dengki pada kenikmatan dan kelebihan orang lain, hingga ingin menjatuhkannya.
Taqtir/kikir yang terlalu pelit, hingga tidak mau menyedekahkan hartanya bahkan termasuk zakat wajib.
Panjang angan-angan yang mengerahkan segenap tenaganya, waktunya, dan uangnya untuk mengejar keinginan-keinginannya, hingga melalaikan kewajiban ibadahnya bahkan berani menerjang terhadap hal-hal yang diharamkan oleh syariat.
Kyai Alwi adalah seorang pejuang. Bahkan rumah tempat tinggal Kyai Alwi (di Jl. Raya 94 Singosari) pernah menjadi markas Laskar HIZBULLAH yang terbentuk pada awal tahun 1945. Pemimpin tertingi Laskar Hizbullah saat itu adalah KH. Zainul Arifin.
Di barisan lain ada Kyai Masykur (Singosari) pada barisan tentara SABILILLAH. Kedua kyai ini saling mendukung dalam melawan penjajah juga dalam berdakwah. Pada waktu agresi Belanda masuk Singosari, banyak rumah penduduk yang dibakar Belanda, tetapi rumah Kyai Alwi aman karena dijaga oleh tentara Hizbullah.
Tahun 1946-1949 Belanda sedang ganas-ganasnya melakukan agresi militer. Situasi ini mengharuskan Kyai Alwi membawa keluarganya untuk mengungsi ke Kediri. Di kota tahu ini Kyai Alwi mendorong putranya agar memanfaatkan waktu untuk belajar di madrasah, pesantren dan kyai yang ada di kota Kediri, seperti Kyai Mahrus Aly dari Lirboyo. Sampai sekitar tahun 1949, sesudah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah RI, keluarga Kyai Alwi pun pulang ke Singosari.
Di arena politik, Kyai Alwi menjadi anggota Majelis Konstituante RI. Konstituante adalah lembaga yang ditugaskan untuk membentuk Undang Undang Dasar baru menggantikan UUDS tahun 1950. Kyai Alwi duduk sebagai anggota konstituante sebagai wakil NU Jawa Timur. Di dalam sidang-sidang konstituante tsb Kyai Alwi sangat aktif memberikan masukan dan pendapatnya, dan banyak yang digunakan oleh konstituante. (Kesaksian ini disampaikan oleh Kyai Jamaludin Makasar sekitar tahun 1998). Konstituante tsb dibentuk tahun 1955 berdasarkan hasil pemilu tahun 1955. Anggotanya ada 550 orang. Konstituante ini dibubarkan berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Keluarga Al-Quran
Kyai Alwi dikenal bersuara merdu. Beliau suka membaca Al-Qur’an dengan lagu yang indah. Bakat ini menurun dari Kyai Murtadlo (pen: atau lebih sering kami panggil dengan nama Buyut Murtadlo). Buyut Murtadlo memang dikenal mempunyai kelebihan suara yang indah dan keras. Sehingga sering terjadi saat Buyut Murtadlo tadarus al Qur’an di rumah di pagi hari, banyak orang yang mendengarkannya di luar rumah sampai Buyut Murtadlo selesai mengaji.
Kyai Alwi juga terkenal sebagai pemimpin terbangan (rebana), yang saat itu pemimpin terbangan dipanggil dengan istilah “Hadi”. Beliau terbangan bersama Kyai Amin dan kyai-kyai lain di Singosari. Saking suka dan getolnya di kelompok terbangan/sholawatan itu, sampai-sampai ketika kelahiran putra kedua beliau, yaitu Abdullah (AA Murtadlo), Kyai Alwi tidak ada di rumah karena memimpin terbangan. Kemudian sejak kejadian tersebut Kyai Alwi berhenti menjadi pemimpin terbangan.
Namun meskipun sudah tidak lagi menjadi pemimpin terbangan, kegemaran beliau terhadap sholawatan dan terbangan tetap ada dalam hati beliau. Hingga pernah pada suatu ketika, Kyai Alwi mengajak Mbah Ning Riwati bersama cucu (Anas Basori) untuk silaturahim ke rumah keponakan beliau (pen: Ibu Saudah) di Karangploso dengan naik delman. Ketika sampai di sekitar daerah Langlang, terdengar suara shalawat dan terbangan, maka seketika itu Kyai Alwi langsung minta turun dari dokar, dan Mbah Ning Riwati disuruh meneruskan perjalanan. Sementara Kyai Alwi mendatangi jamaah Shalawat tersebut.
Mendidik Sendiri Anak-anaknya Secara Langsung
Semua putra Kyai Alwi mengenal pertama kali huruf arab adalah diajari langsung oleh Kyai Alwi. Beliau ajarkan sendiri mulai mengenal huruf hijaiyah hingga benar-benar mampu membaca Al Qur’an. Sudah menjadi tradisi dalam keluarga besar Kyai Alwi, bahwa semua anaknya diajar langsung oleh Kyai Alwi. Jika mereka sudah mempunyai dasar-dasar yang kuat dalam membaca, barulah dilepas untuk mengaji kepada guru-guru yang lain.
Kyai Alwi memang seorang guru agama biasa. Majelis pengajiannya sangat sederhana. Muridnya pun tidak seberapa. Akan tetapi Kyai Alwi memiliki cita-cita yang mulia untuk masa depan anak-anaknya. Beliau titiskan darah seorang guru yg mukhlis kepada anak-anaknya. Sifat dan semangat itulah yang menggelora dalam hati KHM Basori Alwi dan menuntun beliau menjadi ulama besar.
Kyai Alwi adalah seorang pengajar yang bersahaja, sabar, santun, disiplin dan ceria. Beliau adalah orang yang suka guyon. Tutur katanya halus, pandai bergaul, selalu menghargai orang, jujur dan neriman, dan gemar membantu. Salah seorang tetangga (yang bernama Wak Timbul) mengatakan: Kyai Alwi itu orangnya kharismatik, jadi hampir semua warga Singosari itu sungkan kepada beliau dan menganggap Kyai Alwi itu seperti orangtua sendiri bagi warga Singosari, apalagi beliau itu dalam bermasyarakat, akrab sekali dg warga Singosari.
Meski darah bisnis mengalir kuat dalam diri Kyai Alwi, tetapi beliau justru mengarahkan anak-anaknya untuk lebih dekat dengan dunia ilmu. Demikian juga sang istri, yakni Mbah Ning Riwati (Afiati), kesehariannya lekat dengan perkumpulan pengajian. Mbah Ning Riwati adalah seorang ustadzah pada zamannya. Meskipun ilmunya tidak banyak, tetapi Mbah Ning Riwati telah mengajar pelajaran dasar dalam fiqih, seperti:
tatacara berwudlu
sholat, puasa, zakat dll
di setiap peringatan Maulid beliau yang membaca siroh (sejarah) Nabi dari kitab Nurul Yaqin.
Di Singosari, Mbah Ning Riwati terkenal dengan panggilan Wak Ning. Jamaah pengajiannya cukup banyak dari kalangan ibu-ibu muslimat NU, dan sangat menghormati Wak Ning.
Pernah beberapa tahun yang lalu, cucu Kyai Alwi (pen: Luthfi Basori) bermaksud memotong pohon kelapa di makam keluarga di Kadipaten, yg batangnya itu doyong dan menjorok ke makam keluarga. Setelah bertemu dengan pemiliknya, ternyata si ibu pemilik pohon tsb mengaku muridnya Wak Ning, dan mengatakan, “Alhamdulillah Gus kalau sampean bersedia memotongnya, karena kami sendiri takut kuwalat kepada Mbah panjenengan, jika kami sampai naik pohon kelapa tersebut. Tapi kalau ada cucunya Mbah Alwi yg mau memotongnya, ya monggo mawon. Apalagi saya ini muridnya Wak Ning!”, kata si ibu.
Mempunyai anak yang berilmu dijadikan pilihan dalam mendewasakan dan membekali putra putri Kyai Alwi dan Mbah Ning Riwati. Sehingga hasilnya:
Kyai Abdus Salam memiliki pesantren tahfidul qur’an di Bugul Kidul Pasuruan.
KHM. Basori Alwi mendirikan Pesantren Ilmu Al-Qur’an Singosari.
H. Abdullah Alwi Murtadlo menjadi Diplomat di luar negeri dan pernah menjabat sebagai Duta Besar di Iraq
H. Abdul Karim Alwi Murtadlo menjadi dosen senior di beberapa universitas di Jakarta.
Tidak Suka Memanjakan Anak
Kyai Alwi adalah seorang ayah yang disiplin dan tidak suka memanjakan putra putra beliau. Meskipun Kyai Alwi menjadi agen sepeda Batavus, tetapi ketika sang putra (KHM Basori Alwi) merengek minta dibelikan sepeda pancal, bukannya dituruti tetapi bahkan dimarahi. Kata Kyai Alwi: “Mad… aku bisa membelikanmu 10 sepeda untuk kamu pakai sepuas puasnya. Tapi aku khawatir, kalau kamu sepedaan terus, kamu tidak akan bisa belajar. Nanti kalau kamu sudah pandai, kamu akan bisa beli sendiri”.
Mad atau Muhammad adalah panggilan kesayangan Kyai Alwi untuk putra sulungnya (KHM Basori Alwi). Dan, kata-kata Kyai Alwi tersebut menjadi kenyataan saat ini. Sang putra bisa membeli sendiri kendaraan, mulai sepeda pancal, sepeda motor sampai mobil telah dimiliki oleh putra-putra Kyai Alwi.
Pernah Bercita-cita Mendirikan Pesantren
Nampaknya ada suatu cita-cita yang mulia dalam diri Kyai Alwi. Yakni mendirikan pesantren. Akan tetapi situasi dan kondisi saat itu barangkali yang tidak memungkinkan. Karena itu Kyai Alwi mendorong putranya untuk menjadi seorang ustadz. Beliau mengirim sang putra, yaitu KHM Basori Alwi, untuk mondok di beberapa pesantren. Mulai nyantri di Singosari, Bogor, Kediri, Gresik, Solo, Pasuruan (Sidogiri) dan lain-lain.
Setelah sang putra (KH. M. Basori Alwi) pulang dari mondok dan sudah ada di Singosari, maka sang putra didorong untuk mengajar beberapa orang di Singosari setiap hari Jumat. Saat itu yang diajarkan adalah kitab Bidayah Al Hidayah. Pada saat sang putra (KHM Basori Alwi) mengajar kitab itu, Kyai Alwi ikut hadir mengaji. Kehadiran Kyai Alwi dalam pengajian anaknya itu semata-mata untuk memberikan semangat kepada sang anak agar terus mengabdi dalam dunia mengajar. Hingga pada suatu pagi di hari Jumat, setelah pengajian Bidayah Al Hidayah, Kyai Alwi mengajak putranya untuk jalan-jalan di sekitar rumah. Ketika langkah mereka terhenti di pekarangan belakang rumah, Kyai Alwi mengatakan: Mad, omah iki lek mene dadekno pondok iki hebat, Mad”. (artinya: Mad, rumah ini jika suatu saat engkau jadikan pesantren, pasti hebat Mad)
Mendengar dawuh Kyai Alwi tsb, sang anak hanya terdiam seribu bahasa. Betapa tidak, keinginan sang ayah agar menjadikan lahan kosong tsb menjadi sebuah pesantren bukanlah perkara yang enteng. Tapi itu adalah sebuah amanat dari sang ayah. Ternyata setelah beberapa tahun sejak wafatnya Kyai Alwi, cita-cita beliau tsb terwujudkan dengan berdirinya Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) di rumah peninggalan Kyai Alwi. Bahkan di bekas pabrik penggilingan jagung dan beras milik Kyai Alwi pun sekarang menjadi kampus PIQ 2. Jumlah ustadz dan santri yang menetap di PIQ 1 dan PIQ 2 saat ini sekitar 550 orang. Sedangkan alumni PIQ jumlahnya sudah ribuan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Ketat Menjaga Syariat
Kedisiplinan Kyai Alwi dalam memegang ajaran syariat sudah sangat masyhur di kalangan keluarga. Saat itu tidak ada satupun orang perempuan di kalangan keluarga yang berani berpakaian yang tidak syar’i di hadapan Kyai Alwi.
Semua keluarga jauh dari luar kota, apabila silaturahim ke Kyai Alwi, pasti akan berhenti di masjid/musholah di luar Singosari untuk berganti pakaian yang lebih syar’i. Kepada cucu-cucu perempuan yang masih kecil pun Kyai Alwi tetap disiplin. Jika ada cucu perempuan yang menggunakan celana panjang, akan beliau marahi, beliau berkata: “aku luwe seneng koen nggawe rok cekak timbangane nggawe celono dowo. Koyok wong lanang” (arti: Saya lebih suka kamu pakai rok pendek, daripada kamu pakai celana panjang, karena seperti laki-laki).
Dicintai Waliyullah
Kyai Abdul Hamid Pasuruan, seorang Waliyullah, pernah berkata: “Di Singosari ada seorang Waliyullah yang tidak diketahui oleh orang banyak tentang kewaliannya. Beliau adalah Habib Zein Ba’abbud”.
Habib Zein Baabud ini adalah sahabat dekat Kyai Alwi. Habib Zein Baabud berwasiat kepada keluarganya: “Nanti kalau saya wafat, saya minta dikuburkan di dekat makam Kyai Alwi dan Kyai Murtadlo di pemakaman Kadipaten. Agar saya mendapat barokahnya”. (Begitu wasiat Habib Zein Baabud). Dan benar, ketika wafat Habib Zein Baabud dimakamkan di dekat pemakaman keluarga Kyai Alwi di Kadipaten, di sebelah timur makam keluarga Kyai Alwi.
Hobi & Kegemaran Lainnya
Kyai Alwi punya hobi berkebun dan beternak. Di belakang rumah beliau yang luas ditanami berbagai tumbuhan, seperti mangga, jambu, belimbing, sirsak, apel, pepaya, dan lain-lain.
Kyai Alwi juga senang memelihara ayam dan ikan. Bukan hanya itu, Kyai Alwi pernah memelihara SEMUT JEPANG, yang beliau letakkan di dalam toples yang diberi kapas. Belakangan baru diketahui, ternyata semut jepang itu berguna untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti:
kolesterol
jantung
diabetes
mengendalikan tekanan darah
menambah vitalitas
penyakit hati
penyakit asam urat
mengobati stroke
sebagai antioksidan dan lain sebagainya
(Oleh: Ahmad Faiz Basori)
Almukarrom KH. M. Basori Alwi (pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur’an/PIQ Singosari Malang) adalah putra KH. Alwi Murtadlo atau yang akrab dipanggil Kyai Alwi. Berikut ini biografi Kyai Alwi yang dibacakan oleh penulis dalam acara Haul Bani Murtadlo tanggal 22 Mei 2017 di Singosari Malang.
Silsilah
Kyai Alwi adalah putra Kyai Murtadlo. Kyai Murtadlo wafat dan dimakamkan di Singosari. Kyai Murtadlo adalah putra Kyai Abdur Rohim yang berasal dari daerah Burneh Bangkalan Madura dan wafat serta dimakamkan di Singosari.
Kyai Abdur Rohim adalah putra Syarif Alwi yang berjuluk Agus Matal. Beliau berasal dari daerah Angsokah, Omben, Sampang Madura. Syarif Alwi adalah putra Syarif Yusuf yang berjuluk Buyut/Bujuk Kadir yang berasal dari daerah Jrengik, Sampang Madura.
Syarif Yusuf adalah putra dari Syarif Hasan yang berjuluk Buyut/Bujuk Radin, dan berasal dari daerah Batonaong, Arosbaya, Bangkalan Madura. Syarif Hasan adalah putra dari Syarif Husein yang bergelar Adipati Omben atau Buyut/Bujuj Rokem, yang berasal dari daerah Rapa Laok, Omben, Sampang Madura.
Syarif Husein adalah putra dari Syarif Ibrahim yang dikenal juga sebagai Sunan Dalam, yang berasal dari Gresik Jatim. Syarif Ibrahim atau Sunan Dalam adalah putra pertama dari Assayyid Assyarif Maulana Muhammad Ainul Yaqin yang lebih dikenal dengan nama Sunan Giri, yang berasal dari dari Gresik Jatim.
Sunan Giri adalah salah satu dari Wali Songo. Beliau adalah putra dari Maulana Ishak, yang wafat di Pulau Besar Malaka Malaysia. Nasab dan sejarah tentang Sunan Giri dan Maulana Ishak ini bisa dibaca di berbagai sumber sejarah.
Orangtua dan Saudara
Kyai Alwi adalah putra dari Kyai Murtadlo atau kadang dipanggil dengan nama Kyai Murtolo. Di lingkungan keluarga, nama Kyai Murtadlo kadang juga ditulis dengan ejaan Kyai Murtadho. Kyai Murtadlo adalah putra dari Kyai Abdur Rohim, yang berasal dari Burneh, Bangkalan, Madura.
Kyai Murtadlo mempunyai 5 orang putra-putri:
Abdillah Murtadlo
Maslihah Murtadlo
Ahmad Murtadlo
Alwi Murtadlo
Abdul Manab Murtadlo
Mengenai asal usul keturunan Madura tersebut, ada kisah yang menarik (sebagaimana yang diceritakan oleh Ibu Saudah putri dari Nyai Maslihah Murtadlo):
Suatu saat ada rombongan tamu dari Madura yg akan minta tolong kepada Kyai Alwi. Singkat cerita, agar semakin akrab dengan tamu, saat itu Kyai Alwi mengaku kepada mereka, bahwa Kyai Alwi itu termasuk keturunan Adipati Omben (Syarif Husen).
Setelah mendengar pengakuan Kyai Alwi tsb, ternyata rombongan tersebut malah turun dari kursi dan duduk di lantai, bahkan saat pulang, mereka merangkak mundur hingga di luar pintu rumah Kyai Alwi. Belakangan baru diketahui bahwa pendahulu Kyai Alwi yang bernama Syarif Husein Adipati Omben, Sampang Madura tersebut adalah tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Dan beliau adalah cucu Sunan Giri.
Masa Muda
Kyai Alwi terkenal sebagai seorang yang sabar, santun, tenang dan supel. Orang-orang kampung memanggil beliau dengan panggilan WAK ALWI atau KANG ALWI. Sedangkan orang-orang cina Singosari memanggil beliau dengan nama MAN ALWI.
Masa muda Kyai Alwi dihabiskan untuk mondok di beberapa pesantren, di antaranya di pondok Bungkuk Singosari dan pesantren Panji di Sidoarjo. Pada saat itu masih masa penjajahan Belanda. Di pondok Bungkuk Singosari, Kyai Alwi langsung berguru kepada Mbah Thohir. Selain belajar ilmu agama dan ilmu thoriqoh, sebagaimana para santri dan kyai pada zaman penjajahan Belanda, Kyai Alwi juga mempunyai ilmu kekebalan anti senjata atau anti peluru.
Dari Batu Ampar dan Sumenep Madura, Kyai Alwi mempelajari ilmu SONGERAJE. Mengenai ilmu kesaktian Kyai Alwi ini sudah tersohor di kalangan kyai-kyai tanah Madura. Sedangkan dari tanah Jawa ada juga ilmu yang disebut Penganoman Otot Kawat Balung Wesi. Setelah selesai mondok, Kyai Alwi sempat merantau ke Surabaya dan bekerja sebagai penjahit.
Sebagaimana lazimnya kyai-kyai lain pada zaman penjajahan Belanda, Kyai Alwi punya semacam senjata pusaka. Diantara peninggalan Kyai Alwi yang masih ada sampai sekarang adalah sebilah pedang dan 2 (dua) bilah keris. Biasanya pedang tsb dipajang di tembok, dan kedua keris juga di pajang di tembok di kanan kiri pedang.
Menurut kisah dari beberapa sesepuh Bani Murtadlo, ketiga senjata ini punya keistimewaan. Diantaranya jika ada maling, maka ketiga senjata ini akan berbenturan sehingga menimbulkan bunyi yang akan membangunkan Kyai Alwi. Bapak Mustahal (Bani Nyai Maslihah Murtadlo) pernah bercerita bahwa kerisnya Kyai Alwi pernah dipinjam oleh sahabat beliau yakni Habib Zein Baabud Singosari, tapi ternyata keris tersebut pulang sendiri ke rumah Kyai Alwi. Seolah olah tidak mau keluar dari rumah Kyai Alwi.
Pernah juga ada kisah tentang kesaktian Kyai Alwi ini. Suatu saat ada peristiwa “bacokan/carok” di Singosari. Maka Kyai Alwi mengambil pedang beliau dan keluar rumah untuk mendatangi orang-orang yang bacokan tsb. Kemudian Kyai Alwi mengelinting tembakau hitam dengan kertas putih. Asapnya kemudian ditiup-tiupkan ke arah orang-orang yg berkumpul tsb. Sontak orang-orang yang akan bacokan bubar semua. Setelah itu Kyai Alwi pulang dan menggantungkan kembali pedangnya di tembok.
Kyai Alwi juga terkenal ahli menyembuhkan orang yang sakit gigi. Dan kalau sudah diobati Kyai Alwi maka insyaallah tidak akan kambuh lagi. Diantara buktinya adalah yang dialami oleh besan Kyai Alwi sendiri, yaitu Mbah Khofsah (ibu mertua dari Ayahanda KHM Basori Alwi), yang tidak pernah sakit gigi lagi setelah diobati Kyai Alwi.
Keluarga
Kakak Kyai Alwi yang bernama Kyai Abdillah Murtadlo (alm.) menikahi Mbah Ning Riwati (seorang wanita sholihah yang berasal dari desa Kedungcangkring, Sidoarjo. Suatu desa di pinggiran Sungai Porong Sidoarjo).
Dari pernikahan tersebut lahirlah beberapa anak, diantaranya Kyai Abdus Salam dan ibu Muthmainnah. Setelah wafatnya sang kakak, yakni Kyai Abdillah Murtadlo, maka Mbah Ning Riwati dinikahi oleh sang adik, yakni Kyai Alwi. Dalam komunitas santri ini dikenal dengan istilah “Turun Ranjang”.
Motivasi pernikahan ini adalah demi berlangsungnya masa depan dan pendidikan putra putri Kyai Abdillah Murtadlo. Dari pernikahan Kyai Alwi dengan Mbah Ning Riwati ini lahir beberapa putra:
KH. M. Basori Alwi
H. Abdullah Alwi Murtadlo
Anshor (wafat ketika kecil)
H. Abdul Karim Alwi Murtadlo.
Dengan demikian, putra putri dari Mbah Ning Riwati adalah:
Kyai Abdis Salam (Pasuruan)
Ibu Muthmainnah (Singosari)
KH. M. Basori Alwi (Singosari)
H. Abdullah Alwi Murtadlo (Jakarta)
Anshor (wafat masih kecil)
H. Abdul Karim Alwi Murtadlo (Jakarta)
Keenam putra putri tersebut diasuh semuanya oleh Kyai Alwi Murtadlo. Beliau juga mengasuh HM. Said Budairi (putra Ibu Muthmainnah yg wafat setelah beberapa bulan melahirkan). Said Budairi adalah cucu Mbah Ning Riwati tetapi juga anak susuan beliau (rodlo’ah). Menjelang wafatnya Mbah Ning Riwati, Kyai Alwi menikah lagi dengan seorang perempuan yang bernama Muthmainnah, yang dalam keluarga dipanggil dengan panggilan Mak Nyik. Dari pernikahan dengan Mak Nyik Muthmainnah itu Kyai Alwi tidak dikaruniai putra.
Cucu
Kyai Alwi memiliki 16 orang cucu. Dari KHM Basori Alwi diperoleh 11 orang cucu. Dari H. Abdullah Alwi Murtadlo diperoleh 3 orang cucu. Dan dari H. Abdul Karim Alwi Murtadlo beliau memiliki 2 orang cucu.
Kyai Alwi wafat setelah ke-16 cucu beliau lahir. Kyai Alwi wafat ketika putri terakhir KHM Basori Alwi (yakni Kholidah) sudah berusia sekitar 1 tahun, kira-kira pada akhir tahun 1973 atau awal 1974. Di akhir-akhir hayat Kyai Alwi, beliau masih sering menggendong Kholidah yang masih bayi. Sementara Mbah Ning Riwati wafat tahun 1965-an. Cucu kesayangan Kyai Alwi dan Mbah Ning Riwati adalah Farid Basori dan Anas Basori.
Pekerjaan
Setelah Kyai Alwi menetap kembali di Singosari selepas masa nyantri dan bekerja di Surabaya, dan sudah menikah, Kyai Alwi membantu meneruskan usaha dagang sang ayah, Kyai Murtadlo. Beliau berdagang rotan.
Pada sekitar tahun 1930an, saat itu perekonomian di pasar Singosari mulai menggeliat. Dokar berlalu lalang setiap hari. Suasana itu pun kemudian dimanfaatkan oleh Kyai Alwi. Rumah Kyai Alwi (Jl Raya 94 Singosari) yang ada di dekat pasar disulap menjadi Toko sepeda. Kyai Alwi menjadi agen sepeda Batavus. Meski sederhana, toko sepeda itu sangat kondang. Maklum belum ada pesaing.
Kyai Alwi juga pernah menjadi agen rokok Misuho dan Koa, menjadi agen minyak kelapa & minyak tanah, serta menjadi distributor sarung/jarit/pakaian di pasar singosari. Pada hari-hari tertentu (hari pasaran), Kyai Alwi menjajakan dagangan ke pasar-pasar lain di luar Singosari, seperti di daerah Karangploso dan Nongkojajar. Beliau naik dokar ke pasar-pasar tsb.
Kyai Alwi juga mempunyai toko peracangan yang cukup besar yang diberi nama TOKO AFIATI. Nama Afiati adalah nama baru Mbah Ning Riwati, yang diubah karena Mbah Ning Riwati menderita sakit yang cukup lama. Nama Afiati yang mempunyai arti KESEMBUHAN ini dipilih sebagai pengganti nama Mbah Ning Riwati. Kyai Alwi memang tergolong pedagang pribumi yang maju. Beliau sangat profesional dalam menjalankan bisnisnya.
Kyai Alwi memiliki sebuah perusahaan seleb/penggilingan jagung dan beras, dan beliau beri nama CV. Derajat. Pengelolaan CV. Derajat ini sangat profesional. Pembukuan/akuntansinya sangat rapi dan tersimpan rapi sampai hari ini. Bukan hanya rapi dalam pembukuan perusahaan, tetapi Kyai Alwi juga sangat rapi dalam memelihara dan menyimpan dokumen-dokumen dan kitab-kitab yang dimiliki. Semua kitab-kitab agama beliau tertulis di dalamnya nama ALWI MURTADLO
Kyai Alwi juga menggunakan teknologi dalam bisnisnya. Di CV Derajat tersebut sudah ada pesawat telpon, sesuatu teknologi yang jarang dimiliki oleh orang di Singosari saat itu. Dan CV Derajat itu adalah satu-satunya seleb padi dan jagung di Singosari yang berada di pinggir jalan raya. Pada saat bekerja di perusahaan beliau, Kyai Alwi selalu berpakaian rapi dan perlente. Sehingga dalam benak cucu-cucu beliau, Kyai Alwi seperti pegawai kantoran. Ini merupakan salah satu bentuk profesional Kyai Alwi dalam urusan bisnis.
Aset yang dimiliki Kyai Alwi pada saat itu termasuk banyak. Beliau punya rumah pribadi yang cukup luas di Jl. Raya 94 Singosari. Beliau juga punya gedung CV Derajat yg luas di Jl. Raya 98 Singosari. Ada lagi beberapa tanah sawah. Bahkan Warung Biru yang ada di Selatan rel kereta api Singosari itu dulu adalah tanahnya Kyai Alwi. Banyak aset Kyai Alwi yang diberikan untuk perjuangan NU dan Madrasah. Kyai Alwi tidak melulu mencari uang. Ada saat bekerja, ada saat beramal. Waktu luang beliau manfaatkan untuk berbagi ilmu. Hampir setiap hari, sebelum membuka toko, Kyai Alwi membuka pengajian di rumahnya. Beliau sendiri yang menjadi pengajar tetap. Setiap pengajian dihadiri oleh puluhan jamaah.
Ketika tentara Jepang memasuki tanah Jawa dan Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang, Kyai Alwi diangkat menjadi TONARIGUMI (Ketua RT). Kyai Alwi juga menjadi pengurus langgar di Jl. Kristalan. Beliau juga pernah menjabat Ketua Cabang NU Singosari (cikal bakalnya PCNU Kab. Malang). Sampai Kyai Alwi wafat, beliau tetap menjadi pengurus NU.
Diumumkan kepada seluruh calon santri baru Pesantren Ilmu Al-Quran Singosari bahwa Ujian Seleksi Calon Santri Baru akan dilaksanakan sebagaimana berikut: Hari Minggu tanggal 8 April 2018 Pukul 08.00 WIB – selesai (dimohon …
Ketika kita membangun sebuah tempat sholat baru, baik itu berupa musholla di rumah ataupun masjid di kampung, maka kita harus menentukan arah kiblat. Di Indonesia, untuk menghadap ke arah Ka’bah …
Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) yang terletak di Singosari kabupaten Malang (± 10 km utara kota malang) merupakan lembaga pendidikan kepesantrenan semi salaf yang didirikan oleh KH. M. Basori Alwi Murtadlo …
Suatu hari, Kyai Basori muda sedang tenang dalam perjalanan menuju pesanten Salafiyah asuhan K.H. Abdul Hamid, Pasuruan. Meskipun terlihat tenang, namun pikiran beliau gegap gempita. Pikirannya melayang menuju sepetak tanah …
Sebagaimana lazimnya, Haflah Akhir Sanah diadakan untuk menandai berakhirnya tahun pelajaran Madrasah Diniyah di pesantren. Hal yang patut disyukuri bahwa secara umum program belajar-mengajar dan bimbingan santri berjalan relatif lancar. …
Selasa, 21 November 2017, PIQ kedatangan tamu agung. Beliau adalah Prof. Dr. Abdullah Bin Muhammad Baharun, rektor besar Universitas Al-Ahqof Yaman. Dalam kunjungan beliau kali ini beliau memberikan mauidhoh yang sangat …
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini PIQ kembali membuka program Santri Ramadhan (Sanram). Yakni program bagi santri non-reguler yang ingin mengaji Al-Quran selama 1 bulan penuh ala PIQ dengan ujian …
(Oleh KH. Luthfi Basori) Allah SWT berfirman tentang kebersihan dan kesucian, yang artinya, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat …
(Oleh: Ahmad Faiz Basori) Artikel sebelumnya di Biografi KH. Alwi Murtadlo (1). Perjuangan Melawan Penjajah Kyai Alwi adalah seorang pejuang. Bahkan rumah tempat tinggal Kyai Alwi (di Jl. Raya 94 …
(Oleh: Ahmad Faiz Basori) Almukarrom KH. M. Basori Alwi (pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur’an/PIQ Singosari Malang) adalah putra KH. Alwi Murtadlo atau yang akrab dipanggil Kyai Alwi. Berikut ini biografi Kyai …
Komentar Terbaru